-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

"Mabar Bicara": Berbicara Tentang Mabar

Jumat, 12 Juni 2020 | 18:21 WIB Last Updated 2020-06-12T11:21:37Z
"Mabar Bicara": Berbicara Tentang Mabar
"Mabar Bicara": Berbicara Tentang Mabar - Silvester Joni

Oleh: Silvester Joni*

Berbicara adalah actus khas seorang manusia. Hanya manusia yang 'diberi' kemampuan untuk berbicara. Makluk infrahuman lainnya hanya sampai pada level 'mendengung' atau memproduksi bunyi berdasarkan naluri semata.

Tendensi dasariah manusia untuk keluar dari dirinya untuk menjangkau yang lain, bisa termanifestasi secara optimal melaui pembicaraan (bahasa). Pembicaraanlah yang memediasi relasi antara seorang individu dengan dirinya sendiri, sesama, lingkungan, dan Realitas Ultim.

Dengan demikian, tidak ada entitas yang luput dari 'pembicaraan'. Bahkan 'yang tiada' pun bisa menjadi sebuah obyek pembicaraan yang menarik. Lalu, mengapa manusia mesti berbicara? Apa efeknya jika manusia membicarakan sesuatu? Benarkah pembicaraan itu bermuara pada perbaikan kehidupan publik? Apakah 'pembicaraan atau bahasa'  itu bersifat politis?

Bahasa, pada level ontologis merupakan 'medium penyingkap kebenaran' dan pada level psikologis bersifat khatarsis (menyembuhkan). Daya terapeutik dari sebuah 'wacana/pembicaraan' bisa terarah ke subjek wicara dan bisa juga mengarah ke obyek pembicaraan. Ada semacam peristiwa 'mukjizat' ketika manusia berbicara.

Jika kita tarik ke ruang politik, maka hanya dalam dan melaui pembicaraan yang bermutu, tubuh politik akan bertumbuh ke level yang lebih baik. Itu berarti, tak diragukan lagi, pembicaraan (bahasa) itu bersifat politis. Tentu sejauh kata politik itu didefinisikan secara positif sebagai 'sarana menata kebutuhan atau kepentingan bersama'.

Penjabaran dari esensi aktivitas politik, tentu membutuhkan sarana artikulatif yang praktis dan mudah dipahami. Pada titik ini, diskursus soal pentingnya mengonstruksi pola komunikasi, interaksi, dan pembicaraan seputar hal-hal politis, menjadi semakin relevan dan urgen. Pengaturan dan pemenuhan berbagai kepentingan bersama itu, mesti berangkat dari keterlibatan warga dalam menyuarakan aspirasinya sekaligus memberikan catatan kritis agar para penentu kebijakan 'tidak menyalahgunakan' wewenang politik yang dikantonginya.

Publik membutuhkan 'media yang efektif' untuk memperbincangkan 'hal-hal politis yang bertautan erat dengan nasibnya. Dewasa ini, kita tidak mengalami kesulitan untuk menemukan ruang penyaluran yang tepat guna memenuhi kebutuhan akan 'praksis pembicaraan. Ada banyak kanal diskusi publik yang bisa dijadikan opsi alternatif. Ketika media resmi baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta, tak sudi menampung hasrat berbicara itu, kita bisa menggunakan peranti digital dalam pelbagai platform.

Atas dasar itu, saya mengapresiasi inisiatif sejumlah 'orang muda Mabar' yang membentuk sebuah wadah dengan fokus pada atensi penyaluran 'bakat berbicara'. Mereka mengkreasi sebuah 'ruang bebas' tempat di mana pribadi yang berbakat dalam membicarakan isu-isu publik di Mabar, bisa mengoptimalisasinya untuk perbaikan level mutu kemaslahatan publik di sini.

Grup yang dinahkodai oleh Aloysius Suhartin Karya dan Sirilis Ladur itu diberi nama 'Mabar Berbicara'. Sebagaimana tampak pada nama grup itu, saya kira intensi utama pembentukan wadah itu tidak lain adalah 'mengartikulasikan keinginan untuk membicarakan pelbagai perkara publik secara bebas, terbuka, dan kreatif.

