-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Yang Terakhir (Cerpen Bernad Realino)

Minggu, 24 Mei 2020 | 08:16 WIB Last Updated 2020-05-24T01:19:47Z
Yang Terakhir (Cerpen Bernad Realino)
Ilustrasi: google

Oleh: Bernad Realino
  
Kadang aku berpikir  “Apakah Tuhan yang kuimani, membuatku jatuh hati, lalu menulis puisi-puisi untuk DIA, akan berahkir sebatas bait kata-kata ? ”

Malam ini sepi, sunyi, dingin membawa tubuhku yang bugil menggigil sendiri. Aku menyaksikan burung-burung pipit sudah tertidur pada sarang yang lembut. Mungkin juga, ada yang sedang menikmati mimpi basah yang panjang dan menyenangkan. Aku tak mau menggangu mereka, biarkan mereka tertidur dan menikmati  mimpi basah mereka. Dingin malam ini, berbalut perih pada hati yang pedis, tak ada topik yang mampu kuceritakan malam ini, sebab luka baru yang kurasankan seakan tak mampu kujelaskan pada DIA yang kusebut sebagai cinta yang kuperjuangkan dalam rapalan doa-doaku. Tapi, semuanya sudah berahkir, pasrah diriku telah dibalut sedih, sisah simponi waktu yang siap mengajakku untuk pulang kembali ke rumah. 


Malam ini tak hanya sepi namun pedis. Aku ingin ceritakan kepedisanku, pada kalian yang saat ini sedang membaca tulisan burukku ini. Mungkin dengan itu kepedihanku semakin berkurang kuiris agar hidup ini tidak di kikis pada waktu yang telah menungguku untuk pergi. Tolong aku kawan, lawan “tuhan” yang telah menyerangku. (menangis sambil memohon dengan tangan mengatup rapi di dada). Tolong aku cari jalan keluar yang terbaik malam ini agar tidur malamku dapat kunikmati senyaman burung-burung yang telah tertidur lelap diatas pohon beringin yang rindang berbalut sarang yang nyaman. ”Aku cemburu pada burung-burung. Aku ingin hari ini cepat berahkir. Aku mau hatiku nyaman seperti mereka”. 

                                                                  ***                                                            
Duapuluh Delapan  Aprli Dua Ribu Duapuluh….
Siang ini sial, botol air kesayanganku berwarna biru jatuh pada meja belajarku , dan air dalam botol tersebut tumpah membasahi buku novel Boy Candra kesayanganku. Aku tak tahu mana yang harus kusalahkan, sebab dua-duanya adalah benda kesayanganku. Lalu siang ini juga sial, baju tidur kesayanganku yang selalu  kukenakan ketika tidur malam, digigit tikus yang berbodi sandal jepit, bergigi penyakit. Betapa sakit hati ketika menyaksikan sendiri, tikus itu menikmatinya dengan sungguh-sungguh harta milikku. Aku bersumpah, apabila aku bertemu dengan tikus itu akan kutusuk pantatnya dengan linggis berkarat dengan sekuat tenagaku, agar tikus itu tahu betapa sakit hati ini terluka ketika apa yang kita cintai itu dinikmati, digigit, dimainkan dan dilecehkan sesuka hati. Mungkin rasanya lebih sakit dari pada tusukan linggisku. Tapi semoga kutemukan kau tikus sialan. Dasar!!! Tetapi bukan ini yang ingin kuceritakan, ada yang lebih sial dari pada kisah-kisah tadi, peristiwa ini terjadi, ketika siang tadi pukul 12:00, ketika matahari terdiam dan mungkin sedikit lagi akan menangis karena perbuatanku yang sadis. Tuhan telah menegurku untuk berakhir pada pertandingan di kebun anggurNya yang subur nan permai. Saat itu aku sedang berdua bersama teman murahanku, Handphone (HP) yang kuletakkan manja pada telinga kiriku. Tak aku sadar tangan ‘Tuhan’ yang lembut mengetok  pundakku yang kecil dan berseruh singkat.

 ”Matikan dan berikan HP itu padaku”. Aku hanya berdiam kaku, dan sedikit lagi bisa kejang    kedua bola mataku. Saat itu mulutku yang awalnya cerewet hanya mampu menganga dan berharap agar air ludahku mengalir rapi pada bibirku yang merah mengering, dan saat itu kedua bola mataku yang awalnya segar, seketika itu mengering dan tak mampu menangis akan penyesalan bodohku ini. Aku seperti orang bodoh yang berdiam kaku dan tak mampu berkata apapun, hanya hati yang selalu berseru: “Siang yang membawa sial!!!!.”. Tegasku dalam hati. (Sambil tangan kananku memukul tembok kamarku).

