-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PUISI-PUISI DEFRI SAIMAN

Jumat, 01 Mei 2020 | 20:42 WIB Last Updated 2020-05-01T13:42:18Z
PUISI-PUISI DEFRI SAIMAN
Ilustrasi: wikipedia

Oleh: Derri Saiman

HARGA LUKA

Jejak darah yang kau abadikan,
Melukis tanda yang akan menentang kelam.
Tanda sekuat karang pada tepian rasa.
Aku pernah jatuh,
Tersandung oleh sekian kisah.
Keterpurukan menyayat sekian duka.
Ku coba merangkai kembali senyum termahal.
Walau hati menjerit menahan pedih.
Tak menunggu waktu untuk peduli.
Ini aku, 
Aku yang diabaikan,
Aku yang tak diangan
Aku yang terbuang.
Dan aku yang kembali.
Kan aku racuni dunia dengan licik laksana malaikat maut.

RATAPAN ZAMAN

Desahan kuat aroma perindu
Lontarkan hasrat diakhir hayal
Semboyan angan sang empunya rindu kekal
Naungan abadi insan kemayu.
Tangis meruak dijala waktu
Untaian ucap merajut tawa.
Molekkan hati tiadalah arti.
Desir haluan zaman gertakan jiwa
Tertanam asa dalam renungan
Retakan gentar juang meronta,
Janganlah luluh wahai insan.
Uluran sang kuasa pasti nyatanya.

PENJAJAH HATI

Sosok bayang bersenandung dalam angan
Menggores luka lama yang telah pudar
Semburan lara menerpa batas lintasan
Hingga nadi duka berdenyut sigap
Kobarkan benci merajai jiwa anggun
Nun jauh dalam lautan hati 
Ada setitik rasa mengerang
Merangsang hayal
Goyahkan tekad sekuat karang
Kini ia telah kembali,
Penjajah hati semboyan resah
Menebar gejolak membui sang jajahan.
Rontahan rasa dihalau angkuh.
Terbenam dalam lubuk amat gelap.

SANG BAYU

Meraung laju menerjang kelam kekal
Tersingkir arus maju gapai bunga cita,
Haluan lara di tepi butir
Tangisan menguak tanda hadirnya sang bayu
Insan berjuang layu kemayu
Tawa gelegar sinarkan lengkungan utas
Terukir dalam meruak riang
Taka ada juang hianat nyata.
Langit hayal awalakan cinta 
Bagai sang bayu hembusan ilahi
Lewat semboyan insan pemimpi
Disambut noda sang penghujung senja
Merayu nasib berujar tangis 
Tata perkas hati yang teguh
Anugerah kuasa tak pernah dua
Hanya ungkapan mampu bergeleng
Insan bayu sang hembusan

BERPELIK

Hembusan lara di liang gempita
Merongrong batin di kala senja
Ada yang hilang sang ratu
Ditelan arus jejakan hampa.
Ssembari terbang mengasah kelabu
Hasrat gebukan mengundang risau.
Gundah hati kian merajuk
Angankan lalu telah berakhir sia.
Tetes butir di awal terang.
Kembalikan lintasan terukir megah.
Nan anggun buain malam
Kalahkan nyata dirajut juang.
Raja yang hilang akan kembali.

“Menulis adalah cara mengkekalkan masa”
Penulis adalah Pegiat Sastra. 
×
Berita Terbaru Update