-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ibu: Jadilah Pembaca Dongeng untuk Anak!

Senin, 15 Juni 2020 | 18:30 WIB Last Updated 2020-06-15T11:30:24Z
Ibu: Jadilah Pembaca Dongeng untuk Anak!
Ibu: Jadilah Pembaca Dongeng untuk Anak!

Oleh: Sil Joni*

Anak mana yang tidak girang hatinya ketika sang ibu membacakan sebuah dongeng? Apalagi jika kegiatan 'mendongeng itu' dibuat sambil memangku sang buah hati di 'paha ibunya'. Tentu, mengalirkan energi 'afeksional' dan imajinasi yang begitu dahsyat.

Hemat saya, kebiasaan membacakan sebuah dongeng itu, membawa efek ganda; mengokohkan ikatan emosi antara ibu dan anak di satu sisi serta mengaktifkan daya bayang (fantasi) anak pada sisi yang lain. Daya fantasi hanya bisa distimulasi melalui penciptaan narasi yang bersifat kreatif. Mengasuh dan atau mengedukasi anak lewat medium cerita jauh lebih impresif dan efektif ketimbang pola indoktrinatif-represif.

Hampir semua studi tentang 'parental' dan pengasuhan anak mengafirmasi adanya semacam 'efek magis' dari aktivitas membaca dongeng yang dibuat secara reguler di rumah. Tradisi itu hampir pasti berkontribusi pada 'bertumbuhnya' kepribadian yang sehat dalam diri anak. Mendongeng, dengan demikian, sebenarnya identik dengan 'mendonasikan vitamin kejiwaan yang prima' bagi anak.

Bahkan, ditengarai bahwa ada perbedaan yang signifikan antara anak yang dibesarkan dalam keluarga yang kultur mendongengnya cukup terawat, dengan anak yang tumbuh dalam keluarga yang apatis dengan habitus itu. Anak yang mendapat "asupan pengasuhan" melaui kegiatan membaca dongeng umumnya lebih imajinatif, lincah berkomunikasi, gemar membaca, berintegritas dan responsif.

Sayang sekali, seiring massifnya penetrasi teknologi digital dalam ranah domestik, tradisi mendongeng ini sudah mulai luntur.  Pola pengasuhan dan pendidikan dengan mengoptimalisasi "tradisi bercerita secara oral" ini, tidak lagi menjadi aktivitas menarik dan rutin bagi mayoritas keluarga dewasa ini.

Anak-anak kita lebih 'akrab' dengan suara dan wajah tak bernama yang terdapat dalam pelbagai perangkat teknologi digital. Para orangtua pun, agaknya 'tak berkutik' dengan supremasi aura teknologi yang menyajikan pelbagai program yang bersifat instan dan otomatis tersebut.

Padahal, kita tahu bahwa teknologi itu berwajah paradoks. Ia dipuja sekaligus dikutuk sebab mendatangkan bencana bagi anak. Orangtua berada pada situasi dilematis. Bersikap permisif terhadap anak yang 'keganderungan' dengan fasilitas teknologi modern, tentu berakibat fatal bagi perkembangan kepribadian anak. Tetapi, pada sisi yang lain orangtua juga tidak bisa menghindar dari fakta bahwa penggunaan berbagai fasilitas modern tersebut sudah menjadi semacam 'budaya baru' saat ini. Lalu, apakah orangtua harus 'lari' dari kenyataan itu dan lebih memilih pola hidup lama? Apakah anak-anak kita 'siap' menjalani hidup yang serba konservatif dan tradisional?

Sebagai sebuah idealisme, saya kira imperasi etis-kultural untuk menghidupkan kembali tradisi membaca cerita (dongeng) itu, tetap relevan diwacanakan. Di tengah gempuran teknologi digital, ada baiknya jika para orangtua kembali disadarkan untuk menjalankan model pengasuhan yang lebih mengedepankan 'interaksi empat mata dan dari hati ke hati' melalui kebiasaan berdongeng.

Jika tradisi mendongeng itu berkenan untuk 'direvitalisasi', mungkin penguatan peran keibuan seorang ibu, cukup realistis saat ini. Para ibu inilah yang selain memiliki cukup waktu untuk ada bersama anak, juga biasanya penampilan seorang ibu jauh lebih menyentuh dan memikat hati anak-anak kita. Ini tidak berarti para bapak tidak bisa tampil sementara itu saat membacakan dongeng di rumah. Namun, saya kira dengan tingginya tingkat kesibukan dan fakta seringnya para bapak 'tinggalkan rumah', tentu menimbulkan kesulitan tersendiri dalam menjalankan peran itu. Kendati demikian, tetap diharapkan agar di sela-sela kesibukan itu, para ayah juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan mendongeng itu.

Karena itu, di ujung permenungan ini, kita mendorong dan mengajak para ibu untuk bisa menjadi pembaca dongeng yang kreatif dan atraktif bagi anak. Harapan untuk 'mengembalikan' kebiasaan yang terbukti sanggup mengubah wajah kemanusiaan itu, kita letakkan pada pundak para ibu (mama) kita. Optimalkan naluri keibuan itu, untuk mensuplai pola pengasuhan yang kreatif dan sehat pada anak-anak.

Para ibu boleh mempratikan kebiasaan mendongeng itu sejak seorang anak masih ada dalam kandungan. Namun, tentu saja kebiasaan itu mesti dijalankan secara intensif ketika seorang bayi sudah mulai 'mengeja kata.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update