-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Profetisme Pers dan Menguatnya Naluri Premanisme (Catatan Insiden Pemukulan Wartawan di Kaper)

Minggu, 31 Mei 2020 | 20:02 WIB Last Updated 2020-05-31T13:02:12Z
Profetisme Pers dan Menguatnya Naluri Premanisme (Catatan Insiden Pemukulan Wartawan di Kaper)
Profetisme Pers dan Menguatnya Naluri Premanisme (Catatan Insiden Pemukulan Wartawan di Kaper)-Ilustrasi: teribunnews

Oleh: Sil Joni*

"Jurnalis di Labuan Bajo Dianiaya Pria Mabuk Hingga Babak Belur". Itulah salah satu judul berita langsung (straight news) dari media daring Pos Kupang.Com, Minggu (31/05/2020). Diberitakan bahwa seorang jurnalis yang berkarya di Labuan Bajo, Petrus Aloysius Hermanto (44 tahun) dipukul oleh seorang pria bernama Ferdi yang berada dalam kondisi mabuk. 

Kasus pemukulan itu terjadi di dusun Kaper, Desa Golo Bilas, Kec. Komodo sekitar pukul 23.40 WIB. Jurnalis yang akrab disapa Lois Minjo itu harus menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat pemukulan itu.

Tak terima dengan perlakuan itu, korban bersama pihak keluarga melaporkan kasus itu ke pihak Kepolisian Resort Mabar agar pelaku diproses secara hukum. Sebuah langkah dan keputusan yang sangat tepat dan patut diapresiasi. Setiap bentuk tindak kekerasan fisik harus ditangani secara hukum.

Kendati peristiwa penganiayaan ini tidak terjadi pada saat sang jurnalis melakukan aktivitas peliputan berita, kita perlu menanggapinya secara serius. Kasus pemukulan secara brutal semacam itu, meski pelakunya dalam kondisi mabuk karena menenggak minuman keras (miras), tetap dipandang sebagai kejahatan kepada kemanusiaan. Reaksi dan respons yang diberikan publik terhadap kejadian itu, bukan hanya karena korban seorang jurnalis, tetapi semata-mata terdorong oleh penghargaan terhadap martabat kemanusiaan yang melekat dalam tubuh korban.

Kendati demikian, kasus kekerasan terhadap para pekerja pers tetap menjadi fokus analisis dalam tulisan ini. Saya coba menarik hubungan kausalitas antara keberanian para awak media 'membongkar kebenaran' dalam ruang publik (profetisme pers) dengan fenomen menguatnya aksi premanisme terhadap para jurnalis.

Profetisme Pers

Sudah tak diragukan lagu bahwa pers memiliki 'power etis-profetis' dalam menyehatkan kehidupan sebuah negara demokrasi. Demokrasi tanpa keberadaan pers yang kritis-profetis, akan mudah jatuh dalam cengkraman rezim totalitarianisme. Pers yang kuat dan kredibel menjadi pilar penyeimbang sekaligus penggerak perubahan dalam sistem pemerintahan yang demokratis.

Kekuatan pers sebetulnya tidak terletak pada institusi dan roda bisnis yang menyokongnya, tetapi terutama pada kesetiaannya menyingkap sosok kebenaran dalam gelanggang sosial-politik yang kerap dimanipulasi oleh para penguasa. Semakin konsisten lembaga pers dalam menggaungkan kebenaran dalam pemberitaannya, aura kenabiannya (profetisme) semakin terpancar. Biasanya, para pemuja status quo dan penguasa merasa 'terganggu' dengan kelancangan insan pers dalam memperlihatkan kebenaran dalam ruang publik. Padahal, para penguasa umumnya bernafsu 'menutup kebenaran' demi mengamankan posisi dan tentu saja dalam rangka meraup keuntungan yang lebih besar.

Dengan demikian, pers kerap dilihat sebagai 'setan pengganggu' atau musuh bebuyutan oleh penguasa atau individu yang berwatak koruptif dan despotik. Tidak heran jika para penguasa dan kroni-kroninya lebih takut kepada 'ketajaman mata pena wartawan' ketimbang serangan bersenjata dari bangsa lain. Produk jurnalisme pers yang setia pada panji idealisme, mengandung kekuatan yang sangat dahsyat dalam melumpuhkan arogansi sebuah rezim yang otoriter.