                                                                             ***
      Rambut kriting berbentuk mie instan bermerek mie sedap. Aku sering dikenal oleh teman-teman dengan panggilan Mas Iting (mungkin karena rambutku). Aku tahu namaku tak seindah dengan nama mas-mas yang lain; seperti Mas Daeng, Mas jojo atau Mas Ridho, dll. Tapi berbicara tentang nama mas itu tidak penting, yang lebih penting ialah masalahku hari ini, yang aku lihat sebagai teguran Tuhan, agar aku mungkin cocok  untuk menjadi “Mas” dalam keluargaku nanti,  jika pertandingan ini memang benar-benar berahkir. Kejadian ini benar-benar membawa luka yang tak mampu kuceritakan lagi pada teman-teman, biar luka ini kupikul sendiri pada hatiku yang selalu memohon doa yang baik, tetapi emosiku sering memuntahkan doa yang buruk. Ini adalah penderitaanku. Cukup cerita siang yang sial ini, yang akan kutulis pada buku harianku di atas meja belajar yang sepi ketika malam waktu tidurku menanti. Ketika malam semakin larut dan mulutku menguap, Akupun kembali pada kamar tidurku, melangkah kakiku dengan beban yang perih. Aku duduk pada kursi yang sepi, menutup buku harianku yang berbalut sedih pada meja yang dingin dan beranjak ketempat tidur yang telah menanti untuk dijamah. Jamahan tempat tidur belum mampu merangsang nafsu tidurku sebab pikiranku masih tebayang akan kejadian siang tadi. ”Apa yang harus kuperbuat sekarang agar hari esokku dapat kunikmati dengan bahagia, aku tak mau tersiksa atas penderitaan ini yang membawa luka yang lumpuh. Bagaimana dengan orang tuaku, keluargaku, teman-temanku, kalau mereka tahu kejadian ini. Aduh...bisa, mati aku....” Ungkap cemasku dalam hati yang sedang tertatih-tatih perih dan takut. Saat itu kubangun dari tempat tidurku, kududuk memandang patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus  yang tersenyum permanen tanpa kenal kapan akan berhenti tersenyum untukku. 

“Kenapa Bunda tersenyum padaku, apakah Bunda bahagia melihat kejadianku hari ini, Bunda pasti senang to!! Bunda tidak baik...Yesus juga.. TIDAK BAIK!!!!!!!!!.” Bentakku saat itu, seakan-akan Bunda dan Yesus yang kuimani, kupersalahkan karna rasa kecewaku. Aku semakin gila, bodoh, stres berlipat ganda sehingga bentakku hampir membangunkan burung-burung yang sedang tertidur di luar. Sepi semakin sepi, sunyi semakinn sunyi, sendiriku ini berharap ada yang menemani, tetapi tak ada arti, semunya sudah terjadi, tak bisa terulang kembali dan hanya mampu tersimpan indah dalam memori sebagai luka yang perih. 

Malam semakin dingin, tetapi hatiku semakin panas, ada bunyi ayam yang berkokok di samping kamar tidurku menandakan bahwa hari sialku pasti tak akan berahkir. Aku semakin takut sebab kesepian ini pasti akan membawaku pergi dan bersiap meninggalkan semua teman-temanku yang telah kuanggap sebagai pengejar masa depan bersama.Waktu sudah menunjukan pukul 12:00 malam, dan ada suara yang memanggilku dari luar kamarku.

”Iting.... Iting....we kriting jelek, bodi roti berlemak biawak.. belum tidur ko. Buka pinto dolo” Suara itu tidak asing bagiku, suaranya fals dan tak mungkin kutemukan dalam not balok , tapi suara ini hanya ditemukan dalam not papan iris punya tantaku Vero, ketika sedang memotog sayur. Suara seperti itu hanya dimiliki oleh sahabatku Mone. Aku tak mau menyahut sebab cerita malam ini akan semakin panjang ketika kubalas panggilannya.

”Iting eehh, buka pintu dolo beta mau cerita di lu sesuatu ni, ini penting deng beta pung panggilan ni ko,...wala iting buka dulu ko. Pliss”. Mendengar suaranya yang benar-benar memohon, aku berlangkah kaki dan membuka pintu kamarku. Saat kubuka kulihat wajah Mone yang hitam telah menjadi merah seakan memberi simbol bahwa memang dia pasti ada masalah besar. “Kau kenapa lagi biawak eh.. muka kaya anjing bakar saaa”. Sapaku dengan gaya candaan yang biasa kami lakukan ketika bertemu. Dia tidak menjawab, hanya diam berbalut tarikan ingus miliknya yang keluar dari lubang hidungnya yang sempit seperti sumpit buatan cina. Lalu sambungku lagi, 

