-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bersinar di Tengah Keberagaman

Jumat, 19 Juni 2020 | 07:38 WIB Last Updated 2020-06-19T00:38:24Z
Bersinar di Tengah Keberagaman
Bersinar di Tengah Keberagaman - Urbanus Manehitu

1. Pengantar

“ Pergilah dan wartakanlah Injil ke seluruh dunia “ sebuah ayat suci yang sangat dasyat dan menggetarkan seluruh pewarta sukacita Injil hingga ke pelosok dunia, termasuk wilayah keuskupan agung Jakarta. Tahun 1522 merupakan momentum bersejarah, awal mula masuknya agama Katolik di wilayah keuskupan agung Jakarta melalui perjajian para nelayan Portugis dengan raja Pajajaran, yang ditanda tangani di atas batu berlogo (salib), kini tersimpan di museum nasional Jakarta.Wajah gereja perdana di saat itu tentu saja berbeda dengan yang sekarang ini, seirama dengan pertumbuhan jumlah anggota gereja yang tersendat dan penuh tantangan. Namun, semakin gereja ditantang semakin bertambah jumlah umat Katolik keuskupan agung Jakarta, saat ini sudah mencapai 400 ribuan umat. Pertumbuhan umat yang seperti ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus selalu menjiwai gereja untuk tetap bergerak,berkarya dan bertambah jumlahnya, dan wajah gereja akan tatap ceria dan berubah tahun demi tahun, dan bendera iman gereja Katolik Keuskupan agung Jakarta tetap berkibar hingga saat ini.

Jaman selalu berubah, wajah gereja pun akan berubah mengikuti arus perubahan jaman. Keuskupan agung Jakarta memiliki visi dan misi untuk mewujudkan wajah gereja keuskupan agung Jakarta yang seirama dengan arus perubahan ini. Tulisan singkat ini melukiskan tentang wajah gereja keuskupan agung Jakarta sepuluh tahunan sesuai arah dasar pastoral keuskupan agung Jakarta.

2. Wajah Gereja Keuskupan agung Jakarta

Gambaran tentang wajah gereja sengaja ditempatkan di awal tulisan ini agar menjadi fokus kegiatan pastoral keuskupan agung Jakarta.Wajah gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta yang diturunkan dalam tulisan ini menjadi cermin pelayanan pastoral dalam mewujudkan relasi personal dengan Allah Tri Tunggal, persudaraan sejati dengan sesama sekitar, serta sikap berbela rasa dengan masyarakat sekitar. Secara terperinci, wajah gereja yang dimaksud akan terurai dalam berbagai aspek kehidupan dan kegiatan umat keuskupan Agung Jakarta.

2.1.  Kehidupan Religius

Wajah Gereja Keuskupan Agung Jakarta sepuluh tahunan ke depan haruslah tergambar melalui kehidupan religius, yakni relasi pribadi yang akrab dengan Allah Tri Tunggal. Artinya, Umat Keuskupan agung Jakarta tidak hanya membangun pemahaman dan teori tentang Allah Tri Tunggal, melainkan memiliki iman yang hidup bahwa Allah sungguh menyelamatkan umat Keuskupan Agung Jakarta melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus diimani sebagai sahabat sejati yang selalu hadir dan berkarya bersama umat keuskupan agung Jakarta. Allah tidak dipandang sebagai Dia yang bertakta di tempat yang tinggi dan jauh di atas, melainkan Allah yang selalu solider dan dekat di hati setiap umat beriman. Maka tidak perlu ada rasa kekuatiran tentang hidup karena kita memiliki Allah yang selalu setia menuntun langkah setiap umat beriman menuju terminal suka cita, yakni Yerusalem surgawi, Allah selalu setia menuntun gereja keuskupan agung Jakarta sehingga tetap eksis hingga saat ini. Selain itu, umat keuskupan agung Jakarta diharapkan memiliki keyakinan yang mendalam tentang peran Roh Kudus dalam kehidupan gereja. Roh Kudus merupakan jiwa gereja, yakni Roh “ yang menghidupkan “ gereja untuk berkarya dan berkembang hingga akhir zaman. Adalah dosa yang tidak dapat diampuni, jika kita tidak mengimani peran Roh Kudus dalam hidup kita, khususnya dalam pergerakan gereja keuskupan agung Jakarta.

