-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hatta Selamatkan Pancasila dari “Tendangan” Piagam Jakarta

Senin, 01 Juni 2020 | 10:30 WIB Last Updated 2020-06-01T06:01:05Z
Hatta Selamatkan Pancasila dari “Tendangan”  Piagam Jakarta
Edi Hardum, advokat dan anggota DPP Presidium Iska

Selama 4 hari, 29 Mei – 1 Juni 1945, sejumlah pendiri negara Indonesia memeras otak memikirkan dan merumuskan Dasar Negara. Hampir memasuki hari keempat, 1 Juni belum ada Kata Sepakat soal Dasar Negara Indonesia.

Pada 1 Juni Soekarno menyampaikan pandangannya mengenai Dasar Negara di depan anggota sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang Dokuritsu Junbi Cosakai.

Soekarno yang juga disebut Putra Sang Fajar menyampaikan lima poin penting menjadi Dasar Negara dimana kelimanya saling kait atau tak terpisahkan yakni 1. Kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme atau perikemanusiaan, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan yang Maha Esa.

Hari berganti hari sejak 1 Juni 1945, para perumus Dasar Negara dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia terus berdialektika mengenai Dasar Negara, Bentuk Negara dan Konstitusi Negara. Pada 22 Juni 1945 Panitia Sembilan (perumus Dasar Negara) menyepakati dan menandatangi Dasar Negara yang berbeda dengan rumusan Soekarno di atas, dimana dalam sila pertama berbunyi,”Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Dasar Negara yang mereka sepakati ini dicantumkan dalam Pembukaan Konstitusi Negara, yakni UUD 1945; dan Dasar Negara dengan penambahan “... dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” disebut Piagam Jakarta.

Pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum Kemerdekaan Indonesia diumumkan (Proklamasi) di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, sekarang Jalan Proklamasi, oleh Soerkarno dan Hatta, sejumlah kalangan non muslim protes dengan rumusan  ”Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Pada waktu itu, salah satu Pendiri Bangsa Johannes Latuharhary bersuara keras sambil memukul meja di depan para pendiri Negara golongan Islam menolak kata-kata “.... dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Latuharhary dengan keras menegaskan bahwa kalau kata-kata tersebut tetap dicantumkan maka kalangan non Islam terutama yang berada di bagian Timur Indonesia, bernegara sendiri tersendiri atau berada di luar Negara Indonesia.
Mendengar dan meyaksikan “pertengkaran” itu Soekarno speechless  (terdiam) dan hopeless, seperti putus harapan, Soekarno menangis.

Saat itu, Muhammad Hatta tampil, memberikan penjelasan kepada golongan Islam bahwa kata-kata “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan sari pati dari semua ajaran agama di Indonesia, termasuk Islam. Mendengar penjelasan Hatta, golongan Islam menerima kata-kata,”...dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus, sehingga Sila Pertama Pancasila berbunyi,”“Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Setelah sepakat, maka besoknya 17 Agutus 1945, Kemerdekaan Indonesia diumumkan; dan pada 18 Agustus 1945 UUD 1945 yang dalam pembukaan tercantum Pancasila disahkan. Maka resmilah Negara Indonesia sebagai Demokrasi resmi berdiri.

Pancasila Terus Dirongrong

Sampai saat ini begitu banyak orang atau kalangan yang ingin agar kesepakatan para pendiri bangsa (Founding Fathers) pada 16 Agustus 1945 itu dibatalkan dan kesepakatan 22 Juni 1945 mengenai Piagama Jakarta jadi Dasar Negara kembali diberlakukan.

Seperti Rizieq Shihab yang sangat agitatif dalam sejumlah kesempatan agar Piagam Jakarta diberlakukan. Bahkan Rizieq yang kabur dari pertanggungjawaban dalam dugaan kasus tindak pidana ini dinilai menjelek-jelekkan Soekarno karena Soekarno menempatan Sila Pertama Pancasila jadi Sila Kelima.

Sampai saat ini sebagian orang Indonesia yang berpandangan seperti Rizieq Shihab terus berjuang, baik secara diam-diam maupun terang-terangan agar Pancasila ditiadakan dan diganti dengan Piagam Jakarta, yang mereka sebut Pancasila Syariah atau Khilafah. Kalau perjuangan mereka berhasil, maka Indonesia akan pecah. Kalau pun tidak pecah, maka Indonesia menjadi negara yang dikuasai “Kaum Kadal Gurun”. Ini bahaya !
Oleh karena itu, setiap Anak Bangsa wajib memahami sejarah dan perjuangan para pendiri bangsa. Berusaha menggeser Pancasila dengan Piagam Jakarta yang sudah jadi bangkai, dan atau Khilafah, selain berdosa kepada para pendiri bangsa, juga menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Oleh karena itu dalam setiap merayakan hari Pancasila 1 Juni, kita harus mengucapkan terima kasih kepada para pendiri negara, terima kasih kepada Soekarno yang merumuskan Pancasila, terima kasih Johannes Latuharhary yang berjuang keras menolak Piagam Jakarta dan berterima kasih kepada Hatta yang menyelamatkan Pancasila dari “tendangan” Piagam Jakarta.

[Edi Hardum, alumnus Fisipol dan FH UGM, anggota Presidium Iska]
×
Berita Terbaru Update