-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kita Belajar Lagi Dari Gereja Ndiwar

Senin, 08 Juni 2020 | 22:36 WIB Last Updated 2020-06-08T15:36:07Z
 Kita Belajar Lagi Dari Gereja Ndiwar
Gambara ini hanya sebagai ilustrasi yang diambil dari google - Gereja: umat Allah

Oleh Jondry Siki, CMF
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang)

Setiap tempat mempunyai nama dan fungsinya masing-masing. Maka sudah sepatutnya di mana kita berada kita harus menyesuaikan diri dengan lingkungan itu dan dengan siapa kita berkomunikasi, kita pun harus memposisikan dengan tepat dalam membangun komunikasi. Kita belajar lagi dari Gereja Ndiwar. Ketidaktahuan dan kesengajaan biasanya bertetangga dan beda-beda tipis. Aksi protes selalu mengatasnamakan ketidaktahuan dan kesengajaaan untuk mengungkapkan aspirasi dan protes yang terpendam. Kejadian memalukan dan mengelirukan yang terjadi di Gereja Ndiwar adalah satu contoh kasus ketidaktahuan umat akan arti Tubuh Mistik Kristus. Banyak orang salah menggunakan tempat untuk mengekspresikan diri.

Tidak semua tempat kita jadikan untuk fungsi dan tujuan yang tidak sesuai hakekatnya. Tempat olahraga adalah posisi yang tepat untuk mengungkapkan ekspresi raga demi kebugaran dan kesehatan. Adalah keliru dan sesat jika kita menjadikan tempat ibadah sebagai arena olahraga. Esensi dan eksistensi sebuah tempat harus kita junjung tinggi sebagaimana fungsinya. Tidaklah benar jika sekolah dijadikan tempat judi. Tidaklah benar juga tempat untuk menyembah Allah dijadikan arena olahraga. Jadikanlah setiap tempat sesuai dengan fungsinya agar tidak terjadi penyimpangan dan polemic dalam masyarakat. Kita harus bijak dalam melakukan segala sesuatu.

Melanggar Amanat Mulia Tuhan

Ketika Yesus masih melakukan pewartaan di Yerusalem, Ia mendapati banyak orang Yahudi salah menggunakan gedung Bait Allah. Mereka justru menjadikan gedung  Bait Allah untuk berdagang. Lantas aksi tersebut mendapat perhatian Yesus dan Ia berusaha untuk meluruskan pemahaman Orang Yahudi tentang Bait Allah. Bait Allah adalah tempat Allah bersemayam. Dalam Injil Yohanes 2:21 dijelaskan bahwa Bait Allah adalah Tubuh Yesus sendiri. Di sini kita bisa memahami bahwa setiap gedung ibadat yang telah ditahbis adalah tubuh Yesus sendiri. Dalam kesempatan penyucian Bait Allah, Yesus bersabda: “Ada tertulis; Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sang penyamun” (Luk 19:45-46).

Peristiwa penyucian Bait Allah adalah pesan dan amanat mulia Tuhan. Bahwa tempat kudus harus dihormati sebab telah disucikan oleh Allah. Kita belajar lagi di Gereja Ndwar. Pemakaian gedung ibadah untuk berolah raga adalah penodaan terhadap amanat Tuhan. Kejadian itu menunjukan betapa masih banyak para penyamun yang berkeliaran di dalam gereja. Peristiwa Ndiwar adalah pembelajaran iman. Tentu kita masih ingat tiga suster yang mengalunkan lagu idul fitri dalam gereja. Di sana banyak orang mengecam aksi tersebut. Aapakah kasus di Ndwar adalah kasus sepeleh? Tidak! Ini kasus serius dan harus segera diatasi agar umat tidak sesat piker dalam melihat fungsi tempat ibadah.  

Tempat Ini Kudus

Musa ketika menggembalakan domba, Ia melihat semak terbakar. Tetapi kenyataannya semak itu tidak terbakar. Rupanya Tuhan menampakan diri kepada Musa untuk membebaskan Israel dari Perbudakan Mesir. Dalam penampakan itu, Tuhan bersabda kepada Musa bahwa tempat yang ia pijak adalah kudus. “Janganlah datang dekat-dekat: tinggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (Kel 3:5).

Tempat Ibadah adalah tempat yang kudus. Tuhan mengundang kita untuk menanggalkan kasut yang ada di kaki kita yang kotor. Peristiwa yang terjadi dalam gedung gereja Ndiwar adalah suatu tindakan melawan Allah. Apalagi dalam gereja ada Alatar, Salib dan Tabernakel. Atribut-atribut kudus ini adalah tanda dan symbol kehadiran Allah. Adalah tidak terpuji jika kita menodai tempat kudus dengan kegiatan profan. Kita diminta untuk bijak dalam melihat dan menggunakan tempat. Tidak semua tempat dijadikan untuk fungsi yang tidak sesuai dengan tujuannya.

Hidup Sesuai Nama

Pepatah klasik mengatakan Nomen Est Omen “ Nama adalah tanda”.  Setidak-tidaknya kalimat ini bisa dipahami dengan baik. Adegium klasik tersebut, diperkokoh juga dengan Filosofi klasik Cina yang cukup terkenal yakni “hidup sesuai dengan nama”. Apa maksud kedua pepatah di atas? Tentu kita diingatkan untuk hidup sesuai dengan nama. Bahwa nama kita adalah tanda siapa kita. Maka dalam kasus yang terjadi pada Minggu 7 Juni 2020 di Gereja Ndiwar adalah cerita tentang ketidaktahuan orang akan tanda dari nama Gereja. Gereja adala tanda untuk umat manusia berkumpul dan memuji Allah.

Apa makna hidup sesuai nama? Maknanya adalah bahwa jika gedung olahraga harus digunakan sesuai fungsinya yakni untuk berolahraga. Gedung sekolah digunakan untuk proses belajar-mengajar. Maka gerejapu harus digunakan sesuai dengan nama dan fungsinya. Oleh sebab itu kita harus menggunakan tempat sesuai tujuannya. Tempat doa adalah tempat untuk berdoa bukan untuk berolahraga. Tempat berenang adalah tempat untuk berenang dan bukan untuk memancing ikan. Oleh sebab itu kejadian di Ndiwar adalah pejalaran untuk kita terus belajar bagaimana bijak dan pandai hidup menurut nama dan hidup sesuai nama. Semoga tulisan sederhana ini membantu kita untuk mengerti apa fungsi dan tujuan dari gedung gereja.
×
Berita Terbaru Update