-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Beriman Karena Tuhan; Catatan Kritis Tentang Persoalan Aplikasi Alkitab Berbahasa Minang

Selasa, 09 Juni 2020 | 21:57 WIB Last Updated 2020-06-09T15:00:38Z
Beriman Karena Tuhan; Catatan Kritis Tentang Persoalan Aplikasi Alkitab Berbahasa Minang
Beriman Karena Tuhan; Catatan Kritis Tentang Persoalan Aplikasi Alkitab Berbahasa Minang

Ketika hati dan rasionalitas dipenuhi kegelapan, maka kita melihat sesuatu di depan mata itu gelap. Tidak ada terang.  Pemandangan indah dan memesona di hadapan kita menjadi kabur. Kebencian, dendam, amarah, irihati menjadi cara pandang dalam kegelapan tersebut. Namun kita mengira bahwa apa yang kita pandang tentang sesuatu ataupun seseorang dalam kacamata kegelapan adalah terang. Padahal tidak! Kegelapan itu adalah terang baginya. 

Hal senada dilakukan Gubernur Sumatra Barat (Sumbar) Irwan Prayitno yang melihat aplikasi Alkitab berbahasa Minang,  lalu mengirim surat ke Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate untuk meminta pihak Kemenkominfo menghapus aplikasi Alkitab berbahasa Minang tersebut. Tindakan Gubernur tersebut dilandasi hati dan cara pandang yang dipenuhi kekalutan. Dia menganggap bahwa adanya aplikasi tersebut bisa merusak tatanan kehidupan beragama tertentu. Jelas kegelapan menguasai hatinurani dan rasionalitas. 

Anehnya, permintaan gubernur ditinjau dari pendekatan budaya masyarakat Sumbar. Persoalan aplikasi Injil berbahasa Minang dipolitisir dengan dalil budaya setempat. Pertanyaannya, mengapa Bapak gubernur merasa takut dan cemas dengan adanya aplikasi Injil berbahasa Minang? Ada apa dibalik pernyataan tersebut? 

"Kan di Sumatera Barat, kita tahu juga di sini ada budaya. Jadi memang kultur Islam lebih dekat dengan Sumbar. Bukan membedakan agama, ndak. Tapi ini budayanya. Jadi budaya di Sumbar arahnya Islam. Nah berdasarkan itu, tentu tatanan budaya itu patut kita hargai karena budaya itu kan sebuah kepribadian orang Minang kan," kata  Zardi saat dihubungi, Kamis (4/6/2020).

Pernyataan seperti ini bernuansa profokatif yang dilatari ketakutan mendalam. Ada kerapuhan iman menggerogoti jiwa. Dia tidak yakin dengan apa yang diimani. Atau Ketangguhan imannya bisa dipertanyakan. 

"Bahwa aplikasi tersebut sangat bertolak belakang dengan adat dan budaya masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah 'Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah'," tambahnya.

Jadi, jika anda beriman, berimanlah tanpa harus bertentangan dengan orang lain karena orang lain tidak mengusik ziarah imanmu. Seperti kata Bapak Gusdur, imanmu adalah imanmu dan imanku adalah imanku.  Tuhan lebih melihat imanmu dari kata-kata, perbuatan dan cara hidupmu. Berimanlah karena Tuhan bukan pertama-tama karena sesama. (EF)
×
Berita Terbaru Update