-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

RAMALAN (Cerpen Petrus Nandi)

Sabtu, 23 Mei 2020 | 14:32 WIB Last Updated 2020-05-29T12:38:50Z
RAMALAN (Cerpen Petrus Nandi)
Ilustrasi: google

Oleh: Petrus Nandi

Pria peramal itu mendatangi rumahku sementara aku merayakan ulang tahunku yang ke-16 bersama mama dan teman-teman kelasXI MIA 1 dari FX. Kami sedang bercanda ria di emperan rumah. Iakemudianmenyelusup masuk ke dalam rumah setelah Ka’e Boy, satpam rumah bertubuh gendut itu membukakan pintu gerbang baginya –tentunya setelah mama mengijinkan dia membukakan pintu itu. Usianya kira-kira 50 tahun.

Tanpa basa-basi ‘selamat pagi’ atau sekurang-kurangnya membuat kami terkesan dan tertarik dengan tingkahnya, peramal bertampang seram itu bertukas, “Betapa malangnya nasibmu terlahir pada tanggal 7 Juli, Tuan...” Semua suara sekonyong-konyong hilang dari keramaian kami. “Seandainya kamu menjadi pria berwatak bijak kelak, kamu tidak akan menyerapahi siapapun, termasuk orangtuamu atau hari kelahiranmu saat kau tahu akan ada nasib sial yang menghantuimu karena angka 7 yang tersemat pada tanggal dan bulan kelahiranmu. Tapi, terlepas dari seperti apakah watakmu kelak, engkau adalah orang paling kurang beruntung di kota ini. Engkau tidak akan lagi mengalami segala kemegahan dan kebahagiaan yang kini engkau rasakan...”. 

Kemudian ia meramalkan banyak lagi hal buruk tentang diriku di masa depan.  “Heh! sembarangan saja kamu! Dari mana kamu tahu kalau semua keburukan itu akan menimpa anak saya?” Mama mencak-mencak dari tempat duduknya. “Tuhankah kamu sehingga kamu tahu masa depan Rey?” Sonya ikut nimbrung. “Itu bukan urusan saya. Maaf, saya hanya mau menyampaikan. Percaya atau tidak, itu perkara kalian. Selamat ulang tahun, Tuan Rey. Selamat tinggal!” Peramal itu menatapku dalam, kemudian minggat dari rumah kami.  

                                                                         ***
Aku tak pernah bermimpi atau berharap untuk dilahirkan pada tanggal 7 Juli. Namun nyatanya, aku tetaplah terlahir pada tanggal yang terkutuk dalam ramalan pria itu. Katanya, orang yang terlahir pada tanggal 7 bulan ke-7 adalah penanggung beban hidup masa tua yang tak terperihkan. Selalu ada masalah yang bakal menghantuinya bila ia berani merajut bahtera rumah tangga dengan seorang perempuan. Bahasa lainnya, ia tidak boleh menikah. Busyet! Anak-anaknya tidak akan mampu menyelesaikan pendidikannya sebab mereka dianugerahi kutukan kebodohan yang tak tertanggungkan. Mereka adalah penerima imbas keteledoran ayahnya yang tak mampu menjinakkan nafsu dan memaksakan diri untuk tidur di atas perut seorang perempuan. 


Pada hari tua, dia akan hidup menderita sebab istrinya hanya mampu bertahan hidup sampai pada masa paruh baya, sedangkan anak-anaknya akan menganggur di jalanan dan tidak punya pekerjaan, menjadi pemabuk, brandal dan pelacur. Ia akan tinggal dalam sarang kosong dengan kesepian yang kejam tiada henti menerornya di setiap malam. Ia akan menyesal bahwa ia terlahir pada tanggal ber-angka 7 dan bulan ber-angka 7 pula. Namun ia dapat memutuskan mata rantai nasib sial itu. Dia mesti enggan menikah. Satu-satunya cara agar hidupnya bahagia ialah tidak mengikat satu hubungan resmi dengan perempuan, apalagi memperoleh anak. Hanya itu.

Sejak pertama kali mendengar ramalan itu, aku mengurungkan niatku untuk mencintai seorang perempuan. Mulailah aku melakoni tingkah-tingkah aneh bin asing di hadapan para wanita. Ketika usiaku menginjak angka 17, aku dilanda rasa dilema yang berat. Aku dipandang sebagai pria yang paling ganteng di SMA-ku. Prestasi akademik-ku bukan main. Aku pernah menjadi juara pertama olimpiade Fisika Nasional. Bakatku di bidang olahraga dan seni musik juga aduhai. Aku sontak menjadi dambaan para wanita di sekolahku. Aku tertarik dengan beberapa dari mereka, tapi ketakutan akan masa depan yang sial selalu menghentikan lagak-ku di hadapan mereka. Aku terpaksa menampilkan kesan bahwa aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Beberapa sempat kecewa karena aku tidak mau bercinta dengan mereka. Bahkan Selny, teman kelasku menganggapku gay lantaran menolak cintanya di hadapan teman-temannya.

