-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kejamnya Rasisme (Pater Tuan Kopong, MSF)

Rabu, 03 Juni 2020 | 23:34 WIB Last Updated 2020-06-04T05:37:49Z
Kejamnya Rasisme (Pater Tuan Kopong, MSF)
Kematian George Floys saat demonstrasi di AS

Kematian George Floyd menuai simpati dan keprihatinan mendalam dari seluruh umat manusia yang hingga hari ini di USA masih terjadi aksi demontrasi meminta keadilan dan memprotes tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh oknum polisi Minneapolis hingga merenggut nyawa Geroge Floyd.
“I can’t breath” (saya tidak bisa bernapas) demikian suara serak George Floyd meminta agar ia tidak disiksa lagi oleh oknum polisi yang menginjak lehernya dengan lutut.

Kematian George Floyd dilihat sebagai perlakukan diskriminasi bernuansa rasisme terhadap maaf masyarakat kulit “hitam”. Kita semua sedih dan prihatin seperti halnya Bapa Paus Fransiskus yang menyampaikan dukacita mendalam dan mendoakan kedamaian jiwa George Floyd.

Di sisi lain kepergiaan George Floyd mengingatkan dan menyadarkan kita semua betapa kejamnya rasisme melebihi covid 19. Jika covid 19 ada masa inkubasinya, sedangkan bully rasisme berujung pada kematiaan seketika entah bunuh diri ataupun dilakukan oleh orang lain seperti yang dialami oleh George Floyd.

Tragedi kemanusiaan dari sebuah bully rasisme sudah selayaknya menyadarkan kita yang entah sadar atau tidak, entah guyon atau tidak seringkali juga menjadi pelaku bully rasisme bagi sesama kita.
Bahasa-bahasa rasis sering kita ungkapkan bahkan sering kita jadikan bahan guyonan tanpa menghiraukan rasa sakit hati dan tanpa peduli betapa malunya mereka yang kita bully.
“Kok kamu makin hitam, kriting, hidup pula”. “Dari NTT ya”. “Ketahuan dari rambutnya yang kriting dan kulitnya yang hitam”. 

Kita harus jujur mengakui bahwa kata-kata seperti ini kerap kita ungkapkan entah dengan alasan guyon. Bahkan hanya dengan melihat rambut dan warna kulit kita langsung menghakimi orang tersebut dari NTT atau daerah lainnya seperti Papua.
Dan sering berhadapan dengan bahasa-bahasa seperti ini, kita tidak mau mendengar suara sesak mereka yang kita bully; “I can’t breath”, sesak napas oleh bully-an yang berujung pada konflik bahkan bunuh diri. 

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa ketika “KITA MASIH MEMPERSOALKAN WARNA KULIT DAN JUGA RAMBUT SESAMA KITA, SEJATINYA KITA SEDANG MEMPERTONTONKAN KEBURUKAN DIRI KITA SENDIRI YANG TAK SECANTIK DAN SETAMPAN WAJAH YANG DIMILIKI”.

Manila: 03-Juni-2020
Patee Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update