-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jalan Panjang Menuju Imamat

Selasa, 05 Mei 2020 | 12:39 WIB Last Updated 2020-05-12T23:37:36Z
Jalan Panjang Menuju Imamat
Ft. Dewan Keuskupan Palangka Raya

Menjadi Imam Katolik (di Indonesia dikenal dengan sebutan Pastor, Pater, Romo) bukanlah sekadar sebuah profesi atau pekerjaan. Menjadi imam merupakan cara atau jalan hidup, the way of life. 
Memang menjadi imam dituntut profesionalisme di bidangnya, dalam arti mempelajari ilmu Filsafat-Teologi dan ilmu lainnya. Maka, proses pendidikannya cukup lama dan melewati berbagai ujian.
Setelah lulus SMP seorang bisa langsung masuk ke seminari menengah (setara dengan SMA) 4 tahun. Bagi yang tidak masuk ke seminari menengah, melanjutkan ke SMA umum, 3 tahun, setelah itu masuk ke tahun postulat atau Kelas Persiapan Atas (KPA) setahun. Dari postulat atau KPA, dilanjutkan ke jenjang Novisiat atau Tahun Orientasi Rohani (TOR), 1-2 tahun. Dari Novisiat atau TOR masuk ke seminari tinggi untuk kuliah Filsafat-Teologi, selama 4 tahun.

Lulus S1 Filsafat-Teologi, seorang calon imam (Frater) menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) atau semacam kuliah kerja nyata selama 1-2 tahun. Kemudian melanjutkan program imamat dan atau melanjutkan S2 (2-3 tahun), ditahbiskan menjadi Diakon dan menjalankan praktek diakonat (1-2 tahun). Dari Diakon, barulah ditahbiskan menjadi imam. Bahkan setelah jadi imam mengikuti pendidikan lanjutan entah formal (studi spesialisasi disiplin ilmu tertentu) maupun informal (khursus-khursus).

Dari lamanya masa pendidikan, seorang mempelajari ilmu agar menjadi ‘professional’ sebagai imam. Tetapi ilmu atau pengetahuan saja tidak cukup untuk menjadi seorang imam Katolik.
Seorang imam harus melewati proses pengembangan dan evaluasi untuk semakin mengenal diri dan kehendak Tuhan. Proses ini dimaksudkan untuk meyakinkan diri bahwa menjadi imam adalah panggilan Tuhan dan pilihan sadar bebas demi kemuliaan Tuhan dan kebahagiaan sesama. Cara hidup yang dijalankan adalah melulu demi Tuhan dan Gereja, bukan lagi untuk diri sendiri atau keluarga.

Cara dan jalan hidup sebagai imam kadang sulit dipahami dari sudut pandang duniawi karena unik. Keunikan itu adalah harus hidup miskin, murni dan taat. Imam religius menghidupi tiga nasihat injili (kaul) yakni kaul; kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Imam diosesan atau Praja, Presbyter, memang tidak berkaul tetapi berjanji untuk taat kepada Uskup dan setia pada hidup selibat demi Kerajaan Allah.

Hidup miskin berarti melepaskan hak untuk memiliki harta benda dan tidak berorientasi pada kekayaan duniawi. Imam hidup seperti Yesus: bersikap lepas-bebas terhadap harta benda. Sikap lepas bebas terlihat dari gaya hidup sederhana dan penyerahan diri demi karya pelayanan. Seorang imam bersedia hidup miskin dalam arti bersedia melepas secara sukarela hak untuk memiliki harta benda.
Hidup murni berarti melepaskan hak-haknya untuk menikah demi Kerajaan Allah (selibat). Imam mengikuti dan meneladani Kristus yang tidak menikah demi mewartakan injil. Inti kaul kemurnian bukanlah sekadar “tidak kawin”, melainkan penyerahan diri secara menyeluruh kepada Kristus.
Dengan tidak menikah, imam menjadi milik semua orang. Imam tidak terikat dengan keluarga dan lebih bebas menyerahkan diri kepada Tuhan demi Kerajaan Allah.

Hidup taat berarti melaksanakan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Ketaatan itu diwujudkan lewat pimpinan (provinsial, Uskup dan penggantinya). Imam menjalankan misi Gereja, bukan misi pribadi. Ketaatan juga misalnya, harus pindah tugas dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain. Imam taat kepada atasannya seperti Kristus taat kepada Bapa-Nya demi Kerajaan Allah.
Cara hidup imam memang unik. Mungkin ada yang merasa aneh dan tidak masuk di akal, tetapi di situlah letak misteri ilahi.

RP. Joseph Pati Mudaj, MSF
×
Berita Terbaru Update