Ketika aku telah menyelesaikan studi S-3 di UGM aku menolak tawaran Universitas untuk mengabdi sebagai pengajar di sana. Aku lebih memilih kembali ke Nuca Lale* dan menemani mama yang sudah ditinggalkan oleh bapa yang telah meninggal dunia saat usiaku masih sangat belia (5 tahun). Usiaku saat itu menginjak angka 30. Saat itulah aku dilanda dilema yang sangat besar. Teman-temanku sudah pada menikah. 

Setiap pagi, ketika hendak ke kantor, tetangga mendapati aku pergi sendirian dengan rolls-royce kesayanganku, tanpa pendamping. Mekas Linus, tetangga sebelah rumah tidak tanggung-tanggung dan spontan bertanya: “Kapan ya, punya istri? Kasihan tu mama kamu, ia pasti ingin mempunyai cucu.” Bibi Mely, pembantu di rumah juga bilang, “Kasihan ya Tuan, sudah punya titel pendidikan yang tinggi, punya pekerjaan bagus, eh tak punya istri”. Teman-teman di kantor juga memiliki kegelisahan yang sama. Bawahanku, Noval pernah berseloroh begini, “Pak Rey, mau tunggu usia 40 baru menikah ya?” Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Tapi sejujurnya, aku juga malu dan merasa terbebani. 
Aku sebenarnya tidak mau dianggap tidak normal. Untuk beberapa saat kemudian, aku memilih untuk menikmati dan menganggap semuanya hanyalah sapaan basa-basi untuk membuka perbincangan denganku pada setiap permulaan pagi. Maklum, usia 30 tahun adalah usia yang cocok untuk seorang pria beranak dua, begitu pandangan umum orang Manggarai, sementara aku belum juga beristri.
Dua tahun berselang, aku memutuskan untuk melawan ramalan itu. Setelah sebulan saja berpacaran dengan Maya, kami berdua sepakat untuk menikah pada suatu hari. Maya itu sekretarisku di kantor. Ia cantik dan seksi. Tidak cukup waktu tuk menarasikan kecantikannya. Pokoknya ia cantik. Sebenarnya, aku masih merasa terbebani ramalan itu. Tapi aku tidak mau berlaku seperti orang kampung yang dungu yang percaya begitu saja pada hal-hal magis seperti itu. Maya juga merasa yakin penuh dengan keputusanku. Hari-hari bertemu Maya di kantor, kami pun menjadi akrab. Kami sering singgah di Kopi Mane, menyeruput kopi sambil menikmati senja di Kota Ruteng. Pada setiap akhir pekan kami berdua menghabiskan petang memandang keindahan Kota Ruteng dari bukit Golo Curu, hingga Sholat Magrib berdengung dari sebuah Masjid yang terletak di jantung kota. 

Dua minggu sebelum nikahan, aku membawanya bepergian ke Labuan Bajo. Tiga hari kami menikmati sensasi kota itu. Mengunjungi Taman Nasional Komodo, Menghayati keindahan laut dan bibir pantai berpasir putih murni dari atas Pulau Padar, Bersantai di bawah langit lazuardi dan memandangi wisatawan asing dan lokal beria-ria di pesisir Pantai Pede dari balkon La Prima hingga blusukan di Pasar Barter Warloka. Kelanjutan kisah mesra seorang sekretaris seksi dan seorang Kepala Kantor ber-titel Doktor bidang Tata Kota yang menjalani masa pacaran perdana tersaji di kota pariwisata itu.
Kemudian tibalah hari “h” pernikahan kami. Segala rangkaian prosesi, mulai dari berkat suci di Gereja Katedral hingga acara resepsi di rumah, berlangsung sangat ramai meriah. Beberapa tokoh besar di Kota Ruteng, mulai dari pejabat pemerintahan, tokoh agama dan tokoh adat, turut serta menikmati kebahagiaan keluargaku dan keluarga Maya. Teman-teman kelas semasa sekolah mulai Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi tidak ketinggalan. Semuanya bergembira ria, berjoget hingga pagi, merayakan pernikahan aku dan Maya.

Setahun berselang, kami dianugerahi seorang buah hati yang sangat tampan. Karena ia anak pertama dan seorang laki-laki pula, kunamai dia Alexander Putra Perdana. Panggilannya Dana. Sesuai kebiasaan orang Manggarai, tidak ada nama marga atau fam keluarga tersemat di belakang namanya. Mama adalah orang yang paling bahagia menyambut cucu pertamanya itu. 

                                                                                 ***
Tahun-tahun terasa berlalu begitu cepat. Hari ini aku bersama Maya menghantarkan Dana ke TK Inviolata. Pagi yang indah. Gugus-gugus awan putih menudungi gunung-gunung di balik Kota, tepatnya pada arah perjalanan menuju Satar Mese. Dana terkagum-kagum memandangnya. Dari luar mobil, Suster Kepala Sekolah menjemput tangannya. Dengan gembira, Dana disambut teman-temannya. Kemudian aku dan Maya kembali ke rumah. Kami menyusuri gang tengah yang memisahkan Gereja Katedral Lama dan almamaterku, SMAK Fransiskus di sisi kiri dan SMAK Setia Bakti di sisi kanannya. 

