-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jangan Salah Pilih 'Program Studi'

Jumat, 12 Juni 2020 | 11:28 WIB Last Updated 2020-06-12T04:28:06Z
Jangan Salah Pilih 'Program Studi'

Oleh: Sil Joni*

Kendati tidak melewati fase Ujian Akhir Nasional (UAN) seperti yang diterapkan pada tahun sebelumnya, para siswa kelas XII SMA/SMK tahun ini, tetap dinyatakan 'lulus' dan berhak mengantongi selembar sertifikat akademik untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi. Pandemik covid-19 tidak sanggup 'membatalkan penilaian soal kelayakan mereka' melewati jenjang sekolah menengah yang dibuktikan dengan selembar ijazah itu. Apalagi, Covid-19 baru menjenguk wilayah ini persis di periode akhir proses pendidikan yang mereka jalani selama hampir tiga tahun. Itu berarti sebagian besar dari 'proses pembelajaran' di sekolah, sudah diikuti dengan benar.

Karena itu, kriteria kelulusan itu tidak lagi mengacu pada 'hasil UAN', tetapi keseluruhan proses selama mereka 'berada di sekolah'. Saya kira keputusan ini sangat tepat. Pengabaian terhadap UAN sebetulnya buka saja karena kita sedang diguncang wabah covid-19, tetapi juga berkaitan dengan penghargaan yang utuh terhadap keseluruhan proses. Penilaian yang berbasis proses jauh lebih obyektif dan efektif ketimbang 'hasil ujian' yang bersifat sesaat itu.

Para siswa 'angkatan Covid-19' (jika istilah ini boleh dipakai) tentu saja sudah memikirkan dan mengambil keputusan soal 'rencana selanjutnya' pasca-tamat SMA/SMK. Ada yang karena pelbagai pertimbangan praktis dan teknis lebih memilih untuk 'bekerja'. Tetapi, saya kira tidak sedikit juga yang berani memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi (PT). Semua pilihan itu baik dan tentu dilatari oleh pertimbangan yang matang. 

Tulisan ini berfokus pada upaya memberikan gambaran konkret untuk kelompok siswa yang ingin meneruskan pendidikan ke tingkat PT. Prinsip dasarnya adalah menjadi mahasiswa/i di PT bukan sekadar gagah-gahan atau faktor gengsi, tetapi dilatari oleh pencapaian target tertentu. Benar bahwa manusia tidak hidup dari 'ilmu yang ditekuni di PT saja', tetapi setidaknya dunia PT bisa menjadi semacam 'pembuka jalan' untuk meniti hidup yang lebih baik.

Saya sangat yakin para calon mahasiswa (cama) sudah memiliki cita-cita, kira-kira menjadi apa di kemudian hari. Memilih untuk meneruskan studi ke PT, tempat dan nama PT, serta program studi merupakan serangkaian cara untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Untuk itu, saya kira seorang camat mesti mencari sumber informasi yang akurat untuk memastikan bahwa 'harapan untuk megaktualisasikan' cita-cita personal setelah kuliah itu, bisa tercapai. 

Bagi lulusan SLTA yang ingin melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi (PT), saya kira sangat penting untuk mengetahui dan memilih program studi (prodi) yang "cocok" dengan dirinya. Sedapat mungkin, kita memilih prodi yang sesuai dengan minat dan bakat kita. Mengapa?

Ada banyak kasus di mana seorang mahasiswa gagal dalam menyelesaikan studinya karena prodi yang digelutinya tidak sesuai dengan karakternya. Ia masuk ke PT dan mengikuti proses perkuliahan pada prodi yang tidak diminatinya. Ia kurang antusias dan bergairah menekuni prodi tersebut. Secara fisik, dia ada di bangku kuliah, tetapi sebenarnya hati atau jiwanya berada di tempat (bidang) lain.

Seorang calon mahasiswa mesti mengambil keputusan yang bebas dari tekanan (intervensi) pihak lain, termasuk orangtua. Orangtua atau guru hanya memberi saran atau semacam 'membuka' gambaran perihal arah dari prodi yang akan kita geluti nanti. Keptusan mutlak ada di tangan sang calon mahasiswa itu sendiri.

Memilih sebuah prodi di PT, selain mengacu pada kondisi ekonomi orangtua, juga mesti dilatari oleh pertimbangan yang bersifat personal di mana kita merasa bahagia (enjoyable) dengan prodi itu. Minat dan antusiasme yang besar terhadap sebuah prodi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan seorang mahasiswa meraih gelar sarjana.

Intinya, seorang cama mesti bahagia dengan pilihan dan keputusannya. Mengikuti proses perkuliahan dalam suasana yang hati yang bahagia, tanpa tekanan dan frustrasi merupakan modal berharga dalam meraih prestasi akademik yang memuaskan.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update