-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kejujuran dan Ketaatan Menyelamatkan NTT

Jumat, 01 Mei 2020 | 20:12 WIB Last Updated 2020-05-01T13:17:35Z
Kejujuran dan Ketaatan Menyelamatkan NTT
Ilustrasi:kompas

Baru seminggu yang lalu ada angin segar menyelimuti wilayah NTT ketika satu pasien covid yang dirawat di rumah sakit Prof. W.Z. Johannes Kupang dinyatakan sembuh.

Namun hari ini berita terbaru mengejutkan kita semua, termasuk kami yang berada di negeri orang. Ketika membaca berita bahwa sembilan (9) orang NTT dinyatakan positif covid 2019. Saya bersama salah seorang teman imam yang sedang studi di Pilipina saling bertukar pikiran, yang muncul adalah kekuatiran terhadap keluarga kami dan juga bagi masyarakat NTT.

Ya kekuatiran itu normal mengingat fasilitas kesehatan terutama APD yang sangat terbatas dengan situasi geografis yang juga sangat berjauhan terutama antara puskesmas dengan rumah sakit yang menjadi rujukan.

Pikiran saya langsung tertuju pada bebera wilayah di NTT yang harus membutuhkan sekian jam perjalanan untuk bisa tiba di rumah sakit. Bahkan ada daerah yang setelah menempuh perjalanan darat harus menempuh perjalanan laut di tengah terpaan ombak dan gelombang.

Sedangkan fasilitas APD bagi petugas kesehatan di puskesmas hanya masker dan sarung tangan. Dan mungkin hanya satu atau dua bagi petugas kesehatan di rumah sakit yang menjadi rujukan.

Ketika di daerah lain di luar NTT sudah terpapar covid 2019, NTT sepertinya dininabobokan oleh mental menganggap remeh dengan covid 2019. Ada yang merasa bahwa dengan sophi minuman keras kas NTT bisa membunuh corona. Ada yang merasa diri bahwa kematian karena ada kesalahan. Dan yang paling tragis adalah mental “kepala batu” yang tetap memaksa diri untuk pulang kampung.

Di sisi lain koordinasi antara pemprov dan pemkab tidak berjalan dengan baik. Bahkan dengan entengnya yang dianggap sebagai candaan bahwa corona itu flu biasa, yang ditakutkan di NTT adalah kelaparan dan DBD. Bahkan ungkapan yang meremehkan corona yang kemudian dianggap sebagai joke itu justru keluar dari orang nomor dua di NTT.

Bahkan ada juga masih merasa bahwa kekuatan hidup religius justru menjadi senjata mengalahkan corona. Sehingga ketika keuskupan Larantuka mengambil keputusan tegas atas nama keselamatan bersama dengan membatalkan proses religius Semana Santa banyak yang protes dan merasa kecewa. Banyak yang mengatakan bahwa masa orang beragama takut dengan corona. Corona bisa tertawa karena iman kita justru lemah di hadapannya.

Ketika hari ini sembilan orang dinyatakan positif, apakah kita masih menganggap remeh covid 2019 dengan segala alasan bahwa kita memiliki kekuatan bersama sophi dan pepatah leluhur? Apakah ada manfaatnya di balik kepala batunya kita yang tidak mempedulikan keselamatan sesama, keluarga dan tetangga? Apakah kemudian kesalehan yang dipertontonkan tanpa AKAL SEHAT masih bisa menjadi bahasa panutan yang diteladani?

Pada akhirnya kita semua disadarkan bahwa AKAL SEHAT sangat dibutuhkan dalam kehidupan bersama maupun kehidupan beragama dan beriman. Akal sehat pada akhirnya menjadi bagian penting dari kerendahan hati dan ketaatan menaklukan keegoisan dan kebekuan hati untuk kebaikan bersama.

Harapan dan kegembiraan menjadi pewartaan kita bersama. Namun bukan berarti menjadikan covid 2019 sebagai lelucon untuk tidak perlu takut padanya. Mewartakan harapan dan kegembiraan dibutuhkan akal sehat untuk meneguhkan dan menguatkan sesama.

Hanya dengan akal sehat seluruh masyarakat NTT yang bermuara pada kejujuran dan ketaatan menjadi jalan memutus penyebaran wabah covid 2019 di wilayah NTT yang sekaligus menyelamatkan seluruh warga NTT dan bangsa Indonesia.

Karena jika tidak, ketika di daerah lain sudah berhasil mengatasi covid 2019, NTT masih disibukan dengan ODP, PDP dan pasien posifit covid 2019. Dan ini juga menjadi kekuatiran bersama. Covid 2019 bukanlah aib. Maka jujur untuk mengatakan yang sebenarnya. Jujur untuk menceriterakan riwayat perjalanan dan juga jujur untuk mengungkapkan sakit yang dirasakan.

Kejujuran hanya akan menjadi jalan keselamatan bagi warga NTT ketika di sana ada ketaatan yang menjadi tali pengikat keegoisan untuk tidak mudik, tidak pulang kampung, menggunakan masker dan rajin mencuci tangan. Maka di sini tugas dan tanggungjawab bagi pemerintah setempat untuk ikut memikirkan warganya di daerah lain, berkoordinasi dengan pemerintah daerah lain untuk membantu kehidupan masyarakat NTT yang berada di propinsi lain di Indonesia.

Termasuk ketegasan pemda dan pemprov untuk menghentikan sementara transportasi darat, laut dan udara di NTT. Jangan sampai ada “main mata” yang membuka peluang beroperasinya transportasi darat, laut dan udara. Karena kita bermain mata, covid yang mengambil keuntungan.

NTT hebat. Dalam kejujuran dan ketaatan kita bisa.

Manila: 30 April-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update