2.2. Pendidikan Katolik

Selain wajah Gereja keuskupan Agung Jakarta sebagai minoritas dominan yang bersinar melalui kehidupan religius di atas, wajah gereja juga perlu bersinar melalui pendidikan Katolik yang unggul dan terpercaya di tengah kemajemukan masyarakat, wilayah keuskupan agung Jakarta. Kita tentu prihatin dengan pendidikan Katolik yang semakin suram beberapa tahun terakhir ini, selain karena jumlah murid yang semakin menurun, tetapi juga karena kualitas pendidikan yang tidak lagi menjadi unggulan bagi masyarakat. Tugas kita bersama adalah berjuang mengembalikan wajah pendidikan Katolik seperti dulu lagi, yakni pendidikan Katolik yang memiliki karakter mengutamakan common good pilihan masyarakat dan berdaya saing internasional. Saya sebagai salah seorang umat Keuskupan agung Jakarta yang sedang berguru di sekolah Katolik menitipkan harapan yang mendalam kepada seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta untuk bergerak bersama  mengobati pendidikan Katolik yang sedang sakit. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Mari kita membangun rasa memiliki sekolah Katolik sebagai salah satu sarana pewartaan butir-butir Karajaan Allah di tengah kemajemukan masyarakat keuskupan agung Jakarta.

2.3. Kehidupan Ekonomi

Salah satu permasalahan klasik yang menghambat perwujudan wajah kehidupan religius umat Keuskupan agung Jakrta adalah adanya sebagian umat yang kehidupan ekonominya sedang sakit. Konsep religius yang sedang dibangun berkaitan dengan permaslahan ini bahwa jika kehidupan ekonomi menderita sakit maka aspek kehidupan yang lain seperti keimanan, dan pendidikan akan turut merasa sakit, atau terhambat perkembangannya. Maka, salah satu terobosan dari kegiatan pastoral keuskupan agung Jakarta adalah upaya mewujudkan wajah perekonomian umat yang adil, sehat dan sejahtera. Artinya, umat tidak lagi berpikir tentang hari ini  saya dan anak-anak makan apa,  tetapi harus berpikir tentang  hari ini saya tabung berapa untuk masa depan anak-anak, umat tidak lagi pusing tujuh keliling berpikir  kapan dan bagaimana bayar uang kontrakan, tetapi harus berpikir  bagaimana merawat dan menikmati rumah sendiri .

2.4. Kehidupan Sosial

Setiap manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Ia cenderung hidup bersama orang lain agar hidupnya semakin bermutu. Umat Keuskupan agung Jakarta merupakan kelompok minoritas yang ada dan hidup berdampingan dengan kelompok masyarakat lain. Kehadiran kita sebagai kelompok minoritas dan seluruh aktivitas kita tidak terlepas dari peranan masyarakat sekitar demi terwujudnya wajah gereja yang selaras dengan arah dasar pastoral keuskupan agung Jakarta. Oleh karena itu, kita wajib menyadari bahwa gereja keuskupan agung Jakarta tidak dapat berkembang tanpa relasi yang harmonis dengan sesama sekitar. Membina sikap toleransi, mengakui adanya perbedaan suku, agama, ras, dan budaya merupakan kewajiban kita yang selaras dengan prinsip kesetaraan dalam masyarakat majemuk. Hendaknya gereja keuskupan agung Jakarta memiliki kesadaran bahwa setiap manusia merupakan makluk Tuhan yang paling sempurna, dan dalam dirinya ada kemuliaan untuk melakukan hal-hal positif, dan semua manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Dengan kesadaran ini maka kita akan menempatkan siapapun sebagai sahabat dalam mewujudkan wajah gereja yang harmonis selaras dengan ajaran kasih Yesus Kristus.

2.5. Kehidupan Politik

‘’Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, kepada Allah apa yang menjadi hak Allah’’. Sebuah ayat suci dari Yesus Kristus yang mengingatkan kita tentang hak dan kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia, artinya sungguh-sungguh Katolik dan sungguh-sungguh warga negara Indonesia. Wajah gereja Katolik keuskupan agung Jakarta yang menjadi impian kita sepuluh tahun ke depan berkaitan dengan kehidupan berpolitik adalah kedewasaan berpolitik dengan menempatkan martabat kemanusiaan di atas segala kepentingan yang lain. Artinya, kita tidak terjebak dalam rayuan politik yang menindas hak dan martabat kemanusiaan kita. Pribadi bermartabat adalah pribadi yang harga dirinya tidak diukur dengan nilai material tertentu. Politik do ut des  yang diterapkan dalam sitem berpolitik bukanlah cara yang dibenarkan untuk merebut kekuasaan.

