-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Risalah Rindu Pemilik Rahim

Selasa, 05 Mei 2020 | 12:29 WIB Last Updated 2020-05-05T05:29:02Z
Risalah Rindu Pemilik Rahim
Ilustrasi: google

Oleh: Jondry Siki, CMF

“Aku rindu kamu dan bundaku. Gadis Timor dan Flores yang sahaja”

Senja, medio 2017 di Kupang yang panas, kusua dalam balutan cinta ditemani jingga yang elok menghias peredaran sang surya ke peraduannya. Keremangan malam pun tiba diiringi lantunan derik jengkrik. Kumasih  membisu menyaksikan keajaiban alam ini.  Lampu-lampu Kota Kupang sudah terang benderang, senja telah pergi, kini aku ditemani keremangan dan euforia derik jangkrik sembari menyaksikan tatapan senyum rembulan yang penuh  gairah nan menggoda. Bintang-gemintang bertaburan rasa di sekitarnya, tak kusadari aku telah berada di penghujung semester genap.  Suasan euforia sungguh aku rasakan dalam nada gembira yang mulai terpancar di wajah-wajah lusuh teman-teman  akibat penat menghadapi ujian akhir semester 2017. Kusaksikan beberapa  teman asarama mulai menyimpan barang-barang guna menyambut musim liburan yang hampir tiba. 

Tahun itu   agak istimewa menurutku. Sebab, sebelum berlibur ke kampung halaman, aku dan teman-teman mesti melanglang buana ke Pulau Flores. Meskipun asing di mata, namun nama Pulau Flores tidak asing di telinga. Sebab sejak   di bangku SD, aku sering mendengar nama “Pulau Flores” dalam lagu dan sesekali mulutku  menyebut “Pulau Flores” setiap kali aku menyanyikan lagu; “Dari Ende ke Wolowaru beta lihat Kelimutu, ada  air tiga warna; merah putih dan biru, indahlah-indahlah pulau Flores indahlah”. Lagu ini aku nyanyikan lagi tiga tahun lalu bersama teman-teman asal Flores, mereka tidak mengetahuinya. Meski demikian,  kerinduan untuk melihat Pulau Flores dari dekat semakin nyata. Menurut catatan yang tercecer yang pernah aku kepul, katanya nama pulau Flores diberikan oleh Bangsa Portugis yang artinya “Nusa Bunga”. Padahal orang-orang pribumi menyebutnya “Nusa Nipa”. “ Entalah, mau Flores atau Nipa itu tidak penting, yang penting go Flores” kataku dalam hati sembari senyum.

 Aku secara pribadi bahagia menyambut kabar ke Flores, sebab aku belum menginjakkan kaki di Pulau Flores. “Adrian, akhirnya bisa lihat Flores e heheh” kata Hanz sembari tertawa lepas. “ ahh,,, jangan begitu ko, belum jalan ju, kita masih d sini hhh” sambungku membela diri. Jadwal keberangkatan dua hari lagi, tiket pesawat sudah tersedia, untuk berangkat. Kegembiraan yang aku rasakan bukan hanya melihat Pulau Flores tetapi juga bisa menumpang pesawat untuk pertama kali dalam sejarah hidupku, heheheh, maklum aku sudah lama tapaleuk (i) di Timor saja, hhh.

Fajar pagi hari keberangkatan sudah mengetuk di pelupuk mata. Kuangkat ranselku bersama teman-teman menuju Bandara Mayor Jenderal Eltari. “ Mohon perhatian, bagi penumpang tujuan Ende, sesaat lagi akan lepas landas” seru seorang petugas. Hatiku deg-degan, jantungku berdebar kencang tidak karuan melihat pesawat dari jarak dekat. “ Hari ini mau makan atau tidak makan, tidak apa-apa yang penting sudah bisa lihat dan naik pesawat hhh” kataku dalam hati. Aku menyaksikan kebahagiaan teman lain yang mengambil kesempatan untuk mengabadikan momen di Bandara. Aku pun larut dalam potretan masal di badan pesawat. “ Adrian, itu yang namanya pramugari” kata Tono anak Nagekeo sembari menarik tanganku. “ iya aku tahu itu pramugari” kataku seolah aku pernah melihat pramugari sebelumnya. Sesaat kemudian seorang pramugari  menebar pesona sembari memperagakan cara penggunakan alat-alat pelindung diri. Aku bengong memandang wajah cantiknya heheh. 

Perjalanan udara menuju Flores hanya ditempuh dalam  55 menit. Sesaat sebelum mendarat, terdengar pengumunan bahwa Bandara H. Hasan Aroeboesman sudah tampak. Dari kejauhan aku melihat Kota Ende yang diliputi oleh beberapa gunung dan salah satu gunung yang sempat aku dengar di kelas dari teman adalah gunung meja. Hal yang menarik dari gunung ini ialah    cerita legendanya  yang dibumbui cinta. Menurut penuturan Bil, teman kelasku saat berkisah di kelas , konon, Gunung Meja memiliki kepala puncak yang tidak datar.

