-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Allah Selalu Bersamanya (Membaca Puisi Petrus Nandi)

Minggu, 14 Juni 2020 | 09:54 WIB Last Updated 2020-06-14T03:06:57Z
Allah Selalu Bersamanya (Membaca Puisi Petrus Nandi)
Allah Selalu Bersamanya (Membaca Puisi Petrus Nandi) - Ilustrasi: google

Oleh: Anselmus Sahan
Dosen Universitas Timor, Kefamenanu, Timor, NTT

Puisi adalah ekspresi diri seorang penulis terhadap apa yang dia rasakan dan alami. Perasaannya dia biarkan terpahat di dalam deretan kata. Kata-kata itu akan menguraikan secara mendalam pengalaman dirinya, entah oleh hasil peresapan dirinya sendiri atau peleburan dirinya dengan diri yang lain.

Sebagai sarana ekspresi diri, puisi tentu saja mampu merekam jejak sang penyair atau penulisnya. Ia mampu menjembatani pengetahuan umum tentang seseorang dengan apa yang dilakukan dan dialami. Bahkan, ia akan mampu menceritakan asal usul dan keadaan keluarganya. 

Untuk memahami pemahatan pengetahuan dan pengalaman penyair dalam mengkomunikasikan dirinya dengan dunia yang membentuknya, saya menelaah empat buah puisi, yang ditulis oleh salah satu penyair muda NTT, Petrus Nandi. Puisi-puisinya dimuat di media online Societasnews.id (Rabu, 10 Juni 2020).

Morfologi Puisi Nandi

Nandi adalah sosok calon imam Scalabrinian. Dia sedang menyelesaikan studi di STFK Ledalero, Maumere, Flores. Selain berstatus mahasiswa, saat ini dia aktif di komunitas sastra Djarum Scalabrini dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). 

Untuk memperlancar interpretasi ini, saya memperkenalkan dulu morfologi puisinya. Dengan begitu, kita akan mengetahui jumlah puisi dan bentuk penyajiannya. Selain itu, sebagai titik bahasan saya, di akhir penampilan morfologinya, saya akan menarasikan keempatnya dan mencoba melihat lintas hubungannya antarsatu dengan yang lain sampai terbentuknya sebuah dunia, yang dia sajikan dalam keempat puisi tersebut. Di akhir analisis, saya akan berusaha menjelaskan asal usul penyair.

ANTOLOGI PUISI PETRUS NANDI

Sia-sia 1

Di tangan kita ada sesuatu yang digenggam:
Ampas yang dikirim Tuhan lewat langit,
Matahari, hujan dan angin
Yang telah kita babtis atas nama kita sendiri
Meskipun esok hilang 
Atau pergi ke tangan-tangan yang lain.

Sungguh, takdir kita sekadar buat menghayati 
Rupa-rupa semu.
Esok, kita bakal mengenang segala kesombongan ini
Esoknya lagi, kita pandang segala hina
Saat mati kelak, kita hanya akan meninggalkan 
Kefanaan yang kita ciptakan sendiri.

Puncak Scalabrini, Mei 2019.

Sia-sia 2

Apakah yang dapat kaumaknai tentang hidupmu kini
Bila waktu tak lain dari detik yang berkelebat
Tanpa melambaikan tangan, menuju masa lalu

Hari-harimu tiada berhenti
Mengejar bayang-bayang rindu yang tak pernah tuntas
Sedang ia tiada henti pula menertawaimu setiap saat

Sungguh, kau telah mencurahkan derai keringatmu 
Sungguh, kau telah berdarah-darah 
Untuk sebuah kesia-siaan.

Puncak Scalabrini, Oktober 2019.

Dongeng Pagi

Ada yang selalu menyapaku pada setiap permulaan pagi.
Dihamburkannya berkas-berkas cahaya lewat jendela
Dan mengecup kelopak mata yang masih terkatub
: Jadilah ia pandangan pertamaku hari itu.

Pagi memang selalu setia merawat kiatnya
Dikirimnya nyanyian tua dengan bunyi syair
Yang tak pernah berubah
Dan meletakkannya pada mulut ‘si jago’
Yang penuh bangga melantunkannya, 
Sesaat setelah ia terbangun.

Dan jika saja aku tegar memeluk mimpi, 
Tentu saja ada cara lain yang hadir tanpa kuduga:
Dipaksasakannya isi pikiranku pergi ke sebuah dunia lain,
Menembusi dinding kamar 
Dan mulai membayangi deretan detik masa depan 
Atau terbang ke angkasa dan merobek langit-langit rumah

“Gila! aku sedang bermimpi”.

