-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jalan Sempit

Selasa, 23 Juni 2020 | 11:13 WIB Last Updated 2020-06-23T04:13:57Z
Jalan Sempit
Jalan Sempit - Ilustrasi: google

"Duka usai pesta pernikahan, satu per satu kerabat positif Covid-19, ada yang meninggal dunia" demikian cuplikan judul berita sebuah media nasional. Berita itu cukup menyentak. Hajatan keluarga yang tujuannya untuk merayakan kehidupan dan berbagi kebahagiaan berakhir dengan kisah tragis. Sangat sedih mendengarnya, turut berduka bagi keluarga.

Kebersamaan dalam ikatan dan rasa kekeluargaan sudah sangat melekat dalam kehidupan harian kita. Perasaan bersalah muncul bila salah satu kerabat memiliki hajatan dan kita tidak berpartisipasi, paling kurang hadir saja. Tidak mengherankan bila upacara pernikahan melibatkan banyak orang. Itu dalam situasi normal.

Dalam situasi Normal Baru (atau lebih tepatnya tidak Normal) saat ini kita diajak (baca: diharuskan) hidup dalam cara baru, tentu saja tanpa menghilangkan makna dari setiap peristiwa hidup. Ada bersama tidak harus dimaknai sebagai hadir bersama secara fisik material, tetapi bisa secara emosional dan rohani. Ini rasanya kurang lengkap, tidak enak. Ya, itu benar. Namun demi keselamatan bersama mau tidak mau, suka tidak suka kita harus memilih cara baru yang tidak enak ini: Jalan sempit ini.

Cara lama yang sudah melekat dengan hidup kita harus ditanggalkan jika kita mau selamat. Itu jalan lebar yang saat ini mengantar pada kehancuran bersama.

"Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:13-14)
Ayo...kita sama-sama patuhi protokol new normal.

Oleh: Celestino, CMF
×
Berita Terbaru Update