-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bertahan dalam Pernikahan yang Tidak Berfungsi Baik

Selasa, 30 Juni 2020 | 20:21 WIB Last Updated 2020-06-30T13:21:21Z
Bertahan dalam Pernikahan yang Tidak Berfungsi Baik
Garsa Bambang, MSF

Saya telah bertemu beberapa orang yang mengatakan kepada saya bahwa mereka sudah lama berpikir tentang perceraian. Perjuangan mereka telah menjadi lingkaran keraguan yang menyakitkan.

"Haruskah aku pergi?
"Saya tidak tahu apakah saya bisa (atau harus) melakukannya".
"Untuk apa saya bertahan sementara saya tidak bahagia bertahun-tahun".
"Penderitaan terus menjadi selimut pernikahan kami".
Demikianlah beberapa litani kesedihannya.

Beberapa orang mungkin telah sampai pada fantasi tentang seperti apa perpisahan itu untuk waktu yang lama. Mungkin sudah membayangkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang.
Tetapi penting juga dibayangkan keburukan-keburukan apa saja yang akan dihadapi atau bayangkan hal-hal yang paling membuat hati khawatir.

Jika niat atau fantasi anda sudah sampai di sini, BERBALIKLAH. BERTAHANLAH DENGAN PASANGAN ANDA. Sebab masih banyak orang yang memilih untuk tinggal dalam pernikahan yang tidak bahagia memiliki alasan yang bijak. Apa saja?

Ketakutan

Takut melakukan kesalahan besar: "Bagaimana jika saya menyesal nanti?" Anda khawatir, keputusan itu akan merusak anak-anak "Saya khawatir itu akan menghancurkan kehidupan anak-anak saya." Takut akan hidup sendirian selamanya. Mungkin juga takut dengan biaya perceraian yang mahal. Takut melukai masa depan pasangan. Takut kehilangan keluarga dan teman-teman. Takut disalahkan oleh anak-anak.

Merasa Bersalah Karena Tidak Menepati Janji Pernikahan

"Dulu aku bersungguh-sungguh ketika aku berkata," Sampai kematian memisahkan kita, "tapi sekarang aku tidak bisa melakukannya lagi. Saya mengecewakan Tuhan, diri saya sendiri, dan pasangan”.

Agama tidak Mendukung Perceraian

Alasan ini yang seringkali menguras tenaga dan waktu, sebab setinggi-tingginya kemauan untuk bercerai ajaran agama selalu memberikan alternatif lain agar pernikahan itu tetap utuh dan bertahan. Katolik misalnya sangat menjunjung tinggi ikatan perkawinan dan karena itu perkawinan hanya boleh diadakan sekali seumur hidup. Sungguh berat bukan.

Jika anda merasa mandek, ingatkan diri anda bahwa anda selalu punya pilihan. Cobalah untuk melakukan apa pun yang anda bisa untuk membuat segalanya lebih baik atau cobalah untuk menerima bahwa ini adalah pernikahan yang telah anda pilih. Betapa bahagianya bila anda berdua berproses bersama.

Berharap pasangan anda akan berubah, menjadi sadar, atau menjadi teman hidup yang lebih baik, atau orang tua yang lebih care, hal itu mungkin tidak banyak membantu. Namun berbahagialah bila salah satu diantara kalian terus menjadi channel yang baik, channel kasih untuk pasanganmu. Niscaya, pasanganmu akan cemburu melihat kebaikanmu. Dia bangga memilikimu.

Oleh: Pater Garsa Bambang, MSF
×
Berita Terbaru Update