-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hati-Hati: Orang Indonesia bisa Tercabut dari Akar Budayanya lalu Menjadi Bangsa Abu-Abu

Jumat, 05 Juni 2020 | 09:12 WIB Last Updated 2020-06-05T02:23:11Z
Hati-Hati: Orang Indonesia bisa Tercabut dari Akar Budayanya lalu Menjadi Bangsa Abu-Abu
Ilustrasi: google

Negara Indonesia adalah, hamparan ribuan pulau yang dihuni aneka suku bangsa. Setiap suku bangsa selalu berusaha untuk menata hidup sedemikian rupa, sehingga kehadirannya di Indonesia ini, merupakan kehadiran yang komplementer. Bukan kehadiran dominatif - invasif yang cenderung “memaksakan” ideologi atau budaya dan kebiasaan hidupnya.

Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia seperti sebuah bahtera yang dinahkodai melewati lintasan gelombang budaya “abu-abu” yang nampak secara “perlahan” tetapi pasti, menggerus esensi budaya Indonesia yang sejati.

Budaya yang datang dari ASAL sebuah agama misalnya, dapat “menjaring” umat dari suku apapun. Realitas ini akan menciptakan suatu kebanggaan untuk “tercemplung” dalam budaya dari mana agama itu datang, sehingga bisa saja kita lupa untuk berakar pada budaya kita sendiri.

Kita meremehkan budaya sendiri, merasa budaya kita rendah, budaya kita primitif. Akhirnya, kita mengambil 100 % budaya dari luar dan menjunjungnya tinggi-tinggi, sambil lupa bahwa kita ada di negara yang namanya Indonesia, dengan kandungan nilai budaya yang sungguh kaya raya.

Bung Karno pernah bilang: “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”.

Bila ungkapan Bung Karno dipakai untuk mengukur realitas hidup berbangsa dan bernegara di saat ini, maka kita dapat bertanya dengan jujur kepada diri kita seperti ini:

“Bagaimana orang Hindu? Apakah Anda semua telah “memindahkan” budaya India di Indonesia? Bagaimana orang Islam? Apakah Anda telah “memindahkan”budaya Arab di Indonesia?
Bagaimana orang Kristen? Apakah Anda telah “memindahkan” budaya Yahudi di Indonesia?”

Jika orang Hindu membawa budaya India, orang Islam membawa budaya Arab dan orang Kristen membawa budaya Yahudi, lalu ramai-ramai dan tanpa kritis “menghamparkannya” di Indonesia ini, maka jelas, dimana ada mayoritas orang Hindu, mereka akan menjadi seperti orang India, di mana ada mayoritas orang Islam mereka akan menjadi seperti orang Arab, dan di mana ada mayoritas orang Kristen mereka akan menjadi seperti orang Yahudi.

Jika realitas seperti ini yang terjadi, jangan heran kalau yang namanya negara Indonesia tidak akan menjadi aman dan damai karena bangsanya, kehilangan kearifan budayanya. Bangsanya lebih berbangga dengan bersandar pada budaya luar, dari pada budayanya sendiri.

Sudah pasti, Indonesia tidak akan lepas dari pengaruh apapun dari luar. Apalagi pengaruh budaya yang datang dari asal agama yang kita anut. Tetapi kalau kita tidak mempunyai sikap dan kecerdasan inkulturatif untuk berakar dalam budaya sendiri dan tidak mempunyai kompetensi interkultural, maka kita akan menjadi orang Indonesia yang bergaya India, Arab dan Yahudi.

Kita menjadi bangsa abu-abu. Yakni, abu-abu India, abu-abu Arab dan abu-abu Yahudi. Bisakah seperti ini? Bukankah kita bisa saja dijuluki sebagai bangsa bunglon tanpa identitas (?)

Maka, baiklah kita jujur menatap dan menemukan nilai-nilai budaya kita sendiri, sambil bersandar padanya. Tidak harus mendewa-dewakan budaya bangsa lain, seakan budaya mereka jauh lebih agung dan mulia dari budaya Indonesia.

Hanya dengan berakar dalam budaya sendiri, kita tidak akan mudah digoncangkan, karena kita memiliki fondasi kearifan lokal yang membingkai etika dan moralitas bangsa kita.

Kita cinta Indonesia sebagai suku apapun dan sebagai umat beragama apapun.**

* Surabaya, 5 Juni 2020

Oleh: Pater Fritz Meko, SVD
×
Berita Terbaru Update