-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kembali Ke Alam (Romo Edigius Minori, Pr)

Kamis, 11 Juni 2020 | 21:55 WIB Last Updated 2020-06-11T17:22:29Z
Kembali Ke Allam (Romo Edigius Minori, Pr)
Kembali Ke Allam (Romo Edigius Minori, Pr) - Ilustrasi: kompas

Ketika pertama hadir di bumi
Adam dan Hawa tinggal di kebun.
Mereka berdua sedari awal adalah petani.

Mereka tidak memilih menjadi petani.
Tetapi Tuhan memilih untuk mereka.
Tuhan tidak menempatkan mereka di kantor atau di pabrik yang serba otomatis.

Mengapa demikian?

Supaya hanya Tuhan jadi 'tuan' mereka.
Mereka diciptakan merdeka, hidup leluasa di tengah alam.
Mereka saling berbagi dan saling peduli dengan ciptaan yang lain.

Awal kisah hidup petani serba manis.
Bersahabat dengan alam, berkawan dengan semua binatang;
Tak ada yang buas.
Pohon dan tanaman spontan berbagi daun dan buah untuk suka cita petani

Kebun jadi tempat inspirasi,
Sumber lain dari suka cita Adam dan Hawa
Kebahagian di kebun itu tak terlukiskan. Adam dan Hawa membahasakannya dengan menamakan tempat itu Taman.
Sedangkan persahabatan yang dijalin dengan ciptaan lain dilukiskan dengan kata Teman.

Tuhan cinta keheningan, itulah sebabnya Adam dan Hawa ditempatkan di tengah taman yang indah, bukan di pabrik yang bising.

Tuhan tidak memilih "kantor" jadi sandaran hidup Adam dan Hawa.
Sebab Tuhan tidak membedakan orang berdasarkan pangkat dan jabatan.
Semua ciptaan Tuhan sama dan bersahabat.

Ternyata dalam diri manusia ada kerinduan akan keramaian dan kebisingan.
Juga ada hasrat untuk membedakan dan menempatkan yang lain sebagai bawahan dan memposisikan diri sebagai bos, tuan.

Tak lagi tahan sekian lama di taman saja. Anak-anak Adam dan Hawa menyulap taman itu sesuka hatinya jadi lokasi pabrik.
Mereka sibuk menciptakan hal yang bisa meramaikan dan membisingkan.
Maka munculah mesin-mesin yang siang malam berteriak mengusir keheningan.

Atas nama efisiensi dan keuntungan ekonomi nyanyian alam diubah jadi suara lengking industri.
Mereka mengagung-agungkan kemajuan.
Kesuksesan menciptakan kebisingan disebut kecerdasan.

Cara hidup nenek moyangnya, Adam dan Hawa ditinggalkan.
Jadi petani tidak jamannya, kata mereka.
Ini jaman industri 4.0 katanya.
Yang dulu itu jaman 0.4 , sinisnya.

Iya, dulu hubungan manusia dengan alam satu, tak ada industri.
Manusia di level 4, Industri 0.
Sekarang indutri ada di level 4 tetapi manusia, di titik 0.

Posisi di titik nol alias hamba dari industri dijaman ini jadi kebanggaan.
Sebab bukan keheningan yang dicari, bukan sesama yang dikasihi.
Rupanya saja seperti manusia.
Tetapi pikirannya adalah robot.
Hatinya telah menjadi onderdil dari mesin industri, onderdil dari sebuah sistem yang gaduh.

Jangan heran kalau anak-anak Adam dan Hawa terus merusak alam dan merisaukan petani.
Jangan heran kalau anak-anak adam sibuk berpikir meraih keuntungan ekonomi.
Sebab hati dan pikirannya telah jadi pabrik uang.

Tunggu saat kematiannya, tanaman dan rumput bergoyang ria.
Sebab jazatnya jadi humus.
Mereka baru jadi humus- humility setelah jadi tanah, kembali ke alam baka.

Terlambat? Belum terlambat!!!

Kembalilah ke alam sebelum ke alam baka.
Semoga tidak terlambat dan untuk kita belum terlambat, sehingga boleh berharap alam akan selamat.

Oleh: Romo Edigius Minori, Pr
×
Berita Terbaru Update