-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KANS 'PRAJA MUDA' DALAM BURSA KANDIDASI PILKADA MABAR

Sabtu, 06 Juni 2020 | 11:53 WIB Last Updated 2020-06-06T05:23:25Z
KANS 'PRAJA MUDA' DALAM BURSA KANDIDASI PILKADA MABAR
Ilustrasi: google

Oleh: Sil Joni

SSetelah bapak W.F.Pranda 'pergi menghadap Sang Khalik untuk selamanya',  kiprah paket calon W.F. Pranda-Belasius Jeramun (Praja) dalam panggung kontestasi Pilkada Mabar pun dinyatakan berakhir (gugur). Pihak KPUD Mabar sebagai lembaga penyelenggara resmi Pilkada sudah mengumumkan 'kematian Paket calon' itu.

Padahal, Paket Praja sempat digadang-gadang, minimal oleh para 'loyalis mereka', sebagai duet yang diperhitungkan untuk tampil sebagai kampium dalam kompetisi politik lokal itu. Perjalanan paket ini dalam lintasan proses kandidasi sebetulnya sudah mendekati garis finis. Mereka sudah menyerahkan puluhan ribu KTP kepada pihak KPUD untuk diverikasi secara administrasi dan faktual. Dari pemberitaan sejumlah media lokal, kita tahu bahwa paket ini sudah dinyatakan lolos dari sisi verifikasi administrasi. Itu berarti tinggal selangkah lagi, menanti hasil verifikasi faktual, mereka bisa bernafas legah dan secara bebas menyusun skenario untuk merebut dukungan politik dari konstituen.

Namun, ternyata 'mimpi politik nan indah' itu tak terlaksana sebab sang calon bupati, W.F. Pranda dipanggil oleh Yang Transenden bermukim di dunia yang lain. Teka-teki seputar masa depan paket itu sudah tersingkap semuanya. Blasius Jeramun (BJ) tak punya hak untuk menggandeng figur lain dengan menggunakan nama dan kendaraan atau pintu politik yang sama.

Kepergian Pranda tentu membuat peta dan konstelasi politik jelang kontestasi kian dinamis. Boleh jadi, sebagian pendukung fanatik Paket Praja sudah 'kehilangan asa' untuk coba bermain optimal dalam pentas politik itu.

Di tengah 'kegalauan politik' semacam itu, muncul kabar baru yang setidaknya bisa menjadi semacam pelipur lara bagi para pendukung Praja. Habis Praja terbitlah 'Praja Muda'. Sosok 'ke-Praja-an' seolah mengalami proses reinkarnasi. Praja yang sempat redup itu, kini bangkit lagi dalam wujud yang lebih segar: Praja Muda.

Praja Muda adalah akronim dari Blasius Jeramun-Mario Pranda (anak kandung dari bapak W.F.Pranda). Jika dalam paket Praja, BJ sebagai 'calon wakil bupati', pada Paket Praja Muda, BJ didaulat sebagai calon bupati (cabup) sedangkan anak dari Pranda sebagai cawabup. Media daring VoxNtt.com (3/6/2020) melansir berita seputar 'skenario' perjalanan Paket Praja Muda dalam bursa pencalonan kandidat bupati-wakil bupati Mabar 9 Desember 2020.

Diberikan bahwa ada kemungkinan Paket ini menjadi salah satu kontestan dalam Pilkada Mabar itu. Hanya saja, dari pemberitaan media itu, kita mengetahui bahwa paket ini harus melewati jalan terjal untuk sampai pada 'titik aman sebagai peserta pertandingan definitip. Pasalnya, mereka harus melobi sejumlah partai politik (Parpol) untuk memenuhi persyaratan diusung sebagai pasangan calon. Sebuah pekerjaan politik yang tidak mudah.

Untuk sementara, mereka baru merayu DPP Partai Demokrat. Hasilnya pun belum jelas. Jadi, bisa dipastikan bahwa posisi saat ini paket Praja Muda harus berjuang ekstra untuk lolos dalam fase kandidasi ini. Isu sentralnya adalah mereka masih 'kesulitan' mendapat kendaraan politik.

Dari penjelasan singkat di atas, kita bisa simpulkan bahwa kans paket Praja Muda untuk menjadi salah satu kontestan dalam Pilkada Mabar memang masih terbuka, tetapi butuh perjuangan ekstra. Mereka mesti mengerahkan potensi dan sumberdaya politik untuk bisa merebut dukungan partai politik. Perjalanan Paket Praja Muda tentu tidak 'semulus' paket Praja tua sebelumnya.

Jika mereka sukses mengantongi 'tiket politik', tugas berat sedang menanti. Mereka harus bekerja keras untuk memperbaiki level popularitas dan elektabilitas di tengah publik konstituen. Praja Muda tidak identik dengan Paket Praja. Tidak ada garansi bahwa loyalitas konstituen terhadap Praja sama atau lebih dari paket Praja Muda. Pendukung Praja tidak serta merta mengalihkan dukungan politiknya kepada paket Praja Muda. Tingkat penerimaan publik terhadap figur bapak, tentu tidak sama terhadap anak. Nama Praja dalam paket Praja Muda tidak bisa menjadi patokan soal dukungan publik terhadap paket itu.

Kendati demikian, kehadiran Praja Muda dalam gelanggang Pilkada Mabar, meski masih dalam fase kandidat, tentu menambah semarak pesta demokrasi lokal. Setidaknya, regenerasi atau peremajaan kader politik, mulai tampak. Kader-kader pemimpin yang relatif muda seperti Mario dll sudah bermunculan. Ini sebuah fenomena politik yang sangat menggembirakan.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update