Kualihkan mataku ke luar jendela 
Kudapati udara dingin sedang memeluk pagi yang basah.

Puncak Scalabrini, September 2019.
  
Pagi Ini
: Dr. Leo Kleden

Pagi ini engkau kembali hadir 
Dengan swara yang selalu sama warnanya
Pun aku teguh mengakrabinya.
Kaulantunkan syair yang tak lekang dari ingatanmu
Dan aku benar-benar mabuk
Hingga kata-katamu tumpah di telaga anganku.

Ledalero, September 2019.

Narasi Relasional

Secara teologis, Allah sesungguhnya menciptakan dua polaritas dalam kehidupan manusia: ampas (useless) dan berguna (useful). Dalam puisi pertamanya ‘Sia-Sia 1’, Nandi hanya mengedepankan sebuah dunia: ampas. Dia memiliki alasan kuat untuk hanya menjejal ampas sebab saat ini, manusia melupakan kebaikan Allah.

Menurut Nandi, hidup manusia ‘ampas’ dikirim Allah lewat angin, matahari, hujan dan angin. Ia bisa hilang dan bahkan berpindah tangan. Karena ada ampas, kehidupan pemiliknya hanyalah sebuah kesemuan yang membuahkan kesombongan. Buah dari kesombongan ialah hinaan. Maka, tidak heran, saat pemiliknya meninggal dunia, hanya kefanaan yang mengantarnya menuju keabadian.

Penulis, saya sengaja tidak menyebutnya penyair, memaknai hidupnya sebagai kesia-siaanya yang berkelebat, yang memang seperti terlepas dari masa lalu. Karena tak ada lagi bekas di masa lalu, seperti terlukis pada puisi kedua ‘Sia-Sia 2’, pantas jika hari-harinya cuma mengejar kegelapan dan kepalsuan tiada tepi dan kesia-siaan itu justru menertawakan dirinya sendiri. Bahkan, sekalipun pemilik kesia-siaan itu bekerja keras, hingga berdarah, hasilnya tetap sama: kesia-siaan itu sendiri. Palsu kan?

Jika puisi 1 dan 2 diliputi dengan kabut gelap, puisi ketiga ‘Dongeng Pagi’mengisahkan kenikmatan atas kesadaran hidupnya yang sungguh-sungguh bersumber dari Allah, Sang Pencipta. Ia menyadari bahwa Allah hadir menyapanya melalui cahaya mentari. Kekuatan cahaya itu mampu membukakan matanya. Matanya pun sontak berkedip lalu ia menyadari itu sebagai sebuah kesadaran tentang keagungan Sang Pencipta.

Tidak saja cahaya yang mengedipkan matanya. Allah menyadarannya juga melalui suara penuh sair bernada sama setiap saat. Sair-sair itu terkuak lewat mulut ayam jantan, bukan betina. Ayam itu mengokok dengan bangga.  Itu yang membangun dia.

Dia tentu beruntung. Sebab dengan sair-sair dari mulut ‘si jago’ itu, dia tidak terlelap dalam mimpinya. Jika tidak, dan memang dia kuat hadapi kelelapan mimpi, dia akan memaksakan pikirannya untuk terbang ke dalam lamunannya ‘dunia lain’. Penerbangannya itu menembusi kefanaan ‘dinding kamar’, sekalipun gelap, dan mengantarnya ke dunia lain ‘angkasa’ dan ‘langit-langit rumah’. Itu makanya dia mengakui bahwa dia sedang bermimpi.

Untuk kedua kalinya, dia beruntung. Sebab ia segera mengalihkan kesadarannya dan dia menyadari bahwa Allah sudah menyiapkan hari baru baginya. Hari yang selalu penuh dengan udara dingin dan pagi baru yang cerah. 

Ia menyadari bahwa kasih Allah tidak pernah berkesudahan baginya. Setelah bangun di pagi itu, di hari baru lagi, di dalam hidupnya, Allah menyapanya melalui suara seseorang, yang setiap hari ada dan hidup bersamanya. Itulah jiwa dan raganya, yang secara sadar dia ukir pada puisi keempat “Pagi Ini: Dr. Leo Kleden”.

 Dia sangat mengenali suara itu, suara Dr. Leo Kleden (dosen STFK Ledalero) karena dia selalu menghabiskan waktunya bersama sumber suara tersebut. Karena itu, dia meresapi itu di dalam hatinya dan yakinkan dirinya bahwa itu akan selalu tertanam dan terpahat indah di dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya. Maka, tidaklah heran, karena kepercayaannya kepada sumber suara tadi, dia mengakuinya sebagai Allah yang sangat dekat dengannya. Seraya mengatup tangannya, dia benar-benar sadar bahwa sosok itu yang selalu membukakan kesadaran raga dan hatinya.  Kesadaran itu senantiasa dan setiap saat menghidupi seluruh denyut nadi kehidupanya, jiwa dan raganya, dan dia membiarkan dirinya diisi dengan nasihatnya.