3.Tantangan

Roda pergerakan gereja Katolik keuskupan agung Jakarta sejak awal mula masuk di Indonesia hingga saat ini tidak terlalu mulus, terkadang berguling di atas tantangan, baik tantangan internal maupun eksternal. Sejarah mencatat bahwa pada masa kekuasaan VOC, yakni tahun 1619 hingga 1792 gereja Katolik dilarang bergiat di wilayah Batavia yang pada saat itu menjadi wilayah kekuasaan VOC. Catatan sejarah ini mengingatkan umat keuskupan agung Jakarta bahwa upaya untuk mewujudkan wajah gereja Katolik yang diharapkan di atas tidak terlepas dari tantangan. Tentu saja bobot dan bentuk tantangan berubah setiap saat selaras dengan perubahan jaman.

3.1. Sekularisme

Roda pembangunan di Indonesia yang sedang bergulir menuju era modernisasi, selain berdampak positif, tetapi juga berdampak negatif, khususnya bagi perkembangan gereja keuskupan agung Jakarta. Salah satu dampak negatifnya adalah sekularisme, yakni sikap mengutamakan kepentingan material dan mengabaikan kepentingan rohani. Paham ini sedang merasuki perilaku umat tertentu yang lebih sibuk mengejar keuntungan material tetapi jarang terlibat baik kegiatan lingkungan maupun kegiatan di tingkat Paroki. Alasannya, sibuk dan tidak ada waktu. Kondisi yang semacam ini tentu saja menjadi tantangan serius bagi agen Pastoral keuskupan agung Jakrta dalam proses perwujudan wajah gereja yang berkaitan dengan kehidupan religius. Menurut mereka kegiatan rohani dianggap kegiatan tidak menguntungkan dan pemborosan waktu yang kurang produktif secara material.

3.2. Heterogenitas Kelompok

Jakarta sebagai pusat ibu kota, Tangerang dan sekitarnya menjadi pusat daerah industri menjadi tujuan kedatangan masyarakat dalam dan luar negeri. Sudah menjadi pasti bahwa mereka yang datang memiliki identitas suku, budaya, agama,ras, dan pendidikan yang beranekaragam. Mereka membentuk kelompok masing-masing yang disebut partikularisme kelompok. Paham partikularisme kelompok pada dasarnya cenderung mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan bersama. Sikap ini jika tidak dikelola secara bijak maka akan minimbulkan konflik horizontal. Konflik seperti ini sudah sering terjadi di Jakarta dan sekitarnya. Umat keuskupan agung Jakarta merupakan bagian dari kelompok ini. Mereka hidup membaur di antara kelompok yang beranekaragaam identitas tersebut. Apa bila mereka tidak sanggup menguasai diri, maka ada kemungkinan mereka terjerumus dalam kemauan kelompok yang cenderung negatif dan bententangan dengan arah dasar keuskupan agung Jakarta. Sebagai contoh, ada kelompok judi, kelompok doyan alkohol yang cenderung mengakibatkan perilaku negatif. Hal ini menjadi tantangan bagi gereja Keuskupan Agung Jakarta, bagaimana mewujudkan wajah gereja yang berbela rasa dan kasih persaudaraan di tengah masyarakat yang beranekaragam identitas tersebut.

3.3. Ekonomi

Pada bagian sebelumnya telah disinggung bahwa sebagian umat keuskupan agung Jakarta adalah kelompok masyarakat pendatang dengan latarbelakang pendidikan yang jauh berbeda, bahkan ada yang hanya bermodalkan ijazah sekolah dasar. Mereka ini tentu saja akan kalah bersaing di daerah ibu kota dan sekitarnya. Dampaknya adalah penderitaan dalam bidang ekonomi. Menurut saya, sebagian umat keuskupan agung Jakarta mengalami penderitaan ekonomi karena minimnya pendidikan dan tidak memiliki keterampilan yang dituntut oleh perkembangan kota, mereka berada dalam kondisi ekonomi yang sangat memperhatinkan. Pendapatan harian yang mereka peroleh tidak mencukupi untuk kebutuhan pokok keluarga, apalagi untuk biaya pendidikan anak dan kesehatan keluarga. Mereka masih harus berpikir hari ini makan apa dan bagaimana caranya membayar kontrakan, listrik dan air. Konfik keluarga terkadang muncul karena virus ekonomi yang sedang diderita. Mereka cukup pusing bagaimana caranya untuk dapat uang kebutuhan harinya. Sebagian umat yang sedang dalam kondisi ekonomi yang sedang sakit terkadang sulit untuk bergabung dalam kegitan apapun dilingkungan hal ini tentu saja menjadi tantangan bagaimana mewujudkan wajah gereja keuskupan agung Jakarta yang religius dan penuh persaudaraan dalam kasih Yesus Kristus.
 
