-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kisah Inspiratif dari Pedalaman Papua

Sabtu, 20 Juni 2020 | 21:41 WIB Last Updated 2020-06-20T14:47:28Z
Kisah Inspiratif dari Pedalaman Papua
Kisah Inspiratif dari Pedalaman Papua

Hidup yang baik sejatinya dibimbing oleh cinta dan pengetahuan. Demikian kata orang bijak. Anak-anak Papua yang luar biasa memiliki semangat dan tekat yang kuat untuk mengukir masa depan yang cemerlang di hari depan. Mereka merupakan pribadi yang memesona, ciptaan Tuhan yang sama seperti manusia lainnya. Mereka adalah  anak-anak didik saya.

Mereka sangat luar biasa. Tinggi besar sudah pada tamat tahun kemarin dan juga tahun ini.
Soal semangat juang jangan ditanya apalagi diuji. Saya berani bertaruh.

Pagi hari ini begitu cerah menandakan sepanjang hari ini tidak akan ada hujan. Dan itu benar.
Bangun pagi saya mencoba mengalihkan pandangan ke arah lapangan tepat di depan rumah guru (rumah T4 saya tinggal).  Kampung teramat sangat sepi. Hanya segerombolan anak sedang asyik bermain dan berkejar-kejaran di sudut lapangan. Entah mereka lagi berjemur atau mungkin memang sedang pengen bermain saja.

Saya memanggil beberapa anak. Mereka mengira bahwa panggilan tersebut bermaksud untuk mulai masuk sekolah. Hal ini terlihat dari gerak gerik seorang anak yang langsung bergegas ke sekolah untuk bunyikan lonceng sekolah. Rupanya mereka sudah tak sabar lagi untuk memulai sekolah.

"Kamu orang ada bikin apakah?"
"Ah tidak pak guru, kami hanya bermain saja", mereka menjawab penuh semngat.
"Pak guru ada panggil kami tadikah?" Mereka kembali bertanya.

Sayapun melanjutkan percakapan seolah sedang tawar-menawar.
"Iyo pak Guru ada panggil tadi. Kamu orang bisa bantu pak gurukah tidak? Pak guru punya kayu bakar habis ini. Pak guru minyak tanah habis lagian kompor juga sedang rusak."

"Bisa pak guru", jawab mereka dengan penuh semangat.

Saya menyuruh mereka untuk memanggil teman-teman lain di kampung supaya diberi pengumuman. Kenyataannya berbeda dan pada titik ini membuat saya tersadar sekaligus prihatin.
Bukannya memanggil teman-teman yang lain untuk datang ke rumah guru, mereka malah menyuruh semua anak SD yang lain untuk mandi.
Saya terkejut sekaligus heran.

Kebanyakan yang datang sudah pada wangi karena baru saja selesai mandi. Adapula yang membawa perlengkapan alat tulis.
Wahh mereka yang salah paham ataukah saya yang kurang jelas memberikan informasi?

"Selamat pagi pak guru, kita mau mulai sekolah sudahkah?"
"Ah pele bukan, pak guru kasi kumpul kamu orang karena pak guru mau minta tolong. Kita masih libur. Pak guru tidak berani menyuruh kamu orang untuk masuk sekolah. Kamu tahu tow, kalau sekarang ini masih ada corona?"

Rupanya mereka sudah tidak sabar lagi untuk kembali memulai sekolah.
Saya masih ingat baik ketika di pertengahan tahun saya mengabdi, ada anak yang sempat mengatakan,"dari sekarang pak guru dan ibu guru harus kasi pintar kami. Biar nanti kalau bapak ibu guru sudah plang ke kampung halaman kami sudah pintar dan bisa belajar sendri."😭😭😭😭

Merekapun pulang setelah saya meminta tolong diantarkan kayu bakar.
Tak lama berselang gerombolan per gerombolan mulai berdatangan dan membawakan masing-masing seikat kayu bakar.

Saya merasa heran dan kagum karena melakukannya dengan secepat itu. Luar biasa rajinnya.
Di daerah pedalaman tidak ada yang tidak bisa menolak kalau itu demi Guru mereka. Meskipun tidak bisa, pasti akan selalu dijawab bisa.

Kami pun memiliki kayu bakar yang berikat-ikat. Kali ini kayu bakarnya lebih banyak dibandingkan sebelumnya,  padahal yang membawanya kali ini anak-anak yang fisiknya msih sangat kecil.

Ketulusan mereka dalam memberi mengisyaratkan makna cinta terdalam.
Kepedulian mereka melahirkan refleksi tersendiri bagi sya mengenai hidup dan maknanya.

Saya di sini bukannya menunjukkan karakter sebagai bigboss ataupun suka perintah. Apalagi pemalas. Sama sekali tidak. Tetapi saya sebenarnya sedang menunjukkan kelemahan diri.
Kelemahan dimana saya sendiri tidak bisa mengunggulkan keberanian masuk di tengah hutan untuk mencari kayu bakar. Saya takut dan terlalalu takut untuk masuk di tengah hutan apalagi sendrian.

Namun anak didik saya, bagi mereka hutan adalah rumah sekaligus istana yang tak bisa tertandingi oleh apapun. Hutan adalah tempat bermain. Tempat mendapatkan buah-buahan, sekaligus mendapatkan makanan. Bagi mereka, hutan adalah tempat di mana mereka hidup dan mampu mengikir cerita indah dalam sukacita penuh makna.

Oleh: Adrianus Lami
Penulis adalah Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT), Kab. Mappi, Prov. Papua
×
Berita Terbaru Update