-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hari Pendidikan Nasional Selayang Pandang

Sabtu, 02 Mei 2020 | 11:52 WIB Last Updated 2020-05-02T04:52:01Z
Hari Pendidikan Nasional Selayang Pandang
Ilustrasi: duniadikdas

Oleh: Sil Joni*

Pemilihan sebuah Hari (Tanggal) sebagai peringatan peristiwa tertentu, pasti mempunyai kisahnya tersendiri. Demikian halnya tanggal 2 Mei yang dikenal luas sebagai Hari Pendidikan Nasional, tentu mempunyai riwayatnya sendiri. Penetapan itu sendiri umumnya mengacu pada tanggal lahir atau kejadian istimewa yang dialami oleh seorang tokoh atau oleh sekelompok orang.

Hari Pendidikan Nasional yang kita peringati hari ini, tidak terlepas dari kiprah sang tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantoro. Berikut ini adalah sekelumit peristiwa sejarah terkait dengan penetapan Hari itu dan hubungannya dengan sepak terjang sang tokoh dalam membidani lahirnya konsep dan praksis pendidikan bermutu di negara Indonesia.

Penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional terjadi pada era kepemimpinan Soekarno. Hal itu tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316/1959 tanggal 16 Desember 1959 tentang penetapan hari-hari nasional bersejarah bagi bangsa Indonesia. Salah satunya ditetapkan tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional. Namun, peringatan hari pendidikan nasional secara efektif baru dilaksanakan tahun 1967 setelah Soeharto menjabat Presiden RI.

Presiden Soeharto dengan tegas menyatakan dalam pidatonya, “... pada hari ini, tanggal 2 Mei 1967, kita merayakan hari pendidikan nasional, untuk menyatakan penghargaan kita terhadap perjuangan Ki Hadjar Dewantara sebagai Pahlawan Nasional yang telah memelopori suatu sistem pendidikan yang berdasarkan kepribadian dan kebudayaan nasional”.

Tentu saja, tanggal 2 Mei itu mengacu pada tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Momentum pidato presiden tersebut mengakhiri tarik ulur penetapan hari pendidikan nasional dari sejumlah kalangan. Pernyataan tegas presiden Soeharto telah membuktikan betapa besar penghargaan pemerintah terhadap Ki Hadjar Dewantara sebagai perintis dan peletak dasar sistem pendidikan nasional.

Perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam merintis pendidikan nasional diwujudkan dalam bentuk pendirian Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Mewujudkan sebuah lembaga nasional pada saat masih dalam cengkraman kekuasaan kolonial bukan saja tindakan sangat berani tetapi juga penuh resiko. Jangankan untuk mewujudkan, menggagas soal nasionalisme saja tidak banyak orang mau melakukannya.

Tetapi, rupanya hal itu tidak terjadi pada Ki Hadjar Dewantoro. Baginya, usaha mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia tidaklah cukup hanya melalui pergerakan politik. Karena itu, ia coba membuka saluran alternatif melalui pendidikan yang memerdekakan. Suatu bangsa dapat mencapai kemerdekaan apabila di dalam diri setiap anak bangsa itu tumbuh jiwa merdeka. Sebuah tesis yang terbukti kebenarannya di kemudian hari.

Manusia yang berjiwa merdeka adalah tujuan pendidikan dalam Taman Siswa itu. Kemerdekaan itu bersifat holistik baik fisik, mental maupun spiritual. Namun kemerdekaan personal ini mesti dibatasi dan disesuaikan dengan tertib kehidupan bersama yang tercermin dalam sikap-sikap seperti keselarasan, toleransi, kebersamaan, kekeluargaan, musyawarah, demokrasi, tanggung jawab serta disiplin. 

Maksud utama pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada aspek-aspek nasional. Taman siswa itu bergerak di atas landasan filosofis  nasionalistik dan universalistik. 

