-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Runtuhnya Menara “Babel” (Kesombongan)

Sabtu, 30 Mei 2020 | 21:56 WIB Last Updated 2020-05-30T14:56:59Z
Runtuhnya Menara “Babel” (Kesombongan)
Gambar: fb Pater Tuan Kopong, MSF

Di penghujung Mei, malam ini di teras pastoran kumerenungi perjalanan hidup dan pelayanan yang “terpenjara” dalam apa yang disebut “lockdown” dalam kurun waktu dua bulan lebih ini oleh karena pandemi covid 19 yang memaksa saya dan kita semua untuk tetap berada di rumah.

Hanya dalam kurun waktu dua bulan lebih, pandemi covid 19 mempertontonkan kepada kita semua betapa rapuhnya hidup kita. Mereka yang selama ini berteriak keras sebagai “pembela” Tuhan dan sebagai yang empunya surga, seketika dibungkam. Yang terdengar hanya ratap tangis di ruang isolasi, sepi dan sunyi.

Hanya dalam kurun waktu dua bulan lebih, pandemi covid 19 menelanjangi kita semua betapa rapuhnya kekuatan berjemaah yang selama ini menjadi “preman” agama menindas dan merampas hak hidup dan kebahagiaan orang lain. Seketika kekuataan berjemaah diporak-porandakan, lulu lantah tercerai berai. Yang ada hanya kesendirian tanpa daya dalam keluh yang tak terdengar. Tak ada yang mengunjungi ataupun hanya sekedar menyapa. Ya, sendiri dalam rintih.

Hanya dalam kurun waktu dua bulan lebih, pandemi covid 19 mempertontonkan kepada kita semua kebobrokan mereka yang mengatasnamakan kemiskinan rakyat sebagai promo gratis “nyinyir”, menyiksa mereka dalam hujatan netizen. Setiap nyinyir mereka menjadi senjata ampuh netizen mempermalukan mulut-mulut berbusa tanpa kerja.

Ya, hanya dalam kurun waktu dua bulan lebih, pandemi covid 19, membuka tabir kesia-siaan semua yang kita miliki dan semua yang kita perjuangkan (bdk. Pengkotbah 1:2).
Semua kekayaan yang dimiliki, uang yang tersimpan rapi di berbagai bank, berbagai deposito yang selama ini meninabobokan, hanya dalam waktu dua bulan lebih semuanya habis, suara jeritan dan keluh tak hanya menjadi litani tragedi mereka yang selama ini dianggap miskin, tapi juga mereka yang kaya dan konglomerat semuanya melitanikan rintih dan keluh yang memaksa mereka harus mem-PHK-an orang lain yang selama ini membuat mereka menjadi kaya raya.

Semua yang dibanggakan dan didewakan yang selama ini menjadi alasan menjauhkan Tuhan, meninggalkan Tuhan pada hari yang seharusnya menjadi hari Pujian dan Syukur serta Permohonan dan Terimakasih kepada-Nya, porak poranda dan memaksa mereka, saya dan Anda sekalian untuk kembali kepada-Nya dalam kesunyian dan kesendirian, tanpa bisa melawan. Yang ada hanya pasrah dan kembali kepada-Nya meski hanya dalam sebuah siaran live.

Bahkan kecantikan dan kegantengan yang selama ini diperlombakan oleh kita semua, semuanya tak ada makna. Sia-sia lantaran hanya wajah lusuh, kurus keriput dengan guratan-guratan tulang membingkai semua yang dipoles sebelumnya menjadi penampakan kita di ruang isolasi ataupun ketika terbujur kaku di dalam peti jenasah menuju peristirahatan terakhir atau semuanya menjadi abu tak berbekas di ruang kremasi. Tak ada kata pujian terdengar, bahkan isak tangis kepergiaanmu hanya menjadi irama pengiring dari kejauhan, tak terdengar, sepi dan sunyi.

Semua yang kita kumpulkan selama ini. Semua yang kita jaga dan kita rawat. Semua yang kita banggakan, seketika hanya menjadi pajangan kenangan. Bahkan pakaian yang menumpuk dalam sekian lemari dan koper semuanya hanya menjadi pakaian pantas pakai yang dibagikan kepada sesama yang paling membutuhkan. 

Hanya satu harta yang harus dibawa. Harta yang tak pernah diharapkan bahkan membayangkan saja sudah menakutkan yaitu peti jenasah tanpa dipenuhi semua yang dikumpulkan dan dibanggakan selama hidup di dunia.

Hanya dalam waktu dua bulan lebih, pandemi covid 19 memperlihatkan kepada kita betapa sia-sia semua yang kita banggakan, dewakan dan kumpulkan serta sembah pujikan hingga melupakan Tuhan yang seharusnya kita puji dan sembah.
Membuat kita tak berdaya, bertekuk lutut tak kuasa menahan takut dan bersama entah kaya, miskin, pejabat, orang biasa, tokoh agama dan konglomerat larut dalam ratap tangis dan duka yang sama, merebahkan diri pada Dia yang selama ini kita lupakan seraya memohon ampun dan kekuatan dari-Nya.

Dalam kurun dua bulan lebih pandemi covid 19 menunjukan kepada kita;
“DIA ADALAH MUSUH KITA YANG TIDAK KELIHATAN NAMUN MEMATIKAN, TETAPI KITA MEMILIKI TUHAN YANG JUGA TIDAK KELIHATAN NAMUN MEMBERIKAN HIDUP DAN MENYELAMATKAN, HANYA PADA TUHAN KITA PERCAYA BAHWA SEMUANYA SEGERA BERAKHIR”.

Manila: 30-Mei-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update