"Dahulu terdapat gadis cantik bernama meja. Karena kecantikannya, meja diidolakan para pemuda," ujar Bill bercerita. Suatu ketika datanglah dua pemuda tampan yang mendekati Meja. Yaitu, Wongge dan Kengo. Mereka berdua awalnya bersahabat dan sangat dekat. Wongge berasal dari keluarga sederhana, sementara Kengo dari keluarga kaya.

"Namun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Wongge ramah dan santun, sedangkan Kengo pemarah. Lalu keduanya mulailah mendekati Meja," sambungnya. Singkat cerita, Meja sudah menjatuhkan pilihan hatinya, yaitu kepada Wongge. Setelah cinta keluarga Wongge akan segera datang melamar. Berita tersebut terdengar hingga ke pelosok negeri. Kengo yang mendengar cerita tersebut marah dan tak terima. Ia kemudian mendatangi Mereka lalu mengutarakan isi hatinya. Karena telah memilih Wongge, Meja berkata jujur tentang isi hatinya.

"Tak terima dengan keadaan tersebut, Kengo marah besar dan menetapkan tak boleh ada seorang pun mendapatkan Meja. Sebelum Wongge datang ia berpikir Meja harus dibunuh. Akhirnya Kengo menebas kepala Meja," tuturnya. Menurut legenda, kepala Gunung Meja yang ditebas kemudian terdampar ke arah barat hingga keluar pulau. Kepala Gunung Meja, dipercaya ialah pulau kecil yang bernama Pulau Koa di sekitar Ende. Cerita Bill diakhiri dengan tempik sorak di kelas. Aku sendiri agaka ragu dengan keberadaan gunung yang modelnya kayak meja. Akhirnya saat mendarat di Ende, panoraman yang menghibur mataku adalah gunung Meja yang aku dengar kisahnya bulan lalu.

Suasana Kota Ende aku rasakan  sesaat saja, sebab aku dan teman-teman harus melanjutkan perjalanan ke Manggarai Timur. Aku semakin terpikat dengan Pulau Flores.  Namun sayang, aku tidak berkesempatan ke Danau Kelimutu karena terbatas waktu. Perjalanan menuju Manggarai adalah satu kisah yang menarik. Aku sungguh menikmati panorman Pulau Flores yang indah sesuai lagu yang aku ketahui sejak SD. “Adrian, itu pohon cengkeh” kata Hans sembari menunjuk ke sisi kiri jalan yang banyak pohon cengkehnya. Aku terdiam menikmati perjalanan. Sungguh indah pulau ini. Meskipun diliputi pengunungan namun kesejukan dan keindahan pulau ini tiada duanya.

Perjalanan yang melelahkan akhirnya terbayar dengan sambutan meriah siswa-siswi SMP Waerana. Pasukan Drum Band menyambut kami dengan euforia bak penyambutan raja. Mungkin ini yang dimaksud dengan tamu adalah raja hehe. Sungguh ramah nan elok penduduk Waerana. Meskipun cakap mereka tidak kupahami setidak-tidaknya aku terpikat hampir melupakan Napan dan Timor hehe. Aku bersama teman-teman sore itu dibagi ke KBG-KBG yang ada di Waerana. Aku mendapat penginapan di Munde, Rembong Ara. Sungguh suatu petualangan yang menyenangkan. Terlihat berberapa teman bercakap-cakap dengan orang-orang sekitar dalam bahasa setempat. 

Fajar pertama di Munde, Manggarai Timur kusua dalam kedinginan yang menusuk hingga sumsum tulang. Cahaya mentari pagi menembus pehononan kopi dan cengkeh, aku dan keluarga baruku berdiang sembari seruput kopi khas Manggarai. “Enak sekali kopinya” kataku memuji mama Laura. “ Kaka kopi Manggarai memang enak apalagi dibuat oleh enu molas (ii) heheh” sambung mama dari dapur sembari memuji puterinya yang masih duduk di bangku SMA di Waelengga. Resty, puteri pertama mama Laura dan Bapa Silus baru tiba tadi malam saat aku sudah terlelap akibat perjalanan yang jauh dengan cengkokan jalan yang mematikan. “Pagi kaka, saya Resty. Selamat datang di Manggarai, anggap saja ini rumah sendiri.” Kata Res polos. Aku hanya tersenyum menyambung sapaannya yang lembut. Gadis manis, perias pusaka tanah Flores, indahnya ada di sini. 

