-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Maria Geong: Rival (Politik) Sepadan Kaum Adam

Rabu, 03 Juni 2020 | 17:18 WIB Last Updated 2020-06-03T10:18:51Z
Maria Geong: Rival (Politik) Sepadan Kaum Adam
Maria Geong: Rival (Politik) Sepadan Kaum Adam - Ilustrasi: google

Oleh: Sil Joni*

Domain politik saat ini tidak lagu tabu untuk dikuasai oleh kaum feminim. Tembok pembatas atau garis demarkasi antara wilayah privat dan wilayah publik untuk dimasuki oleh kaum perempuan sudah runtuh. Gugus pikir dikotomis semacam itu, tidak hanya bersifat diskriminatif, tetapi juga mencederai hak-hak asasi kaum perempuan.

Kendati ruang politik itu sudah terbuka dan lebih ramah untuk perempuan, tetapi untuk konteks politik lokal Provinsi NTT,  perempuan yang terjun ke gelanggang politik praktis, bisa dihitung dengan jari (tidak seberapa). Panggung politik (lokal) masih didominasi oleh kaum maskulin. Maria Geong, wakil bupati Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) saat ini, menjadi salah satu 'wanita perkasa' yang sanggup menerobos domain politik yang kerap dimonopoli kaum Adam itu. Sangat masuk akal ketika dalam momen pelantikannya, kepada wartawan Maria Geong menegaskan bahwa dirinya adalah 'pembuka pintu politik' bagi kaum hawa untuk memilih politik sebagai 'jalan pengabdian' kepada publik.

Penciuman (baca: naluri) politik ibu Maria, cukup terbukti kemanjurannya. Betapa tidak, kendati dirinya dianggap sebagai 'politisi pendatang baru' dalam Pilkada Mabar edisi ketiga, kemunculannya cukup memukau dan sukses mendongkrak perolehan suara paket Gusti-Maria kala itu. Keberadaan ibu Maria dalam paket itu menjadi 'salah satu amunisi politik' sehingga mereka relatif tidak kesulitan 'menyingkirkan' para pesaing mereka untuk menduduki kursi kekuasaan sebagai bupati dan wakil bupati periode 2015-2020.

Terkait performa dan kinerja politis ibu Maria ketika berada dalam lingkaran kekuasaan, memang menjadi bahan evaluasi yang bisa diperdebatkan. Sejauh ini, belum ada prestasi politis fenomenal yang amat menonjol di mana kontribusi ibu Maria cukup menonjol. Tentu saja, catatan datar itu bisa dimaklumi sebab posisi sebagai 'wakil bupati' relatif kurang menguntungkan dari sisi citra politik. Sesungguhnya, ekspektasi publik Mabar cukup tinggi terhadap ibu Maria. Optimisme itu cukup beralasan. Sebelum merengkuh jabatan politik, ia dikenal luas sebagai sosok akademisi dengan reputasi dan debut akademik yang spektakuler.

Namun, sayangnya hingga detik ini, ibu Maria belum merespons harapan publik itu secara optimal. Kendati demikian, saya tetap yakin dengan 'talenta politis' yang dimilikinya. Segudang potensi politis itu, jika dikelola secara arif dan kreatif oleh ibu Maria, tentu menjadi kapital politik untuk merampungkan upaya prealisasian berbagai proyek kemaslahatan publik di Mabar.

Oleh sebab itu, kontestasi politik Pilkada Mabar yang akan dihelat tahun 2020 menjadi momentum 'pembuktian kapasitas politis' yang sesungguhnya bagi seorang Maria Geong. Tentu saja, opini tentang 'pendemonstrasian kecakapan politik itu' mengandaikan ibu Maria sudah siap dan komit untuk menjadi salah satu 'pemain hebat' dalam kompetisi politik lokal itu. Sejauh ini, kita  sudah mendengar atau membaca pernyataan tegas ibu Maria perihal kesiapannya dalan hajatan politik lima tahunan tersebut. Bahwasannya beliau dengan penuh kesadaran menjadi salah satu kontestan dalam kontestasi politik Mabar 2020.  Ibu Maria sudah teken kontrak politik untuk 'berduet' dengan Silverius Syukur dalam ajang kompetisi politik itu. Duet ini lebih populer disebut 'Paket MISI' sebagai akronim dari nama keduanya, Maria-Sil.

Pilkada Mabar 2020 tentu saja akan semakin berwarna dengan kehadiran ibu Maria yang tetap konsisten menyusuri kandang politik yang agak 'seram' bagi kaum perempuan. Saya kira, peta dan konstelasi persaingan Politik Mabar kian dinamis pasca-kepergian Almarhum Fidelis Pranda. Tidak ada lagi kandidat yang relatif dominan dalam hal elektabilitas dan popularitas. Semua aktor yang berlaga berpeluang memenangkan pertarungan tersebut. 

Kendati demikian, saya berpikir status sebagai calon petahana (wakil bupati), bisa dianggap sebagai sebuah 'keuntungan politik'. Ruang dan peluang untuk bermanuver demi 'menaklukan hati voters', sudah terbuka lebar. Ibu Maria tidak perlu lagi menguras energi untuk 'menjual nama' sebab dirinya sudah sangat populer dan familiar di hati rakyat Mabar.

Saya kira kans untuk memenangkan pertarungan, cukup besar. Ibu Maria, seandainya dia maju dalam kompetisi itu, tentu menjadi rival yang sepadan dengan kandidat dari kaum Adam seperti Matius Hamsi, Ferdi Pantas, dan Edi Endi. Peta dukungan politik relatif sulit diprediksi sebab keempat kandidat ini memiliki basis massa yang loyal dan fanatik.

Apapun hasilnya nanti, Ibu Maria tetap dikenang dalam buku sejarah NTT umumnya dan Mabar khususnya, sebagai perempuan yang sanggup menerobos dominasi kaum maskulin untuk menjadi pemimpin politik. Sejarah itu akan semakin lengkap, jika dewi fortuna politik berpihak kepadanya  ketika menjadi kampium kontestasi politik mendatang. Jabatan bupati, untuk konteks Mabar, sudah menjadi pakaian politik spektakuler untuk seorang perempuan.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update