Kebenaran yang diwartakan insan pers, kendati tidak bersenjata, tetapi sanggup menembakan peluru 'kritik' yang sanggup merobek jantung penguasa yang tamak dan angkuh. Senjata kebenaran yang digenggam oleh para awak media adalah kebenaran itu sendiri. Suara kebenaran biasanya tak bisa dibungkam dengan cara apapun. 

Karena itu, seandainya misi profetisme pers ini berjalan secara konsisten, maka bisa meminimalisasi watak kekuasaan yang cenderung koruptif dan represif. Sayangnya, idealisme dan profetisme semacam itu menjadi 'barang langka' saat ini. Kita sulit mencari dan menemukan pers yang secara konsisten berjalan dalam lorong pewartaan kebenaran secara kritis dan obyektif. Pers kita sudah terombang-ambing antara idealisme dengan kepentingan bisnis dari perusahaan pers agar tetap eksis (survive) di era yang kian kompetitif saat ini.

Kembali ke kasus penganiayaan salah seorang wartawan di Kaper tadi, apakah ada keterkaitan dengan dimensi profetisme seperti yang terpotret dalam tulisan ini? Tentu, butuh kajian yang mendalam untuk memberikan jawaban definitif terhadap pertanyaan itu. Tetapi, satu yang pasti bahwa aksi premanisme terhadap  para pekerja media, tak pernah surut meski kita secara resmi menghargai prinsip kebebasan pers sebagai barometer tegaknya sistem demokratisasi yang kita anut.

Kekerasan Terhadap Wartawan: "Duri dalam Daging Demokrasi"
Kendati motif 'pemukulan terhadap Lois Mindjo, seorang jurnalis di Mabar, oleh oknum preman Ferdi, belum diketahui motifnya, tentu tak membatalkan dugaan soal 'kekerasan yang dialami para jurnalis', sebagai konsekwensi dari kesetiaannya menekuni profesi sebagai 'bentara kebenaran kepada publik'. Karena itu, kita mendorong pihak Kepolisian untuk segera menyelidiki motif di balik aksi itu dan memproses oknum pelaku sesuai mekanisme hukum yang berlaku.

Jika dugaan bahwa 'kasus pemukulan itu ada hubungan dengan pelaksanaan tugas profesionalnya sebagai wartawan itu benar, maka tentu ini sebuah preseden buruk bagi peningkatan indeks kebebasan pers dan mutu kehidupan demokrasi kita. Seandainya terbukti bahwa Ferdi menjadi 'semacam preman dari oknum atau kelompok tertentu yang ditugaskan untuk 'mencederai wartawan', kita patut mengutuk dan mengecam tindakan premanisme semacam itu.

Pelbagai bentuk intimidasi, teror, dan kekerasan fisik yang dialami para jurnalis, saya kira menjadi 'duri dalam daging' yang berpotensi membusukan praksis berdemokrasi di level lokal. Kualitas demokrasi, salah satunya bisa dibaca dari tingkat kebebasan pers yang terekspresi dari kenyamanan wartawan dalam menjalankan liputan jurnalistik.

Kasus pemukulan Lois Mindjo menjadi 'peringatan dan awasan' bahwa demokrasi kita sedang dalam ancaman jika kejadian itu berkaitan dengan konten pemberitaan yang diliput oleh sang jurnalis. Kita berharap bahwa kasus penganiayaan itu, murni karena kekhilafan oknum pelaku, dan bukannya ekspresi pembungkaman kebebasan peran jurnalis secara sistematis oleh pribadi atau lembaga tertentu di balik aksi itu.

Insiden pemukulan wartawan di Kaper mesti menjadi pelajaran berharga agar kita tetap menghormati profesi para jurnalis dan spirit kebebasan bersuara yang mereka usung. Hentikan pelbagai bentuk tindakan yang mencederai kebebasan dalam alam demokratisasi seperti sekarang ini.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update