Relasi Fiksi dengan Fakta Rasional

Jika dilihat dari seluruh deskripsi puisi di atas yang bermakna narasi relasional maka didalamnya memuat pesan bahwa memang, dalam kenyataan, manusia harus peka dengan suara Allah. Kepekaan itu akan selalu mendewasakan diri kita tentang Mahakuasanya Allah, yang datang mengetuk jiwa dan raga kita dengan berbagai cara. 

Narasi relasional ini mempertegas kenyataan bahwa jika kita hendak memilih kesia-siaan, mudah saja diterima dan dipraktekkan. Namun, saat kita harus kembali kepadaNya, bekal kita hanyalah kefanaan itu sendiri dan itu tak cukup mengantar kita ke pintu keabadian. Sebaliknya, jika jiwa dan raga kita mampu mendengar dan menelaah secara cermat media yang Allah gunakan, kita akan memiliki kebergunaan dalam hidup ini. Itulah bekal kita kelak saat harus kembali ke pangkuan Sang Empunya hidup.

Sadar atau tidak, narasi relasional ini mengajarkan kita bahwa kesia-siaan adalah isi dari relasi fiksi. Fiksi tersebut berjarikan kebohongan, kegelapan dan ketulian. Jari-jari ini mengakar kuat pada diri seseorang. Itulah yang terangkum dalam puisi 1 dan 2. 

Sebaliknya, relasi bermutu termuat pada puisi 3 dan 4. Jika pada puisi 3, Allah menyapa umatnya lewat kokokan si jago, maka hendaklah manusia selalu menyukuri kebesaranNya. Kokokan itu adalah lonceng pagi milik Allah, yang hendak mengingatkan umatnya untuk segera bangun, berdoa untuk memulai hari baru dalam bentangan rahmatNya dan menjalankan tugas kemanusiaan dengan iklas sebagai media pemuliaan nama Allah. Di sinilah fakta rasional tercipta oleh manusia.

Namun, relasi rasional itu menghendaki sebuah kesadaran nyata. Bahwa kebesaranNya menyata pada diri atau melalui orang lain. SuaraNya menyatu dengan orang-orang yang tiap saat hidup dan bergumul dengan kita. Karena itu, kita sungguh-sungguh mengenali suara, derap langkah, dengkuran dan wajahnya. Semua itu dengan mudah terpahat di dalam relung hati kita. Itulah relasi rasional nyata yang terungkap pada puisi 4. 

Asal Usul Penyair

Baik narasi relasional maupun relasi fiktif dan fakta rasional sebenarnya menggoreskan sebuah natalisasi yang membentuk kesatuan komunal mengenai asal muasal penulis puisinya. Dari keempat puisi Nandi, kita bisa temukan klu mengenai dirinya. Satu-satunya klu yang sangat kuat mewartakan natalisasi komunalnya ialah ‘si jago’.

Kita tentu memiliki pengalaman. Misalnya, jika kita tinggal di kota besar, seperti Jakarta, Surabaya dan Jogyakarta, kita nyaris tidak pernah mendengar kokokan ayam. Kita pasti akrab dengan klakson mobil, kereta api atau kendaraan yang sedang melintas di sekitar rumah atau kost kita. 

Kokokan ayam mengindikasikan bahwa penulis lahir di kampung atau kota kecil. Di sanalah komunitas yang membentuk pikiran, perkataan dan perbuatannya. Komunitas itu sangat mudah mengenali suara ayam, babi (apalagi), burung dan lain-lain. Jika saat ini penulis sedang berada di kota, dapat dipastikan, ukuran kotanya ialah kota kecil, seperti Kupang dan beberapa kota lainnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  

Tanpa meremehkan asal usulnya, saya hanya mau mengatakan bahwa diksi ‘si jago’ memang akrab pada orang desa atau kota kecil. Namun, diksi inilah yang membuat penulisnya sekarang bisa menikmati dunia di luar desa atau kota kecilnya dan bahkan bisa merasakan kehadiran Allah melalui diri orang lain, seperti dosen dan sesama teman mahasiswa calon imam di tempat pendidikannya. Perasaan bersama orang lain itu jugalah yang membuat dia terbangun dari kesadarannya bahwa “Allah selalu bersamanya”. (***)
×
Berita Terbaru Update