Kulemparkan pandanganku ke halaman depan Gereja Katedral Lama. Kudapati seorang lelaki tua yang terlihat asing tetapi rasanya aku pernah bertemu dirinya beberapa tahun silam, sedang duduk di sudut Timur pagar kompleks Gereja. Aku kemudian berhenti persis di depan gerbang Gereja. Romo Ompy, pastor yang sehari-hari biasa merayakan misa di Gereja ini baru keluar dari Gereja. Seketika saja ia membalas sapaan isteriku lalu berlalu pergi menuju Kapela Adoremuste. Kemudian kudekati pria tua itu. Tampangnya sudah sangat tua. Ia kelihatan lusuh. Tubuhnya yang berdaki menimbulkan bau yang membuat Maya tak sungkan menutupi kedua lubang hidungnya. Pakaiannya compang-camping. Rambutnya tidak teratur. Potongan-potongan benang berwarna-warni mewarnai rambutnya yang sudah beruban dan hampir tidak tersisa sehelaipun rambut hitamnya. Bayangan masa lalu berkelebat dalam otakku hingga aku sampai pada hari perayaan ulang tahunku yang ke- 16. Aku kenal betul pria ini. Meski sudah tua, tampangnya masih terlihat seseram dulu. Ya, dialah peramal masa depanku. 

“Mekas, coo kreba, pande apa ite ce’e ho’o”** Kumenyapanya dalam bahasa daerah Manggarai. “Tuan Rey...” Ia menyebut namaku dengan sempurna seperti sudah sangat akrab denganku. “Mengapa anda duduk di sini?” Tanyaku. “Tuan, satu hal perlu anda tahu saat ini. Aku adalah orang paling bernasib sial di kota ini.” Kemudian ia melanjutkan, “Istriku meninggal saat melahirkan anakku yang ke-empat, setahun setelah aku menyampaikan ramalan itu pada Tuan. Anakku ada empat orang. Aku adalah ayah paling durhaka karena tak dapat mendidik mereka dengan baik.” “Di mana mereka? Mengapa mereka membiarkanmu di sini?” Tanya Maya mencecar. “Anak-anakku kini berkeliaran tanpa tahu arah. Yang sulung menjadi perampok kelas kakap di kota ini. Yang kedua adalah seorang penjudi. Ia satu-satunya penjudi yang tak pernah beruntung. Seluruh harta kepunyaan saya dijualnya untuk menutupi hutangnya karena ia selalu kalah judi. Anakku yang ketiga seorang perempuan. Ia tewas bunuh diri karena lelaki yang menghamilinya pergi meninggalkan dirinya. Itu terjadi 5 tahun lalu. Yang bungsu adalah seorang autis. Aku sempat menitipkannya di SLB Karya Murni tetapi ia melarikan diri dari sana. Sekarang aku tak tahu di mana ia berada.” Air mata penyesalan berlinang di pipinya. 

“Di mana bapak tinggal selama ini?” Tanyaku penasaran. “Aku tak punya tempat tinggal lagi. Tapi tenang saja. Jangan pedulikan diriku. Aku memang layak menanggung semua kehinaan ini. Aku memang harus membayar tuntas kedegilanku menikahi istriku dan mempunyai anak.” “Mengapa begitu?” Tanyaku lanjut. “Aku tidak semestinya menikah dengan seorang perempuan pun. Seandainya aku hidup tanpa seorang istri, akulah orang yang paling bahagia di kota ini. Kesialan ini tidak bakal bertubi-tubi menampar garis hidupku.” Kemudian teringatlah aku pada ramalannya dulu. “Mekas, berapa tanggal lahirmu?” “Aku lahir pada tanggal 7 bulan ke-7 70 tahun yang lalu, Tuan.” Sekonyong-konyong aku dan Maya beradu pandang. Rupa-rupa bayangan masa depan yang burukkulihat berseliweran pada kedua bola matanya.

Keterangan: 

*Nuca Lale: julukan untuk daerah kebudayaan Manggarai.
**Mekas, co’o kreba, pande apa ite no’o cee (Bahasa Manggarai): Bapak, bagaimana kabar, sedang apakah anda di sini.

Puncak Scalabrini, Medio Maret 2020.

Penulis adalah penyair dan cerpenis.  Tiga cerpennya yang berjudul “Beranda Rumah dan Senja yang Bisu”, “Kembalikan Tanah Kami!” dan “Kenangan di Pondok Teduh Kakek Tadeus” dimuat dalam antologi cerpen “Narasi Rindu”. Ia saat ini menjadi mahasiswa semester akhir pada STFK Ledalero Maumere. Pegiat sastra Komunitas Sastra Djarum Scalabrini.

×
Berita Terbaru Update