4. Strategi Perwujudan Wajah Gereja Keuskupan Agung Jakarta

4.1. Jurus konomi

Sebelum berlangkah menuju perwujudan wajah gereja yang regius maka langkah awal adalah umat harus merasa aman dan nyaman dengan kondisi ekonomi. Ekonomi nyaman bukan  berarti orang harus memiliki segalanya sama dengan orang lain melainkan merasa bersyukur tentang apa yang dimiliki sebagai berkat dari Tuhan. Tugas kita bersama adalah saling menyadarkan untuk mencapai tahap bersyukur ini, sambil mencari jalan bagaimana merasa nyaman dengan kondisi ekonomi keluarga. Cara yang dipakai selama ini yakni memberikan sembako gratis bagi keluarga yang tidak mampu belum menjadi obat mujarap yang dapat menyembuhkan  penyakit ekonomi keluarga. Tindakan social ini tentu saja tidak salah, namun baru sampai tahap meringankan masalah ekonomi keluarga tetapi belum dapat mengobati virus ekonomi keluarga. Maka langkah awal untuk mengetahui sejauh mana keluarga sedang mengalami penderitaan ekonomi, perlu digali data apa yang menjadi penyebab penderitaan ekonomi keluarga tertentu.mungkin karena pengangguran, minimnya pendidikan, gaji yang tidak mengcukupi, atau karena factor pemborosan untuk hal hal yang tidak penting misalanya merokok, judi, konsumsi alcohol yang harganya mahal. Oleh karena itu perlu adanya seksi tertentu di tingkat dewan paroki atau lingkungan yang bertugas untuk menginput data tentang pertumbuhan ekonomi keluarga di lingkungan masing masing tujuanya agar tindakan pelayanan tepat sasaran karena setiap lingkungan mungkin saja memiliki permasalahan yang berbeda. Sekilas pengalaman saya, sebagian pendapatan dari keluarga ekonomi kelas bawah diperuntukan pembayaran kontrakan yang setara dengan cicilan rumah setiap bulan. Maka, salah satu solusi adalah membuka rekening wajib bagi keluarga yang  belum memiliki rumah. Persoalanya bukan karena mereka tidak ingin memiliki rumah tetapi karena merasa tidak mampu membayar DP rumah. Jika kebijakan ini diwajibkan dari paroki tentu mereka akan taat. Sementara itu untuk mengatasi sebagian umat yang menganggur maka langkah awal adalah dibuat pemetaan factor penyebab pengangguran. Selanjutnya dibentuk sebuah group informasi kerja karena terkadang mereka ketinggalan informasi ketika ada lowongan kerja .

4.2. Jurus pendidikan

Pendidikan merupkan saluran mobilitas social untuk melakukan perubahan. Dalam era modernnisasi pendidikan merupakan hal penting yang mendorong seseorang untuk menduduki lapisan social atas kita mengharapkan agar wajah gereja keuskupan agung Jakarta 10 tahun kedepan semakin bersinar ditengah tengah masyarakat majemuk, yakni pendidikan yang semakin berkualitas, jumlah murid yang semakin meningkat, dan sekolah katolik menjadi idola pilihan masyarakat, bisa bersaing ditingkat nasional dan internasional. Upaya yang dilakukan melalui gerakan ‘’ASAK’’ merupakan sebuah tingkatan positif dan perlu ditingkatkan terus. Namun gerakan ini masih sebatas membantu keluarga tertentu saja bagi keluarga yang bermasalah. Sekali lagi saya katakan bahwa cara ini baru sampai tahap membatu keluarga tertentu saja tetapi, belum mengobati masalah pendidikan keluarga secara keseluruhan maka salahsatu cara dianjurkan adalah setiap anak balita atau ketika mau dibaptis harus memiliki tabungan  wajib bagi pendidikan anak yang harus dipantau perkembanganya oleh paroki atau lingkungan. Sehingga ketika memasuki usia sekolah dasar atau menengah, anak bersangkutan sudah memiliki tabungan awal. Prosedur ini bisa diatur oleh paroki masing masing berdasarkan urgenitas permasalahan yang dihadapi.

