-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Cara Mencintai Musuh Adalah Dengan Meminta MAAF Walau Tersakiti

Kamis, 18 Juni 2020 | 02:01 WIB Last Updated 2020-06-17T19:09:42Z
Cara Mencintai Musuh Adalah Dengan Meminta MAAF Walau Tersakiti
Cara Mencintai Musuh Adalah Dengan Meminta MAAF Walau Tersakiti - Ilustrasi: google

Meminta maaf karena kesalahan dan menyakiti orang lain itu adalah tindakan iman yang baik dan benar. Namun sebagai yang disakiti lantas meminta maaf itu adalah sebuah kekuatan doa yang penuh iman dan tindakan iman yang mengatasi kata-kata.

Seperti Sabda Yesus kemarin (Selasa, 16 Juni 2020) bahwa mengasihi sesama itu semua orang dapat melakukannya. Kita diajak oleh Yesus untuk lebih dari itu yaitu mengasihi dan mendoakan musuh-musuh kita dalam hal ini mereka yang melukai dan menyakiti kita (bdk. Mat 5:43-48).

Berat memang untuk melakukan ajaran Yesus untuk mengasihi mereka yang telah menyakiti kita. Hanya dengan kekuatan doa penuh iman dan kerendahan hati menyadari diri bahwa kita juga tak luput dari kesalahan memampukan untuk mengasihi musuh bukan sekedar memaafkan tetapi lebih dari itu yaitu MEMINTA MAAF.

Saya ditanya oleh beberapa umat dan suster melalui messenger, mengapa saya harus meminta maaf padahal saya mungkin tidak bersalah, tersakiti dan terlukai? Dari pertanyaan itu saya mencoba untuk mensharingkan pengalaman sebagai pengalaman iman bagi sahabat semuanya.

Inspirasi Agung jelas Yesus Kristus yang berdoa dan mengampuni mereka yang menyalibkan Dia. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Demikian juga yang dilakukan oleh Santo Stefanus; “Tuhan janganlah tanggukan dosa kepada mereka” (Kis 7:55-60). Atau insipirasi dari Santo Paus Yohanes Paulus II yang memaafkan penembaknya, Bunda Teresa dan orang kudus lainnya.

Insipirasi yang kemudian menyadarkan dan meneguhkan saya untuk berani memaafkan dan meminta maaf kepada mereka yang menyakiti saya dapatkan pada natalan bersama keuskupan Novaliches (Pilipina) pada Desember 2017.

Saat itu dihadapan kami para imam, suster, frater dan umat, Bapak Uskup Novaliches: Mgr. Antonio Tobias (sekarang emeritus) MEMINTA MAAF kepada kami semua yang hadir terutama para imam. Saat itu saya terhenyak dan kagum. Saya memberitahu kepada umat, sebagai manusia Bapak Uskup pasti ada kekeliruan tetapi tidak menyakiti, yang selalu menyakiti hati Beliau adalah para imam dan kita semua. Lantas kenapa Beliau harus meminta maaf?

Dari pertanyaan itu saya kemudian disadarkan apa artinya dan apa gunanya kotbah saya kalau saya hanya bisa meminta umat untuk saling memaafkan tetapi saya sendiri tidak mampu. Sehingga setiap kali saya disakiti atau menyakiti, saya sepertinya selalu ditegur; “kamu hanya bisa berkotbah tetapi tidak mampu memaafkan”.

Teguran seperti ini yang selalu mengusik hati saya dan jujur bahwa saya tidak mengalami kedamaian, tidak tenang dan tidak fokus. Berawal dari teguran suara hari itu, saya berusaha bangkit dan berani untuk meminta maaf kepada umat, tepatnya pada malam pergantian tahun dari tahun 2018 menuju tahun yang baru 2019.

Sebelum berkat penutup, saya memberanikan diri membacakan surat permintaan maaf saya untuk seluruh umat yang saya sapa sebagai bapak, mama, kakak dan adik-adik saya.

Mulai dari situ, ketika ada persoalan di paroki seperti tahun lalu sekitar bulan  November, saya “disakiti” dan oleh kebanyakan umat saya yang dipermalukan didepan banyak orang meminta kepada saya untuk tidak meminta maaf dan memaksa mereka yang harus meminta maaf kepada mereka.
Saya menjawab, saya meminta maaf bukan berarti saya salah. Saya tahu dan sadar bahwa saya yang tersakiti dan terluka. Namun dengan meminta maaf meski tersakiti adalah JALAN YANG MEMBANTU MEREKA UNTUK MENYADARI KESALAHAN MEREKA.

Maka kemudian yang saya lakukan adalah menemui mereka satu per satu, berbicara dari hati ke hati dan saya meminta maaf kepada mereka. Dan buah dari itu adalah mereka berubah dan menyadari bahwa mereka yang salah. 

Dengan kata lain MEMINTA MAAF meski tersakiti dan terluka, sebenarnya TEGURAN bagi mereka untuk melihat letak kesalahan mereka.

Manila: 17 Juni 2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update