Sebetulnya,  jauh sebelum Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa,  sudah ada usaha mencerdaskan anak-anak bangsa melalui pendidikan. Para tokoh yang bisa disebutkan adalah RA Kartini, Wahidin Sudiro Husodo, Moch Syafei, KH Hasyim Ashari, KH Ahmad Dahlan, dan tokoh-tokoh pendidikan kristen, katolik dan pesantren.Tetapi yang membangun basis sistem nasional,  kemudian mewujudkan dan melaksanakannya, belum ada. (Moch Tauchid, 1968, Ki Hadjar Dewantara Pahlawan dan Pelopor Pendidikan Nasional).

Kita tahu bahwa kepeloporan Ki Hadjar Dewantaro dalam merintis pendidikan, tidak hanya terekspresi dalam gagasan. Ia berjuang dengan tetesan keringat di tengah 'tekanan kaum kolonial'. Ki Hadjar tak gentar menghadapi risiko dalam menempuh jalan baru melaksanakan gagasan pendidikan nasional itu. Saya kira, ini menjadi pesan bagi setiap tenaga pendidik dalam mencari makna dalam sejarah hari pendidikan nasional.

Makna Hari Pendidikan Nasional

Bukan unsur ritualisme-seremonial yang mau ditonjolkan ketika kita memperingati sebuah peristiwa penting dalam sejarah bangsa ini. Kita harus bisa menyadap makna dari peristiwa itu untuk kita saat ini. Dengan itu, penetapan tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional memiliki arti penting bagi pelaksanaan pendidikan kita di tanah air. 

Melalui hari pendidikan nasional, bangsa ini perlu mewarisi buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi. Inilah yang menjadi esensi makna hari pendidikan nasional yang setiap tahun diperingati.

Setiap individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri dan setiap orang harus hidup sederhana.

Semuanya itu, akan terwujud jika tampil lebih profesional, kreatif dan dedikatif. Guru sepatutnya  mengorbankan kepentingan pribadinya demi kebahagiaan peserta didiknya. Ia mesti memberi diri seutuhnya untuk 'perkembangan dan perubahan' anak didiknya.

Guru yang efektif adalah guru yang memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); kecakapan  administratif dan bersikap profesionalisme. Sikap-sikap profesional itu tampak dalam keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. 

Dalam kaitan dengan ini penting juga penampilan (performance) seorang guru profesional. Ia mesti memperhatikan unsur penampilan baik fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. 

Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.

Selain itu, ajaran Ki Hadjar Dewantara yang selalu dikenang dan menginspirasi setiap gerak dan langkah anak-anak bangsa yakni “tut wuri handayani” (di belakang memberi dorongan), “ing madya mangun karsa” (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), dan “ing ngarsa sung tulada” (di depan memberi teladan). Ketiga prinsip ini terus digemakan baik dalam dunia pendidikan maupun dalam lapangan kepemimpinan politik nasional. 

Itulah secuil catatan ringkas terkait sejarah dan makna hari pendidikan nasional. Singkatnya, kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian.

Bagaimana dengan praksis pendidikan kita dewasa ini? Apakah spirit tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara seperti proses kemanusiaan manusia, membentuk manusia yang berjiwa merdeka secara holistik, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab, sudah termanifestasi secara optimal?

Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum ideal untuk mengevaluasi dan merefleksikan seluruh dimensi konsep dan praksis pendidikan yang bertumpu pada idealisme yang digagas Ki Hadjar puluhan tahun lalu. Kita mesti mengembalikan dan menghidupkan 'roh pendidikan Taman Siswa' secara kreatif sebagai strategi antisipatif dan solutif terhadap pelbagai dinamika dan problematika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhirnya, selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional, meski tanpa disertai dengan upacara yang meriah baik di sekolah maupun di halaman kantor pemerintah. Corona tidak akan bisa menghambat pikiran kita untuk merenung dan menimba hikmah dari peringatan Hari Pendidikan ini. Saya kira, sebagai guru, kita perlu mendalami dan menerapkan nilai-nilai pendidikan yang ditaburkan Ki Hadjar Dewantoro dalam panti pendidikan di mana kita mengabdi. Salam pendidikan dan tetap jaga jarak secara fisik.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update