4.3. Jurus spiritual

Wajah gereja keuskupan agung Jakarta yang diharapkan bersinar sepuluh tahu kedepan adalah keyakinan kepada Allah sebagai Allah yang hidup, Allah yang solider dan dekat dihati setiap umat Keuskupan Agung Jakarta. Untuk mewujudkan harapan tersebut maka perlu pola pendekatan pastoral berdasarkan karakteristik paroki masing masing, misalnya gaya pastoral terhadap umat Katedral Jakarta berbeda dengan umat diparoki lain sekeuskupan agung Jakarta. Gerakan pastoral melalui keluarga sebagai umat pasis menurut saya sudah tepat, namun belum maksimal karena hanya perwakilan keluarga dari lingkungan keluarga masing masin, belum dirasakan oleh keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kapasitas pelayanan kehidupan rohani setiap keluarga di tingkat lingkungan masing masing. Kegiatan rohani keluarga tidak hanya dilaksanakan menjelang Natal atau Paskah. Kegiatan rohani didalam keluarga perlu dibiasakan sehingga menjadi kebutuhan pokok keluarga. Jika kehidupan rohani keluarga meningkat maka wajah spritualitas Gereja keukupan agung Jakarta semakin bersinar dan memberi harapan bagi perkembangan religious umat sekeuskupan agung Jakarta selanjutnya.

4.4. Jurus social.

Kita tentunya tidak mengharapkan agar wajah gereja keuskupan agung Jakarta hanya bersinar dalam bidang bidang kehidupan diatas, tetapi harus bersinar juga dalam bidang social yakni relasi yang harmonis dengan masyarakat sekitar karena umat keuskupan agung Jakarta selalu hidup dan berada bersama kelompok masayarakat lain yang berbeda suku, agama, budaya dan ras.  Oleh karena itu perlu adanya keterlibatan aktif umat katoliik dengan kegiatan kemasyaraktan baik di tingkat RT maupun tingkat Kelurahan. Semakin intensif interaksi dengan kelompok masyarakat sekitar semakin nampak relasi yang harmonis lintas budaya dan agama.aksi nyata yang diharapkan melalui kegiatan pastoral menjelang Natal dan Paskah terkadang tidak dilaksanakan dilingkungan masing masing padahal aksi nyata merupakan kegiatan penting sebagai perwujudan dari setiap sesi kegiatan. Jika kegiatan tematis tanpa aksi nyata menurut saya tujuan kegiatan belumlah tercapai. Oleh kerena itu setiap lingkungan wajib memberikan evaluasi dan laporan kegitan lingkungan ke paroki masing masing. Tujuanya untuk mengetahui sejauh mana umat dilingkungan melaksanakan kegitan pastoral yang diturunkan dari keuskupan agung Jakarta.

5. Penutup

Keusukupan agung Jakarta sedang bergerak dalam berbagai kegiatan pastoral agar wajah gereja tetap bersinar di tangah tengah masyarkat majemuk suku, agama dan ras. Untuk mewujudakan harapan ini tidaklah cukup jika hanya digerakan oleh hierarki atau agen pastoral yang dipercaya ditingkat lingkungan atau paroki melainkan harus melibatkan semua umat. Acara perlombaaan yang dicanangkan oleh panitia perlombaan merupakan salah satu cara untuk menemukan strategi yang tepat agar terwujud wajah gereja sesuai Ardas keuskupan agung Jakarta. Strategi yang diturunkan melalui tulisan ini tentu saja bukan merupakan mujizat untuk mengatasi semua persoalan umat sekeuskupan agung Jakarta yang begitu rumit dan kompleks. Namun beberapa strategi yang ditawarkan setidaknya merupakan pancaran sinar ditengah tengah persoalan umat untuk mewujudkan wajah gereja yang diharapkan oleh keuskupan agung Jakarta.

Oleh: Urbanus Manehitu
×
Berita Terbaru Update