-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Akankah COVID-19 Membuat Orang Lebih Beragama?

Senin, 01 Juni 2020 | 22:48 WIB Last Updated 2020-06-01T15:48:27Z
Akankah COVID-19 Membuat Orang Lebih Beragama?
Akankah COVID-19 Membuat Orang Lebih Beragama? - Ilustrasi: google

…[Selama Pandemi, internet dipenuhi dengan topik "DOA", "RENUNGAN" "NYANYIAN ROHANI" "KHOTBAH-KHOTBAH yang meroket tajam di 75 negara. Semua ini adalah "resep khusus" untuk meningkatkan religiusitas -Jeanet Sinding Bentzen]…

Ketika orang lapar dan keluar dari pekerjaan, ketika orang telah didiagnosis dengan penyakit mematikan, ketika orang berada dalam pernikahan yang tidak bahagia, ketika orang menderita gangguan kecemasan atau kecanduan, ketika orang hidup di zona perang- semua keadaan ini tak jarang menggiring orang untuk mulai berputus asa, tak berdaya. Nah, di situlah keyakinan agama muncul. 

Keyakinan bahwa ada Tuhan yang maha kuasa dan penuh kasih yang mencari umat-Nya dan bisa memberikan  penghiburan. Keyakinan bahwa penderitaan seseorang saat ini hanya sementara, dan akan diikuti oleh kebahagiaan abadi, bisa menjadi BALSAEM PSIKOLOGIS.
Yesus sendiri pernah berkata "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu [Mat 11:28]… "Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur [Mat 5:4]…

Para Ateis telah lama memahami fungsi agama sebagai penghibur. Pada pertengahan 1800-an, Karl Marx menegaskan bahwa banyak orang miskin yang dieksploitasi secara religius karena kehidupan mereka sangat menyedihkan sehingga mereka mendambakan semacam pelarian; tidak mampu membeli obat-obatan atau alkohol, mereka beralih ke iman. Agama, kata Marx dengan singkat, adalah "candu rakyat." 

Pada awal 1900-an, seorang ateis lain, Sigmund Freud, dalam bukunya The Future of a Illusion berargumen bahwa orang-orang percaya kepada Tuhan karena kepercayaan semacam itu membantu mereka mengatasi dunia yang penuh dengan penderitaan. Orang-orang membayangkan bahwa ada sosok ayah yang perkasa yang menjaga, melindungi dan mencintai manusia tanpa syarat.
Nah penelitian ilmiah sosial terbaru telah membuktikan baik Marx maupun Freud sebagian besar benar … bahwa orang yang hidup dalam situasi genting lebih religius daripada mereka yang hidup dalam situasi yang lebih aman. 

Dalam buku "The Sacred and the Secular" Ronald Inglehart dan Pippa Norris menunjukkan bahwa negara-negara yang ditandai dengan tingginya tingkat kemiskinan, kejahatan, penyakit, dan ketidakstabilan politik cenderung memiliki populasi agama yang jauh lebih banyak daripada yang lebih makmur, aman, sehat, dan negara-negara yang secara politik stabil. 

Menurut penelitian mereka, ketika orang hidup dalam kehidupan yang tidak aman - atau dalam situasi genting, orang-orang lebih cenderung beralih ke agama daripada ketika mereka hidup aman dalam masyarakat yang stabil dan tenang. Mereka menyebut contoh, mengapa agama sangat kuat di negara-negara seperti El Salvador dan Mozambik, tetapi sangat lemah di negara-negara seperti Swedia dan Jepang.

Pertanyaan kita, bagaimana semua ini berhubungan dengan COVID-19?
Sudah lebih dari 1,6 juta orang telah tertular virus. Sudah banyak yang meninggal karena virus mematikan ini. Banyak negara terkunci. Bisnis tutup. Orang-orang kehilangan pekerjaan dan kehilangan uang. Orang terisolasi dari teman dan keluarga. Orang-orang khawatir. Orang-orang takut.
Semua ini adalah "resep khusus" untuk meningkatkan religiusitas. Hasil inilah yang ditemukan oleh Jeanet Sinding Bentzen, Profesor dari Copenhagen University baru-baru ini. Dia mengatakan, selama Pandemi internet dipenuhi dengan topik "DOA", "RENUNGAN" " KHOTBAH-KHOTBAH yang meroket tajam di 75 negara.

Terlepas dari kenyataan bahwa tidak ada bukti bahwa doa menghasilkan efek yang terukur, tidaklah mengejutkan bahwa orang-orang sekarang beralih ke teknik religius untuk kenyamanan selama pandemi.

Manila, 01 Juni 2020

Oleh: Pater Garsa Bambang, MSF
×
Berita Terbaru Update