-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hidup Kita Hanya Sementara

Sabtu, 30 Mei 2020 | 14:08 WIB Last Updated 2020-05-30T13:24:23Z
Hidup Kita Hanya Sementara
Ilustrasi: google

SENIMAN (Setes Embun Iman Harian)
Kamis, 28 Mei 2020
Edisi: Stay At Seminary

Semalam aku tidur lebih awal, kurang lebih pukul 23.15 wib menit setelah lelah mengerjakan paper matakuliah Nostra Aetate. Saking tak tahan menahan kantuk aku segera beranjak ke kamar dan sejenak bermenung mengakhiri hari lalu terlelap dalam tidur. Berharap mimpi indah menemani istirahat malamku. Yang pasti aku tidak bermimpi yang ada aku menikmati malam indahku. 

Kuterbangun...... kulihat jam diding kamarku menujukkan pukul 04.30 wib. Aku duduk diam dan tenang mengucap syukur atas kebaikan Tuhan yang Ia anugerahkan kepadaku hari ini. Nafas kehidupan...ya nafas kehidupan baru sehingga memungkinkan aku melanjutkan hari yang baru ini. Sejenak kulihat lampu hand-phone berkedip-kedip. Aku penasaran, kubuka hp-ku dan kulihat tanda hijau dalam WhatApp. Kubuka kiriman pesan WA itu pelan-pelan. Dan di dalam pesan itu tertulis pesan singkat namun tak mudah bagiku untuk mengerti dan memahami. Pesan singkat WA itu tertulis demikian "MAS TER....TUHAN TELAH MENGAMBIL MALAIKAT KECILKU....TERIMA KASIH ATAS DOANYA". 

Seketika itu juga aku terdiam seribu bahasa. Seakan tak percaya. Dia yang baru kemarin lahir, hari ini dia harus kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Jujur, aku bisa merasakan apa yang dirasakan ibu dan ayah dari sang malaikat kecil mereka itu. Padahal baru kemarin mereka  merasakan kebahagiaan karena dianugerahi buah hati namun dengan begitu cepat hari ini TUHAN harus mengambilnya kembali. Tentu tidak mudah bagi mereka menerima dan menghadapi peristiwa yang sedang terjadi tetapi itulah rencana dan kehendak Tuhan yang terbaik atas dia (malaikat kecil yang rencana diberi nama REFAEL DEAN GADING). TUHAN yang memberi TUHAN pula yang mengambil. Itulah realitas hidup yang harus kita hadapi dan terima dengan penuh iman, harapan, dan kasih. 

Pagi ini, dalam doa-doa pribadiku dan dalam intensi Misa di Seminari, aku memanjatkan doa khusus kepada malaikat kecil Refael Dean Gading. Keyakinanku bahwa dia telah disambut  oleh TUHAN dan memperkenankannya memasuki Kerajaan-Nya yang abadi. Selamat jalan Refael....bahagia bersama Allah di surga. Doakan kedua orangtuamu ya....  Itu lah ungkapan rasa dan pengalamanku hari ini. Aku bersyukur boleh dipercaya menjadi sahabat, teman, saudara, dan pendoa baginya (mereka). Melalui pengalaman hari ini, aku, Anda, dan Kita disadarkan bahwa hidup dan mati adalah milik TUHAN. TUHAN menghendaki kita untuk memaknai kehidupan kita hari lepas hari. Tidak perlu cemas, bimbang, dan takut yang berlebihan. TUHAN menjadi pegangan dan jaminan satu-satunya kehidupan kita ke depan. 

Kita syukuri bahwa kita adalah pribadi-pribadi yang dikasihi TUHAN. TUHAN tanpa lelah, setiap hari mendoakan kita. Nama kita (pribadi lepas pribadi) selalu disebutkan dalam doa-doa-Nya "...Ya Bapa, Aku mau supaya di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, yakni mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan..." (Yoh.17:20-26).  Sungguh, ALLAH kita adalah KASIH. KASIH-NYA melampaui keterbatasan, kelemahan, dan dosa-dosa kita. ALLAH kita tidak menghendaki kita binasa melainkan hidup yang kekal. Sebab DIALAH JALAN, KEBENARAN dan HIDUP (Yoh.11:25).

Hari ini TUHAN YESUS mengajarkan dan memberikan teladan kepada kita untuk menjadi seorang pendoa "man for prayer-man for God". Pendoa tidak hanay untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain, semesta dan segalanya. Oleh karena itu SESIBUK apapun kita TUHAN memanggil dan menghendaki kita untuk 'diam dalam dan bersama-Nya. Mendengarkan suara-Nya ditengah hiruk pikuk dan penatnya dunia. BERANI MENARIK DIRI DARI KERAMAIAN, AKTIVITAS, dan KESIBUKAN HARIAN entah secara pribadi, bersama sebagai keluarga, komunitas itulah yang dikehendaki TUHAN atas diri KITA. Mari saling mendoakan, mengingatkan..meneguhkan sehingga kelak ketika TUHAN menjemput kita pada waktu yang tidak kita duga TUHAN mendapati kita TETAP SETIA. Pengalaman kepergian Refael Dean Gading memberikan penyadaran kita bahwa hidup kita itu ibarat pepatah jawa "gor mampir ngombe" (red: hanya sementara-singgah untuk minum). Namun juga meyakinkan kita akan "Manunggaling kawulo Gusti" (red: Kebersatuan manusia dengan Allah). Bersama pemazmur marilah kita berdoa "jagalah aku,  ya Tuhan, sebab pada-Mu aku berlindung" (Mzm. 16). 

Terima kasih Refael...meski hanya sejenak engkau bersama kami namun dirimu mengajarkan kepada kami arti dan makna bahwa HIDUP dan MATI adalah MILIK TUHAN. 

JANGAN TAKUT...PERCAYALAH KEPADA DIA
BERKAH DHALEM

Oleh: Fr. Ignasius Wahyudi Paweling (Calon imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta)
×
Berita Terbaru Update