”Kau ada masalah apa lagi,saya ju ada masalah nii”.Dengan muka sedikit berubah Mone tersenyum tipis padaku.
”Tem...bantu be dolo , bisa ko sonde nhi,” 
“Bantu apa lagi, sy ju ada masalah nhi”.
.” Bantu korek be pu pantat dolo, gatal ni”.
 Lalu dia berteriak dan tertawa seperti orang yang kemiskinan tertawa bertahun-tahun. Saya hanya diam dan melihatnya tertawa sampai sejauh mana dia masih tertawa akan candaan buruk yang biasa dia lakukan.
“Sudah cape tertawa atau masih mau tertawa.” Tegurku.
“Sudah puas eh tem.. korek pantat dulu,”  sambungnya sambil tertawa lagi.
Aku hanya tertunduk lesu dan ingin kupukul hidungnya dengan tonjokan superku. Tapi malam ini saya sedikit kecewa akan kelakuaannya sebab dia tidak mengerti akan keadaanku setengah hari ini. Dengan hati yang terluka dan ditambah luka oleh sahabat gilaku ini. Aku stressss dan hampir diabetess !!!
”Kenapa kau tidak tertawa, biasanya kau tertawa lebih besar dariku.” Sambungnya dengan suara jeleknya.
” Tidak ada yang lucu.” jawabku singkat.
 Wajahku saat itu marah, merah dan kutunggu berdarah agar dia tahu kalau aku sedang berada pada situasi luka. 
“Kayanya kau bahagia sekali malam ini,” potongku.
“Hidup harus bahagia kawan biar ada luka harus bahagia, karena luka bisa sembuh ketika senyum itu terbagi.”  Sambungnya dengan kata bijak kunonya.
“Tem saya mau curhat di kau tentang be pung masalah ni,” 
Dengan tenang dia menjawab, “Iting be su tau lu pu masalah sonde usa lu cerita le. Be datang hanya mau ganggu lu sedikit sah supaya lu tersenyum. Be sonde mau lu tersiksa hanya karna luka yang singkat.” Memeluk pundakku sambil tersenyum.
“Jadi sekarang be harus karmana. Be takut deng be pung orang tua, keluarga, kawan-kawan, kalau dong tahu be pu masalah tentang HP deng perempuan ni ko.” Jawabku sambil menunduk kepala akan rasa maluku.
“Supaya hari besokmu indah dan tidak terbawa luka seperti hari ini, jujurlah pada mereka, biacara secara dewasa dan ingat tidak boleh tipu-tipu. Kalau kamu mau harimu lebih baik dari hari ini kawan.” Sambungnya.   

Dingin malam semakin mengerat urat nadi tubuhku, seaakan-akan aku ingin berteriak agar hati ini benar-benar tenang, tetapi sudah malam. Sial aku tak jadi berteriak. Aku hanya mampu tertunduk malu dan merefleksikan apa yang dikatakan sahabatku tadi. Suasana malam ini serasa seperti peristiwa tragedi Titanic yang berat melepaskan kepedihan, ketika ujung penderitaan sudah di depan mata yang siap mengalir tetesan embun tangisan perpisahan di ujung kapal yang siap tenggelam. 