Ini sebuah terobosan positif di tengah 'lesunya wacana publik yang terartikulasi secara reguler' di Mabar hari-hari ini. Suara kritis publik hanya didiseminasi secara sporadis melalui kanal virtual dan dalam langgam bahasa tulis yang variatif. Media yang secara khusus menampung 'pemikiran kritis-sitematis melalui komunikasi verbal yang elegan', relatif terbatas.

'Mabar Berbicara' coba mengisi factumb 'kekosongan' itu untuk tampil meski dalam kondisi yang serba kurang. Mereka hanya memanfaatkan perkakas dan ruangan sederhana untuk mengekspresikan kegelisahan politik itu secara lisan. Fitur media sosial khususnya facebook digunakan secara kreatif untuk 'menayangkan secara langsung (live streaming)' sebuah diskusi publik yang dikemas dalam istilah keren: Talk Show.

Acara 'Talk Show' perdana berhasil digelar pada Rabu, (10/6/2020) dengan mengusung tema: "Skema New Normal dalam Bidang Pendidikan dan Pariwisata di Mabar". Acara yang dipandu oleh Sirilus Ladur itu, menghadirkan empat orang pembahas/pembicara, yaitu Servas Ketua, Aloysius Karya, Ladis Jeharun dan saya sendiri. Sebagai sebuah acara perdana, tampilan acara itu tidak terlalu jelek. Namun, harus diakui bahwa acara itu masih perlu 'ditingkatkan' kualitasnya di masa mendatang.

Para kru dan para pembahas tampil apa adanya. Mereka secara spontan dan penuh semangat 'membicarakan' isu New Normal yang kemungkinan terjadi di bidang pariwisata dan pendidikan untuk konteks Mabar. Lokus dan fokus pembicaraan adalah situasi sosial-politik real dan aktual di Kabupaten Mabar.

Saya tidak tahu seperti apa antusiasme dan catatan penonton terhadap tayangan perdana itu. Jika tidak ada aral melintang, Mabar Berbicara akan menayangkan acara talk show itu minimal sekali dalam satu pekan dengan menghadirkan pembicara dari pelbagai kalangan termasuk perwakilan dari Pemerintah Daerah dan DPRD Mabar. Untuk itu, saya kira masukan dan catatan kritis dari warga-net yang kebetulan menyaksikan acara itu, sangat penting dan diharapkan.

Terlepas dari banyaknya sisi minus dalam tayangan perdana itu, saya berpikir terobosan inovatif dan kreatif dari para inisiator wadah itu, layak dipuji dan didukung. Mereka adalah anak muda 'pencipta sejarah' lahirnya pembicaraan bermutu di ruang politik lokal kita. Mabar, tentu saja menjadi sebuah 'teks politik' yang tidak pernah tuntas diperbincangkan. Tubuh politik Mabar, dilihat dari aneka segi, belepotan dengan kondisi politik yang patologis. Pelbagai penyakit sosial itu, berpotensi menjadi 'tumor perusak' sistem kekebalan politik, jika tidak disembuhkan (baca: dibicarakan).

Kita tidak boleh 'membiarkan luka-luka politik itu bertambah kronis. Aksi diam atau apatisme adalah sebentuk 'luka baru' atau minimal memperparah luka lama dalam tubuh politik itu. Oleh sebab itu, mari kita memberikan resep penyembuhan (solusi) terhadap rupa-rupa problem negatif itu, dengan berpartisipasi secara aktif dalam pembicaraan bermutu di Ruang Mabar Berbicara.

Forum Mabar Berbicara adalah wadah penyaluran 'pil politik' yang menyehatkan wajah politik  di Mabar. Pemerintah Daerah dan semua stakeholder politik lainya mesti melek media sosial agar bisa menangkap 'obat politik' yang dikirim publik melalui rupa-rupa kanal virtual. Dengan itu, ada ketersambungan politik antara 'kebijakan Pemerintah' dengan kondisi dan kebutuhan konkret yang dialami warga. Mabar Bicara, bicaralah. Para pemangku kepentingan politik dan publik Mabar siap mengelaborasi hasil pembicaraan yang berangkat dari kontemplasi atas pelbagai realitas politik empiris yang bersifat patologis di Mabar ini.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update