-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Komunitas Literasi Milenial yang Genial (Sebuah Catatan Provokatif)

Selasa, 16 Juni 2020 | 09:55 WIB Last Updated 2020-06-16T02:55:04Z
Komunitas Literasi Milenial yang Genial (Sebuah Catatan Provokatif)
Komunitas Literasi Milenial" yang Genial (Sebuah Catatan Provokatif)

Oleh: Sil Joni*

Intuisi kreatif bisa  terekspresi dalam pelbagai kanal diskusi. Termasuk ruang diskursif yang bermain dalam jagat maya.

Grup-grup diskusi entah yang bersifat eksklusif, maupun yang bersifat inklusif, tumbuh bak cendawan di musim hujan dalam ruang virtual saat ini. Pelbagai komunitas itu digagas dengan intensi dan motivasi yang variatif. Tetapi, mungkin pengaktualisasian potensi sosialitas yang termanifestasi dalam bentuk komunikasi dialogis secara virtual, menjadi semacam benang merah kemunculan pelbagai grup tersebut.

"Komunitas Literasi Milenial" (KLM)adalah salah satu grup facebook yang 'baru lahir'. Aloysius Suhartim Karya Louis menjadi inisiator sekaligus 'bidan' yang menolong kelahiran 'bayi grup KLM' itu.   Proses persalinannya berlangsung mulus. Makhluk imajiner itu mulai menghirup aroma 'diskusi lepas' yang begitu ramai di ruang maya saat ini.

Kemunculan GLM dalam pentas media sosial, tentu bukan sekadar mengejar afirmasi publik. Tetapi, yang paling penting adalah 'mencari dan menggunakan ruang virtual untuk merangsang lahirnya aneka kreativitas literasi yang berbobot.

Salah satu ciri kelompok milenial adalah 'kemelekan atau kemahiran' dalam mengoptimalisasi pelbagai fitur digital. Mereka memperlihatkan sebuah peradaban digital dalam seluruh 'tata kehidupan mereka'. Pada titik ini, sebuah pertanyaan kritis-reflektif patut dikedepankan. Apakah generasi milenial sudah memanfaatkan secara genial pelbagai peranti digital untuk peningkatan mutu hidup?

Saya kira, kehadiran KLM bisa menjadi semacam pembuktian akan kapasitas dan komitmen generasi milenial untuk memanifestasikan talenta literasi digital secara kreatif dan produktif. KLM menjadi salah satau 'wadah alternatif' untuk melampiaskan 'nafsu berekspresi' tersebut.

Media sosial seperti facebook sebetulnya bisa 'dijadikan' media efektif dan praktis dalam mengembangkan 'kultur baca-tulis'. Generasi milenial di Mabar mesti membaca dan menangkap momentum ini, untuk menumpahkan rupa-rupa kreasi dan inovasi dalam bidang literasi. Keterlibatan generasi milenial dalam memperbincangkan dan merefleksikan secara kritis pelbagai isu-isu krusial di Kabupaten Mabar, tentu menjadi sebuah 'kekuatan dan modal sosial' yang konstruktif bagi kemajuan daerah ini.

Kaum milenial Mabar tidak boleh apatis dan menjadi penonton pasif terhadap 'hiruk-pikuk' pembangunan politik di sini. Mabar sangat membutuhkan partipasi kreatif dari kelompok milenial. Saya cukup optimis bahwa kelompok milenial ini 'mempunyai amunisi politik' yang berdaya transformatif jika dikelola secara arif dan imajinatif.

Karena itu, terobosan cerdas dari saudara Lois dalam 'mengkreasi' ruang diskursif khusus untuk kelompok milenial dalam bentuk grup KLM, patut diapresiasi dan disupport. Wujud konkret dari penghargaan dan dukungan itu, hemat saya tidak hanya 'berhenti' pada level menerima undangan, tetapi mesti 'berbuat sesuatu' untuk memaknai keberadaan wadah KLM itu sendiri. Partisipasi dan kontribusi para partisipan yang umumnya kelompok milenial ini, menjadi sebuah sumbangan cum warisan peradaban yang bermutu bagi sejarah perkembangan Kabupaten Mabar.

Bagaimanapun juga, tetap diakui bahwa kelompok milenial inilah yang akan 'meneruskan' estafet kepemimpinan politik sekaligus pencipta sejarah yang spektakuler untuk Mabar di masa mendatang. Oleh sebab itu, jangan tunggu lagi. Kita gunakan kesempatan dan ruang ini untuk mendermakan apa yang terbaik untuk kemajuan daerah ini. Kita adalah ahli-waris sah dari daerah ini. Masa depan kabupaten ini, sangat bergantung pada keseriusan kaum milenial dalam mengasah dan mengembangkan potensi kreatif yang bernilai bagi proses perbaikan kemaslahatan publik Mabar. 

Akhirnya, kita mesti berguman sekarang: "Untung ada facebook". Boleh jadi, kita, kelompok milenial Mabar ini yang sebelumnya 'buta' dengan budaya literatif, kini dengan gampang terlibat dalam kultur bermedia itu. Sebagian publik (jika tidak dibilang semua) 'terangsang' untuk menuangkan isi kepala dalam jagat media sosial itu. Bahkan yang lebih intersan adalah kita bisa 'beradu argumen' di ruang tak berhingga itu.

Kita tidak peduli apakah tulisan atau tanggapan itu bersifat rasional, bernas, dan berkualitas atau tidak, yang penting kita bisa 'melampiaskan' libido berkata-kata dalam sebuah forum diskusi di medsos. Itulah panorama demokrasi dan dialektika yang mesti dirawat secara kreatif. Tentu bukan soal siapa yang menang dan kalah atau benar dan salah dalam 'diskusi' itu, tetapi spirit positif untuk mengejar kebenaran. Bagaimana pun juga, kita tidak bisa menggenggam erat sebuah kebenaran. Kita hanya bisa berjuang agar aura kebenaran itu tidak tampak samar dan remang-remang. Selamat berdiskusi.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update