Tidak diragukan lagi kecantikan gadis-gadis Manggarai. Aku tersipu namun berusaha menutupnya dengan membangun komunikasi. Sorotan matanya mengguncangkan. Degup jantung memompa semakin kencang. Ah, gadis Flores kamu membuatku lupa bahwa aku hanya menumpang sesaat. Aku pun ke kamar bersiap-siap menemani Bapa Silus ke kebun kopi. Saat kubuka WA, kulihat pesan masuk dari ketua rombongan “kita datang utuh, kembalipun utuh. Boleh jatuh cinta. Tapi ingat, tidak boleh jatuh karena cinta”. Pesan ini membuatku tersadar.  

Seminggu kulewati di kampung Munde dengan tawa ria bersama warga sekitar, bersama-sama memanen cengkeh dan kopi. Hari untuk tinggal bersama warga hampir selesai. Setiap malam, bersama bapa Silus, kami mendiskusikan soal politik di NTT dan Manggarai khususnya. Setiap sore bersama anak-anak Munde yang lain Teku wae (iii) di batas dusun. Air yang jernih membuat segalanya segar dan sejuk. Aku kabarkan jadwal keberangkatan kembali ke Timor kepad mereka. “Bapa-mama, terima kasih sudah menerimaku di rumah ini. Maaf bila selama ini merepotkan” kataku saat malam perpisahan. Kulihat dipojok yang remang, Resty enggan bergabung bersama teman-teman lain untuk mendengar kisah seputar Kupang. Ia nampak sendu, namun  kembali memperbaiki raut wajah tatkala mataku berpapasan dengan bola matanya yang bening. Gadis sahaja,  pusaka Manggarai yang hidup. “ kaka kapan datang lagi?” tanya Resty saat  mengambil air di tepi dusun sore tadi. “ kalo Tuhan berkenan, aku pasti kembali karena rumah kamu adalah rumahku juga . ini rumah pertamaku di Manggarai” kataku menghibur. Tampak sorot matanya berkaca-kaca.

Senja hari itu berlalu, fajar pagi kusambut dengan harapan baru. Aku harus segera kembali ke Timor. Aku menitipkan nomor WA di keluarga tidak lupa juga untuk Resty. Saat tiba kembali di Ende, ada pesan WA masuk: “Kalau perjumpaan ini adalah kehendak Tuhan, pasti suatu waktu kita akan berjumpa lagi. Namun, biarlah rasa dan kesan yang kita bangun ini tersimpan dalam kalbu dan kelak ketika rindu menuntut, izinkan aku mendengar suaramu sesaat via telefon. By: Resty. Makasih”. Pesan itu tidak kubalas karena aku harus segera menaikan barang bawaanku ke pesawat.

Tahun berganti, musim berlalu. Tak terasa, sudah dua tahun setelah mengukir kenangan di Manggarai, aku tidak mendapat kabar dari Munde, nomor kontakku terhapus saat berada di kampung halaman. Wajah khas Manggarai yang terpancar dalam diri Resty memikat hati, kini kusua lagi dalam kontak WA baru yang masuk “ selamat siang, mudah-mudahan masih diingat. Saya puteri bapa Silus”. Akhirnya komunikasi dengan Munde terjalin kembali. Resty dua tahun lalu masih kelas 3  SMA, kini  ia  bersama keluarganya di rumah saja. “Bagaimana kuliahnya?” tanyaku. “Kaka, saya tidak kuliah, di rumah saja sekarang” jawabnya. Seminggu kemudian, ia jujur menyampaikan keadaan diri saat ini. Aku menanggapinya dengan nada guyonan sembari tidak percaya. Ia pun dengan jujur mengatakan; “ kaka, saya minta maaf, saya sedang menunggu untuk melahirkan, tolong jangan marah, saya tahu kaka pasti kecewa”. Berita ini membuat denyut nadi berhenti dan peredaran darah membeku. Gadis manis yang kusanjung, sorotan matanya yang menggoda telah berbadan dua. “Jaga janin itu dengan baik” pintaku datar. “ Ya kaka saya jaga” sahutnya. “Belajarlah dari Bunda Maria bagaimana ia menjaga janin Yesus”. Sambungku.  Aku kecewa bukan karena kehamilannya melainkan karena cinta bertopeng si lelaki buaya darat  entah di mana gerangannya kini. Ia terkandas hingga titik nadir. Kini ia menanti persalinan. “Terpujilah buah rahimmu, Bundaku pun sudah melakukan hal serupa 26 tahun silam, sebelum beralih ke dunia pusara; alam baka. Aku rindu kamu dan bundaku. Gadis Timor dan Flores yang sahaja” (*)

Penfui, 2 Mei 2020

Catatan: 
(I)Tapaleuk: Berkeliaran (Melayu Kupang)
(II) Enu Molas: Gadis Cantik (Manggarai)
(III) Teku Wae : Timba (ambil) air (Manggarai)

Penulis Sedang menyelesaikan studi filsafatnya di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang semester VIII. Suka membaca buku-buku Filsafat, Teologi dan Sastra.
×
Berita Terbaru Update