-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jika Saja Kita Bersyukur Sebagai Umat Katolik

Jumat, 19 Juni 2020 | 00:30 WIB Last Updated 2020-06-18T17:30:19Z
Jika Saja Kita Bersyukur Sebagai Umat Katolik
Jika Saja Kita Bersyukur Sebagai Umat Katolik - Ilustrasi: google

Rasa syukur melahirkan rasa bangga. Rasa bangga membuahkan militansi. Militansi adalah kesetiaan dan ketaatan yang menghasilkan sukacita.

Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka kita tidak akan pernah mengeluh pada suasana misa kita sendiri. Ah coba sekali-kali misanya kaya yang disebelah. Misa kita kering, membosankan dan bikin jenuh. Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka kitapun mensyukuri tata perayaan Ekaristi kita yang mempersatukan semua orang dari berbagai bangsa sebagai satu kawanan.

Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, tidak akan pernah ada keluhan; “Romo itu kalau berkotbah sudah panjang, membuat ngantuk lagi. Malas kalau romo itu yang mimpin misa. Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka kitapun mensyukuri siapapun Romo yang memimpin misa dan berkotbah, apapun caranya berkotbah tetapi mengambil hikmah dan mewujudkan isi kotbah itu dalam kehidupan sehari-hari sebagai umat Katolik.

Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka tidak akan pernah terjadi perdebatan soal ajaran Gereja, tidak akan pernah memprotes setiap ajaran Gereja dan tidak akan pernah ada sikap sesuka hati tanpa peduli pada ajaran Gereja. Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka mensyukuri perkembangan zaman sebagai instrumen pewartaan iman tanpa pernah mengubah atau menyimpang dari ajaran Gereja.

Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka kita tidak perlu membanding-bandingan apapun yang dilakukan dan diajarkan oleh Gereja dengan agama lain. Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka apapun pewartaan yang dilakukan oleh Gereja entah itu bagi kita tidak sesuai zaman, kita tetap merasa dekat dengan Tuhan.

Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik maka setiap teguran ataupun kritikan yang diberikan karena mungkin kita menyimpang dari ajaran Gereja yang sebenarnya, kita terima sebagai sebuah katekese yang meluruskan dan memperbaiki sikap kita untuk tetap setia pada ajaran Gereja sebagai penuntun iman dan moral kita.

Jika saja kita bersyukur sebagai umat Katolik, maka kita akan dengan jelas dan jernih melihat setiap ajaran Gereja dan bentuk pewartaan Gereja masih tetap mengikuti konteks dan perkembangan yang ada.

Jika masih ada keluhan, jika masih ada protes, jika masih ada “semau gue” atau sesuka hati, sejatinya kita sedang bermasalah dengan keimanan kita sendiri dan bukan itu dari Gereja.
Yesus bersabda; “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya” (Mat 5:17).

Manila: Juni-2020
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update