-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Doaku WaktuMu, Hujan Berkat Doamu, Kepada Tuhan yang Empunya Kata

Sabtu, 13 Juni 2020 | 23:11 WIB Last Updated 2020-06-13T16:11:25Z
Doaku WaktuMu, Hujan Berkat Doamu, Kepada Tuhan yang Empunya Kata
Doaku WaktuMu, Hujan Berkat Doamu, Kepada Tuhan yang Empunya Kata - Ilustrasi: youtube

Doaku WaktuMu

Pada doaku kualamatkan abjad-abjad buram
walau matahari kelihatan cerah dan burung-burung berkicau di atas candi Gereja.
Telah kulontarkan sebanyak kata bersama segala macam kesia-siaan, 
"Ah..masakah hidup ini sia-sia", titahku keluh.

Tapi tak mampu kusudahi setiap yang telah dimulai.
Barangkali Engkau sedang sibuk membalas ribuan suara yang sedang berarak-arak menujuMu, menerobos awan-awan tebal. Dan barangkali kata-kataku tak mampu menembusnya.
Sehingga aku menunggu lama.

Setiap sembahku pun berubah menjadi malam yang kian kusam.
Akhirnya aku mengalah.

Aku tak memerlukan lagi abjad-abjad itu.
Karena keyakinanku ialah "Doaku adalah waktuMu"

Hujan Berkat Doamu

Aku membaca awan bersepakat: “di mana kita berkumpul?
Angin menghembus ke tepi barat. 
Di sana di atas gunung harapan, tempatmu menghabiskan waktu berdoa. 
Kulihat doamu menggetarkan langit dan menelan matahari.
Gelap mendekap, langitpun redup. 
Air matamu membungkus harapanku.
Telah lama aku menunggu kapan hujan turun berkat doamu.
Karena aku rindu, kala engkau menghabiskan waktu untuk berpuisi di hadapan Dia. 
Di sana tempatmu menghembuskan nafas-nafas cintamu. 
Bagi mereka yang membutuhkan hujan.
Karena doamu kini. 

Aku mengerti bahwa surat cinta yang kau kirim kapan hari mengingatkanku.
Tuhan masih mendengar keluh kesahku.
Berkat doamu, bukan hanya hujan yang turun.
Iman, harapan dan kasih pun mengalir ke sumsum tulang belakangku.
 Dalam hatiku, aku ingat selalu doamu.
Jadikan pujianku bisa membakar semangatmu
Agar hujan rahmat turun dari doa-doamu.

Kepada Tuhan yang Empunya Kata

Tuhan kalau Engkau berpuisi
Ingatlah namaku.
Nama yang Engkau titipkan pada kedua orang tuaku
Bila perlu ejalah aksaranya, agar membekas dilubuk hatiku.
Tuhan.
Biarlah puisiMu
Malam ini bersamaku di sini, agar bisa mengobati malam-malam nakal milik dunia
Lebih lagi agar aku tidak tercoret dari ingatanMu
Apabila aku lupa mendengar PuisiMu
Ketuklah jiwaku
Biarlah fajar menanti di hari baru
Agar kita saling mengirim naskah
Puisiku dan puisiMu
Semuanya milikmu, Tuhan.
Amin.

Tentang Lupa

Aku telah lama bertualang
Pada kertas-kertas yang bernama lupa
Pandanganku merambat ke sudut matamu
Sejauh ingatku, aku lupa menutup pintu.
Karena pikirku, lupaku telah menciptakan jarak.

Kutidurkan gelisahmu di bawah remang cahaya bulan
Lalu kuajak engkau bercakap-cakap
Sementara dalam doa jangkrik
Kita melatih untuk tidak lupa.

Bahwa kita masih punya harapan 
Untuk menjahit jarak.
Pintaku : Jangan lupa berharap.

Malang, Mei 2020. 

Patrisius Epin Du, tinggal di Seminari Montfort Pondok Kebijaksanaan Malang. Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang, berasal dari Reo-Manggarai.
×
Berita Terbaru Update