-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Malam dan di Ujung Tangan Dia (Pater Tarsy Asmat, MSF)

Jumat, 29 Mei 2020 | 21:52 WIB Last Updated 2020-05-29T14:52:35Z
Malam dan di Ujung Tangan Dia  (Pater Tarsy Asmat, MSF)
Malam dan di Ujung Tangan Dia  (Pater Tarsy Asmat, MSF)

Oleh: P.ater Tarsy Asmat, MSF

Selain bertani selama masa covid 19, saya juga selalu melayani Panggilan malam. The Night Calling sering kali saya alami.  Sebuah panggilan penting dalam tugas sebagai seorang imam yaitu bertemu dan melihat saat-saat terakhir kehidupan seseorang dan mengurapi mereka dengan Minyak Suci. 
Percikan refleksi ini tumbuh bersama kehidupan baru pucuk ubi,  sayur-sayuran dan kucing liar yang berlaku jinak di pastoran belakangan ini.  Rangkaian peristiwa ini,  seakan memberikan optimisme kehidupan. Optimisme karena seorang disana yang aku yakini,  yang merasakan penderitaan manusia dan kepadaNyalah tujuan kehidupan ini. 

Tak kuhitung berapa kali saya menerima permintaan minyak suci selama masa Covid 19 ini.  Tetapi peristiwa menakjubkan selalu terekam dalam batin tentang hidup setelah kehidupan di dunia ini. "Oh hidup itu penting dan kau membutuhkan doa sebagai bekal hidupmu", saya lebih cepat mengatakannya,  begitu. 

Kesempatan dan waktu yang istimewa bagi saya adalah bersama dengan mereka yang diambang batas dan semua cara manusia sudah selesai menahan kehidupan yang selalu kita rayakan dengan berbagai ritme dan teaternya. 

Dalam hati kecil,  ketika saya selesai memberi pengurapan,  kubisikan doa singkat,  selamat jalan dengan tenang ke rumah Bapa, Dia mencintaimu.  Pintu ruang UGD saya tutup dan pergi,  kemudian di WA saya terdapat pesan,  dia telah pergi dengan tenang. Bahkan saya mengalami setelah saya selesai mengoles minyak suci di tangannya, belum berkat penutup,  dia langsung pergi dengan tenang.  

Tetapi suatu kali,  saya mengalami peristiwa yang lain.  Saya mengira orang yang menerima sakramen perminyakan suci itu pasti kembali ke rumah Bapa tetapi dua minggu kemudian dia menghadiri perayaan Ekaristi dan bersalaman dengan saya.  Terimakasih Pastor, katanya. 
Saya kaget,  dan menimpali beliau,  "lah terimakasih untuk apa pak? " "oh pastor yang memberi saya sakramen perminyak di rumah sakit dan saya hidup lagi pastor!" Katanya dengan penuh syukur.  Kami tertawa.  

Malam kemarin saya melayani "The Night Calling" lagi.  Seorang ibu renta berusia 94 tahun. Di kamarnya sederhana,  ada patung Bunda Maria,  Rosario di samping kanannya.  Ibu itu sangat rajin berdoa.  Rupanya ia menunggu minyak pengurapan. Dalam iman Katolik,  itulah sakramen orang sakit, yang sakral dan sakti bekal dan obat bagi mereka yang menderita berat dan bergulat dengan maut. 

Tadi pagi di WA, saya menerima ibu itu telah pergi dengan tenang.  Selamat jalan untuk beliau.  
Kepergian mereka di masa Covid 19 terasa lain.  Pastor,  suster dan umat yang meninggal selama covid 19 ini, pergi tanpa perayaan.  Mungkin memberi pesan bahwa kehidupan itu sebenarnya sederhana,  dan berakhir dengan sunyi dan sepi.  Saya merasakan pergulatan keluarga dan Gereja sendiri, bahkan membuat saya kurang bisa pejam mata ketika tidak mempersembahkan misa untuk mereka. 

Tetapi pelajaran lain barangkali menunggu,  mungkin Dia di atas sedang mengatur tata kehidupan ini,  sebab kita hanyalah ciptaan dan tidak punya kuasa untuk mengatur tata letak taman eden.  Keserakahan dan ambisi kita sajalah yang mencoba memegang kendali tatatanan "taman eden". Tetapi yang terjadi adalah kerusakan tatanan.  Terjadi krisis ekosistem dan sistem kehidupan manusia sendiri. 

Ya kita menunggu biar semuanya biasa atau ada sebuah pola yang harus dipaksakan untuk kita lakukan seperti kata-kata yang terlontar akhir ini,  new normal. Cara hidup yang baru!  Haha. 
Dari peristiwa-peristiwa kehidupan tersebut,  ada sebuah rahasia kehidupan. Rahasia iman. Saya menangkapnya,  begitu. Semasa hidup kita barangkali kritis dan protes dengan hal-hal yang tak sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Tetapi bila diambang batas kehidupan engkau hanya membutuhkan suatu ketenangan.  Saya merasakan ketenangan kepergian orang-orang di saat terakhir hidupnya. 

Berdoa adalah hal yang terbaik ketika seseorang mengalami masalah,  ketika hidup di ambang batas.  Begitu juga semasa covid 19 ini,  kita perlu meluangkan waktu dalam rongga terdalam kehidupan untuk berpasrah dari pada mengisi semua ruang kehidupan dengan ketakutan-ketakutan. 

Pengalaman bersama orang diambang batas kehidupan tidak untuk menakutkan tetapi menceritakan bahwa peristiwa kehidupan saat ini adalah rahasia atau misteri yang ada ujungnya. Kita sendiri tidak tahu, karena hidup ini bukan milik kita tetapi seorang menantimu yaitu Your Father. 

#inspirasi selama covid 19#
×
Berita Terbaru Update