-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Buah “Bidara” Berjasa Pada Panggilanku

Jumat, 12 Juni 2020 | 00:55 WIB Last Updated 2020-06-11T17:55:08Z
Buah “Bidara” Berjasa Pada Panggilanku
Buah “Bidara” Berjasa Pada Panggilanku - Pater Tuan Kopong, MSF

Bidara, demikian buah ini kami sebut dan semua orang NTT pasti tahu nama buah ini. Bidara ketika saya menjalani masa pendidikan di batu wadas SMAN Lewoleba di lereng bukit Lusikawak boleh dikatakan menjadi “pencuci mulut dan snack” ketika berangkat dan pulang sekolah. 

Kebetulan ketika kelas satu kami masuk siang, sehingga dalam perjalanan menuju SMANSA tidak ada yang bisa dipungkiri bahwa di dalam tas atau saku baju dan celana serta rok selalu ada buah bidara sebagai cemilan selama pelajaran untuk menghilangkan rasa ngantuk.

Tidak hanya buahnya. Tetapi pohonnya juga menjadi alasan untuk sejenak berteduh saat jam istirahat namun juga menjadi alasan untuk bolos, alasan memilih buahnya namun seterusnya menjadi jalan pulang sebelum pelajaran usai. Saya yakin teman saya Made Uak, Ita, Wati, Yuli Kisla dan lainnya memiliki pengalaman yang sama.

Ketika memasuki kelas dua (2) dan tiga (3) hingga tamat ada penguasaan terhadap keberadaan pohon bidara. Ada wilayah penguasaan yang juga menjadi tempat untuk bersembunyi dan bolos ataupun terlambat karena Pak Fatah sudah menunggu di halaman depan SMANSA untuk melayangkan tamparan dengan telapak yang kekar dan tebal bagi yang terlambat.

Minimal di angkatan saya. Bagian pintu masuk SMANSA dari wilayah Wolo Klaus, Eropaun, dan Tuju Maret adalah wilayah kekuasaan kelas Bahasa (A4) dan Sosial (A3) karena dekat dengan kelas mereka. Sedangkan wilayah belakang dari arah panti asuhan, Wangatoa dan Lamahora menjadi area kekuasaan kelas Fisika (A1) dan Biologi (A2-wilayah kekuasaan kami).

Bidara memang menjadi “buah gratis” yang bisa kami nikmati setiap saat ketika musim buah bidara. Namun karena bidara pula saya bersama teman-teman saya: Viktor Making, Eman Kia, Erni Lamapaha dan Irna Purab serta Veri Muda dan Piter Kuma harus mendapatkan pukulan di betis dengan sandaran kaki meja oleh wali kelas sekaligus guru Bilogi kami pak Yos Alie lantaran membuang garam di lantai sisa dari yang kami pakai untuk menambah rasa nano-nano pada bidara.
Tidak hanya itu, karena bidara pula setelah mendapatkan pukulan di betis, saya dan teman-teman saya tersebut dipaksa oleh pak Yos Alie untuk menjilat garam dilantai itu sampai bersih. Ya, mau tidak mau harus kami lakukan. 

Meski demikian bidara juga memiliki jasa dalam perjalanan menanggapi panggilan Tuhan menjadi seorang imam. Ketika kelas tiga (3), 27 April 1996, saya bersama Viktor, Eman, Erni, Irna, Very dan Piter bolos dan sedang melakukan aksi memetik dan memilih buah bidara dipinggir kebun masyarakat seraya mencuri kacang tanah, kami dikejar lagi-lagi oleh sang wali kelas, maka tanpa pikir panjang saya langsung memakan bidara yang sudah ada di tangan saya tanpa melihat apakah ada ulat atau tidak sambil berlari menghindari kejaran pak wali kelas.

Setibanya di asrama sakit perut berujung muntaber menimpa saya. Dan jam dua subuh tanggal 28 April 1996 saya dilarikan ke Rumah Sakit Bukit Lewoleba oleh teman saya Eman dan teman asrama lainnya. Dan diketahui bahwa ada bakteri dari bidara yang saya makan itu membuat saya sakit perut dan muntaber.

Singkat cerita dari sakit akibat bidara itulah, saya mengalami dan merasakan jamahan Allah yang kemudian membuka hati saya untuk menjawab panggilan-Nya. Walau melalui sakit, namun paling tidak bidara ikut “berjasa”. Hahahaha.

Beautiful Memories During SMANSA Lewoleba That Are Not Forgotten
(Kenangan-kenangan Indah Selama SMANSA Lewoleba Yang Tidak Terlupakan)

Manila: 11-Juni-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update