“Kawan mungkin besok hariku tidak sebahagia malam ini bersamamu. Besok pasti aku akan pulang meningalkan banyak kisah indah di kebun anggur ini bersama para pater, frater, bruder dan banyak kisah bahagia lainnya. Tapi aku tidak menyesal, hanya mampu kukatakan kepadamu bahwa kutahu Tuhan memberikan aku jalan lebih baik meski tidak di jalanNya ini, mungkin diluar. Tapi hal yang berat kulepaskan adalah kalian semua, itu yang belum bisa kulepaskan dari penderitaanku saat ini. Aku seakan berada pada ujung kapal Titanic yang siap tenggelam kawan.” Tuturku sambil air mataku mengalir pedis. Suasana semakin dingin, tetesan air mata antara aku dan Mone semakin panjang, tak kalah tarikan ingus milik kami pun masih bersuara serak, mungkin karena lubang hidung Mone yang sempit seperti sumpit sehingga lubang hidungnya sedikit terjepit. Sambil berpeluk, Mone mengungkapkan kata ajaibnya yang terahkir untukku. Bagi dia kata ini ialah kekuatan dalam segalah obat untuk menyembuhkan penderitaan. Dengan tenang, suasana semakin serius, angin pun terasa sepi, tapi pelukan kami tetap menyepi pada dada yang sedih. Saat itu Mone berkata, “Iting semua masalah akan berahkir ketika berdua bersama Tuhan dalam hati yang sepi dan sendiri. Bicaralah saat ini pada Tuhan yakin dan percaya bahwa Tuhan akan mendengarkan doamu yang kau ungkapkan dalam tangis. Jangan takut, percayalah bahwa Tuhan telah menyiapkan kebun anggurmu yang lebih baik dari kebun anggur yang lain. Berdoalah sekarang, bawa semua penderitaanmu, kecemasaan, ketakutan, kegelisahan, dan kesendirianmu ini. DIA yang telah menunggumu di sana dengan senyum yang indah.” Sambil tangannya menunjuk patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus yang berada pada  pojok rohaniku.
“Terima kasih kawan, sudah menjadi Yesus untukku...terimaksih kawan..,” ucapku sambil memeluk Mone dengan hati yang bahagia berbalut tangis yang masih megalir rapi di pipi.
Waktu semakin sempit, hari pergiku sedikit lagi berahkir, tertinggal hitung jam di dinding kamarku. Mone bangun berdiri mungkin karena matanya sudah sayup-sayup mengatup.
“Iting be pi tidur dulu.. be su menyantuk besok baru lanjut lagi, ini su jam 02:15.” tuturnya sambil menguap persis kerbau punya opaku Riko Safe.
“Iya.. tapi sebelum pi tidur ada pesanku buatmu malam ini.” sambungku.
“Pesan apa... Pesan harus punya makna untuk be pung panggilan ju.” Jawabnya dengan gaya sombongnya dengan mengangkat hidung kecil dan sempit itu.
“Setialah pada panggilanmu. Ingat!!! Tuhan akan sangat cemburu ketika hati yang telah kau ikat denganNya, kau duakan dengan semaumu. Sekarang katakanlah dalam hatimu kalau Tuhan adalah alasan kenapa aku tidak mencintai tuhan-tuhan lain. (HP, Perempuan dan Harta duniawi yang semakin mendunia ini) INGAT ITU!!!!!” Sambil kupukul dadahnya sebagai tanda persahabatan kami.
 ”Terimakasih kawan, jadi awam yang baik dan jangan lupa besok korek be pu Pantat eh.. sebelum pulang.” ungkapnya dengan menujukan pantatnya yang kurus mengering. 

 Saat itu juga kami berdua tertawa, kebahagiaan kami seperti adik kecilku yang baru menerima kado ulang tahun dari orang yang dicintai. Mone pun pergi meninggalkan langkah kakinya di sekitar kamarku yang sedikit lagi akan sepi. Saat ini dalam diam aku berdua bersama Tuhanku yang awalnya kumarah dan kubentak tadi. Kuhampiri dengan rasa bersalah, kuberlutut memohon ampun dan meminta kekuatan pada-Nya. Lalu kusampaikan doa singkatku :  

 Kepada pemeluk teguh 

 “ Tuhanku. Dalam termangu. Aku masih menyebut namaMu. Biar susah sungguh, mengingat Engkau penuh seluruh. CahayaMu panas suci, tinggal kerdip lilin di kelam sunyi. Tuhanku,. Aku hilang bentuk, hatiku remuk dan pasti susah untukku bentuk.  Tuhanku........Sebentar lagi aku akan mengembara di dunia asing, temani aku,Tuhah....Aku mohon, sebab hatiku rasanya mau mati saja. Tuhanku, dipintuMu aku mengetuk, aku tidak berpaling, hanya mampu memohon ampun...Ampuilah aku orang berdosa ini. Agar pagi indah kembali.  Amin. ”

Mengatup tangan yang rapi pada dadah yang membawa air mata untuk menangis. (semoga Tuhan mendengarkan doaku. Tidurlah bersamaku malam ini agar besok dapat KITA nikmati pagi yang indah). Bisikku dalam pikiranku sebelum mata mengajakku untuk tertutup tidur.                     
     
                                                                               ***
Ayam jantan telah berkokok rapi dan  kawanku Arisman membangunkanku dengan bunyi ngorok berdahak ala kerbaunya yang besar di samping kamarku. Aku kaget mendengar bunyi ngorok itu dan aku juga kaget karena waktuku untuk pulang akan berahkir. 

“Terimakasih atas pagi-Mu yang indah ini, Tuhan, meski aku dibangunkan dengan bunyi dengkur yang sadis, tapi akan menjadikan cerita tuaku yang abadi.” Aku berlangkah pergi meninggalkan kebun anggur Tuhan dengan memikul tas gitarku, sepasang koper hitam  dan botol biru kesayanganku. Terimakasih Tuhan sudah dengarkan doaku semalam, semoga tiap-tiap amin yang kudaraskan penuh iman membuat hidupku aman. Selalu.

(Bernad Realino adalah alumnus Seminari BSB Maumere, pernah menenun sunyi di Biara SVD St. Yosef Nenuk, Atambua. sekarang tinggal di Maumere).  
×
Berita Terbaru Update