-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HOMO DIGITALIS: JARINYA BESAR, OTAKNYA KERDIL?

Selasa, 02 Juni 2020 | 04:35 WIB Last Updated 2020-06-01T21:35:29Z
HOMO DIGITALIS: JARINYA BESAR, OTAKNYA KERDIL?
Ilustrasi: google

Membaca factum peradaban kontemporer yang ditandai dengan 'digitalisasi' semua sektor kehidupan, rasanya tesis pergeseran status ontologis kemanusiaan kita, menemukan momentum justifikasinya. Bahwasannya, manusia yang sedari awal dibaptis sebagai homo sapiens, kini bergeser menjadi 'homo digitalis'. Mengapa?

Penggunaan teknologi berbasis digital telah menjadi modus baru eksistensi manusia (mode of being). Proses pemenuhan kebutuhan manusia yang pada era sebelumnya bereferensi pada otak, kini sudah beralih ke digitus (jari) manusia. Jari yang aktif menjadi semacam garansi survivalitas sebagai manusia. Hidup kita dikendalikan oleh 'jari tangan' yang lincah menari di atas perangkat teknologi internet.

Bahkan guncangan akibat pandemik covid-19 kali ini, seolah tak terlalu berdampak sebab pelbagai aktivitas primer tetap berjalan normal. Sebut saja, kegiatan pembelajaran daring, berbelanja secara daring, ojek on line, dan beragama secara on line. Aktivitas perkantoran berjalan secara normal hanya dengan memanfaatkan peranti teknologi digital. Singkatnya, jari kita begitu sentral dan strategis dalam memperlancar semua kegiatan harian yang bersifat rutin.

Hanya dalam dan melalui jari yang lincah, apa yang kita butuhkan bisa terwujud. Porsi penggunaan jari dalam beraktivitas semakin besar. Manusia dalam era digital seperti sekarang ini tidak perlu 'menguras otak' untuk berpikir memenuhi pelbagai kebutuhannya. Semuanya akan mudah terwujud jika dan hanya jika seorang individu 'pandai' menggerakan jari di atas gawai atau tuts komputer.

Ketika peran yang dimainkan oleh jari bertambah, apakah hukum evolusi berlaku? Seturut teori evolusi elemen tubuh yang jarang dioptimalisasi akan mengalami penyusutan. Apakah otak akan semakin kecil (kerdil) dan jari semakin besar dalam era digital saat ini? Tentu, jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan riset yang mendalam. Tulisan ini tidak berpretensi memberikan semacam respons yang definitip terhadap tesis itu.

Kendati demikian, tak bisa dielak bahwa peradaban jari (digital) ini membuat manusia semakin 'malas berpikir'. Manusia tak lagi tertantang untuk 'mengoptimalkan fakultas mentalnya (pikiran)' sebab hampir semua permasalahan yang dihadapinya tersedia dalam ruang virtual-digital. Kita tinggal mengaktifkan jari untuk mencari apa yang kita butuhkan, maka dengan segera jawabannya hadir di depan mata kita.

Digitalisasi dalam level tertentu menstimulasi dan memfasilitasi lahirnya 'kultur instan, mental jalan pintas' dalam jagat akademik. Maraknya kasus plagiasi atau pencurian karya akademik dalam dunia pendidikan formal bisa dibaca sebagai salah satu implikasi negatif dari budaya jari tersebut. Sebagian insan akademik (kaum terpelajar) tergoda oleh kelincahan jarinya dalam memanipulasi atau mencuri karya tulis orang lain yang tersedia di ruang maya.

Rasanya sulit mengharapkan 'munculnya karya bermutu' yang berjangkar pada optimalisasi 'daya imajinasi kreatif' dari generasi yang dibesarkan dalam iklim digital semacam itu. Masalahnya adalah jari yang aktif tak equivalen dengan 'pengaktifan rasionalitas'. Fungsi rasio semakin terbatas, sementara 'jari tangan' berperan lebih besar. Mungkinkah kita memproduksi karya bermutu hanya dengan mengandalkan jari semata?

Ketika budaya literasi direduksi hanya sebatas 'kelincahan menggunakan jari', maka cepat atau lambat kita menghirup semacam kebangkrutan peradaban. Otak manusia tidak bisa bekerja maksimal di bawah dominasi kultur digital.

Kita tidak ingin generasi kita hanya 'pandai memainkan jari' tetapi tumpul dalam berpikir dan berimajinasi. Generasi yang otaknya kerdil, tetapi jarinya besar. Guru dan orangtua, pada situasi semacam ini, dipanggil untuk memberikan semacam 'iluminasi atau penyadaran' kepada anak-anak kita agar tidak larut dan tenggelam dalam gelombang peradaban digital itu.

Oleh: Silvester Joni

Artikel ini pernah muat di floresnews.net
×
Berita Terbaru Update