-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berpolemik Dengan Akal Sehat

Kamis, 04 Juni 2020 | 12:01 WIB Last Updated 2020-06-04T05:01:05Z
Berpolemik Dengan Akal Sehat
Berpolemik Dengan Akal Sehat -Ilustrasi: google

Oleh: Sil Joni*

Dunia pemikiran akan berkembang jika dan hanya jika kita tidak terjebak dalam absolutisme atau dogmatisme yang akut. Mentalitas ilmiah sebetulnya 'pemali' untuk mengkultuskan pemikiran sendiri. Kita menyajikan pemikiran yang bersifat diskursif, bukan kumpulan dogma yang mesti diterima oleh siapa saja. 

Perspektif seseorang entah diadaptasi dari doktrin agama tertentu, tentu bersifat terbatas. Klaim bahwa 'tafsiran kita lebih baik dari orang lain' tentu saja bisa dibaca sebagai ekspresi arogansi intelektual. 

Karena itu, dalam membangun perdebatan di ruang publik, kita perlu 'menghargai perpektif' partner debat. Bagaimanapun juga, persepsi individual itu mesti dikonfrontir dengan gagasan orang lain. Kebenaran yang kita sajikan tidak bersifat absolut, tetapi bersifat dialogis dan terbuka untuk diperdebatkan. Berdebat tentang Pancasila sebagai 'etika publik' misalnya, kita tidak bisa 'memaksa tafsiran keagamaan kita' untuk dijadikan panduan dalam hidup bersama. Konsep hidup baik yang ditawarkan agama tentu bersifat heterogen. Untuk itu, kita butuh 'panduan moral' yang relatif bisa mengakomodasi semua konsep yang beragam tersebut.

Selain itu, dalam bertengkar di media, semestinya kita tetap mengedapankan 'rasionalitas' yang jernih. Argumentasi yang dibangun mesti bisa dipertanggungjawabkan di hadapan nalar. Unsur emosi (persaan) sedapat mungkin disisihkan. 

Media massa dan media sosial (Medsos) dalam perspektif kajian sosial dan budaya merupakan salah satu instrumen public-space, ruang terselenggaranya aktivitas diskursif; pendekatan penalaran yang produktif dan berkualitas.

Isu-isu krusial yang bersentuhan langsung dengan 'dimensi kebaikan publik', diperbincangkan secara elegan dan rasional tanpa adanya represi, restriksi, intimidasi, dan manipulasi dari pribadi atau kelompok otoritatif tertentu yang berusaha menguasai ruang publik.

Secara ideal, ruang publik adalah arena diskursif, tempat di mana publik mempertimbangkan dan memperdebatkan berbagai kebijakan yang didesain dan dieksekusi oleh pemerintah. Oleh sebab itu, media sosial sebagai satu model ruang publik kontemporer itu bisa menjadi 'penghubung antara ruang privat (keluarga) dan ruang otoritas publik (pemerintahan). Ruang itu menjadi medan 'perumusan dan pengontruksian opini publik' yang bisa mempengaruhi proses pengambilan dan pelaksanaan kebijakan politik.

Sebagai forum diskursus, maka dalam ruang itu, kita akan berhadapan dengan 'pluralitas gagasan'. Setiap individu mempunyai posisi yang egaliter dalam mengungkapkan opini yang berkaitan dengan kepentingan publik.

Perbedaan konsep, ide, minat, dan gaya berkomunikasi, menjadi panorama yang dominan ketika kita 'berpartisipasi' dalam sebuah forum diskusi di media sosial. Benturan pendapat itu kerap bersifat radikal dan 'menghebohkan' dan tentu saja menstimulasi sebuah 'polemik' berseri di berbagai platform media sosial seperti facebook, WhatsApp (WA), instagram, dan lain-lain.

Sebuah pertengkaran (polemik) dinilai bermutu jika masing-masing partisipan diskursus 'memaksimalkan' aspek rasionalitas dalam 'mengupas' isu tertentu. Sedapat mungkin, kita berdebat tentang 'substansi opini' dari rekan diskusi dan bukan terjebak pada arus sentimentalitas dan emosional yang cenderung 'mengaburkan isi perdebatan'.

Dengan formulasi yang lebih simpel, kita mesti 'berpolemik' dengan otak, bukan dengan insting animalitas. Hindari argumentasi yang bersifat 'menyerang karakter pribadi' (argumentum ad personam) dan argumentasi yang mengkredit otoritas tertentu (argumentum ad autoritatem). Mengobok-obok wilayah privasi dan profesi orang, selain tidak etis dan produktif, juga mencerminkan kekerdilan berpikir dan kedangkalan referensi otak.

Perdebatan yang 'belopotan' dengan unsur emosi, amarah, dan dengki, di satu sisi, dianggap sebagai 'bumbu penyedap' pertengkaran intelektual, tetapi 'menghilangkan' esensi debat pada sisi yang lain.

Saya menangkap kesan, polemik yang bergulir di grup facebook Guru Mabar, Menulislah (GMM) seputar Pancasila cenderung mengeksploitasi sisi emosional, ketimbang rasionalitas. Efeknya adalah publik pembaca 'tidak menangkap substansi polemik' seputar signifikansi dan urgensitas revitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam panggung sosial-politik yang majemuk. Kita lebih condong 'memamerkan tafsiran atau persepsi individual' untuk dikonsumsi oleh publik pembaca, sementara pada sisi yang lain kita cenderung alergi dengan kritik.

Saya berpikir, sebagai warga komunitas ilmiah, kita coba memperlihatkan tradisi dialektika yang berbobot di ruang ini. Kita mesti fokus pada gagasan yang berpijak pada penalaran yang logis dan tidak melompat ke isu yang bersifat emosional-personal.

Berpolemiklah dengan akal sehat. Dengan itu, kita tetap menghargai 'idealisme' pembentukan grup ini sebagai wadah latihan menuangkan gagasan secara kreatif dan forum pertukaran ide yang berkualitas.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update