-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Natalia, Air Mata Sesal (Cerpen Rian Tap)

Sabtu, 23 Mei 2020 | 14:51 WIB Last Updated 2020-05-23T07:53:10Z
Natalia, Air Mata Sesal (Cerpen Rian Tap)
Ilustrasi dari google

Oleh: Rian Tap

Jikalau cinta yang salah, apakah solusinya adalah perpisahan. Kami hanyalah pertengkaran biasa beradu fisik dan mulut, solusinya adalah berdiskusi. Hampir setiap hari suasana keluarga kecilku adalah neraka yang paling jehanam. Natalia adalah istriku yang amat agresif nan sensitif dengan segala hal kecil yang terjadi dalam rumah tangga. Mulai dari dapur sampai kamar tidur. Aku mengenal natalia lima tahun yang lalu, disaat kami masih menjadi mahasiswa belia di salah satu Universitas ternama. Dua tahun merupakan waktu yang paling singkat aku mengenalnya. Akan tetapi dua tahun itu juga aku jatuh cinta padanya. Aku sangat menyadari terlalu cepat mengungkapkan rasa cintaku padanya. Akhirnya kami berpacaran.

Melumat rupa pada biarahi tanda awal dari kehancuran diri dan masa depan kami. Setiap malam. Tak ada momen yang kami lewat sendiri, selalu ada berdua. menyusuri pantai, hilir mudik ke kaffe, diskotik dan menonton biokop. Kos-an adalah tempat paling nyaman dan sakral di saat geminang untuk beradu cumbu.


Relasi kami menjadi buah bibir di kalang mahasiswa. Mungkin kami terlalu menghayati kisah cinta pada cerita Romeo dan Juliet ataukah kisah cinta pada FTV. Entahlah. Pertemuan rakat pernah membahas kisah percintaan kami. Ada yang senang dan menyukainya ada pula yang merasa jijik dan mencibirnya. Aku dan Natalia tidak pernah mempedulikannya. intinya  kami bahagia. Meskipun kami tahu itu salah.

Tibalah di suatu senja, Natalia memberikan kabar kepadaku bahwa ia telat datang bulan. Aku pun tidak memberikan respon penuh atas pesan darinya. Aku berpikir mungkin itu di pengaruhi oleh aktivitas hormon pada tubuhnya.

Natalia memberikan kabar yang kedua kalinya. Aku hamil kak. Pesan singkat dari messanger. Pesan ini cukup mencekik leherku. Tak ada suara. Aku hanya mampu meneteskan air mata. Ingin sekali aku membantingkan handphone-ku.

Kuliah tinggal ujian skripsi. Ahhhh..!, aku terlalu bodoh. Permainan-permainan akrobatik menjajal setiap inci tubuhnya, kini menuaikan hasil yang tidak pernah aku inginkan. Andai saja aku menyetujui permintaannya untuk memakai kondom, ini tidak akan terjadi. Cerita ini kian tersebar sampai ke kampung halaman. Pesan singkat dari kedua orang tua, kalau kuliah tidak jelas, segera pulang. Mengemas barang sembari mengemas segala kenang pada kisah perkuliahan membuat air mataku mengalir membasahi surat pengunduran diriku dari kampus.

Setelah menyelsaikan urusan adat dengan belis yang sangat mahal. Kami beradu janji di depan alatar Tuhan disaksikan oleh ratusan pasang mata. Aku, Natalia dan calon anakku berjanji di bawah salib suci untuk saling menghasihi dalam untung dan malang. Kami telah sah menjadi suami-istri. 

Setelah 2 tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Natalia  yang dulunya baik dan  penyayang  kini menjadi wanita yang galak dan keras kepala. Caci-maki adalah sarapan rutinitasku bersama kopi dan rokok setiap saat. Ia tidak lagi mencintai ku. Apa lagi anak ku. setiap hari hanya sibuk menandan rupa agar semenarik mungkin untuk  di lihat oleh sepasang mata lelaki hidung belang. Cinta tanpa modal baginya terasa hambar. Baginya uang adalah segalanya. Uang mampu membelia segala kebahagiaan. Memang benar apa yang pada papan iklan di persimpangan jalan ke kampungku, cinta membutuhkan isi dompet. Jangan pernah kamu berjuang cinta, tetapi perjuangkanlah isi dompetmu. Ingat itu brow, wanita sekarang, tidak butuh cinta, melainkan uangmu. Kalimat ini, pantas aku semat untuk kisah kami. Kuliah tidak sampai selesai membuat kami tidak memiliki pekerjaan tetap. Upah harianku di gunakan olehnya untuk membeli kosmetiknya.  Keluarga kecil kami kian berantakan. Setiap hari hanya urus bertengkar. Berkali-kali permasalahan kami sampai ke RT dan kepala desa. Namun tidak ada efek jera. Dia semakin mejadi-jadi. Kemunafikan Natalia semakin ditelanjangi oleh tingkahnya.

Tingkah lakunya sudah kelewatan batas. Aku pun meminta kepadanya untuk merantau ke malaysia. Rupanya permintaanku bagaikan rusa merindukan sungai berair, kata pemazmur. Ia amat senang. Tanpa sebait kata pertimbangan, ia langsung menyetujuinya. Setidaknya  ia menjadi bebas dalam bergerilya ronta-ronta halus untuk memulai permainannya.

Aku merajut rezeki di tanah Negeri Jiran Malaysia. Merantau dengan meninggalkan istri dan anak adalah suatu tantangan yang amat berat bagiku. Aku menjadi TKI ilegal. Aku bekeja berpindah-pindah untuk menghindari pengejaran dari polisi Malaysia yang setia membuntuti setiap pekerja-pekerja asing. Kebutuhan seks-ku tidak terpenuhi, Natalia jauh dariku. Aku melempiaskan sesksualitasku pada gadis-gadis genit. Akhirnya aku mengidap penyakit sifilis.

Aku kembali kekampung dan menemukan Natalia dan anak ku.
Umurku tidak akan lama lagi. Aku menuliskan surat untuk Natalia.
Dari aku Eki suamimu, 
Kisah cerita cinta kita cukup tragis. Aku mencintaimu. Maafkan aku Natalia. Jagalah anak itu baik-baik. Ingat, cukup di saat aku pergi merantau engaku melakukan itu, karena aku tahu engkau membutuhkan itu. Aku amat sakit hati kalau aku meliahtmu dari sana, masih melakukan itu.

                                                                                                                                          Salam,


                                                                                                                                          Natalia.

Air mata penyesalan Natalia membanjiri ranjang tempat aku di baringkan. Aku tak berdaya lagi untuk memeluknya. Air mataku ikut menetes menyaksikan penyesalannya. Di hela nafasku yang terakhir aku melumat bibir Natalia sebagai tanda perpisahan. Aku pergi bersama sifilis dengan meninggalkan kedua orang yang aku cintai. Kini Natalia menjadi janda muda yang siap nikah lagi, kalau ia menginginkannya.

Penulis adalah Pegiat Sastra Sampul Buku unit-Gabriel. Alumus Seminari Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Tinggal di Ledalero Maumere.
×
Berita Terbaru Update