-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Matius Hamsi dan 'Politik Berbasis Hati'

Minggu, 07 Juni 2020 | 13:57 WIB Last Updated 2020-06-07T06:57:47Z
Matius Hamsi dan 'Politik Berbasis Hati'
Ilustrasi: google

Oleh: Sil Joni*

Kerinduan untuk 'mengabdi' dalam medan politik, tak pernah mati. Hampir semua mimpi politik pribadi, sudah tergenapi, kecuali satu hal: 'jadi bupati Manggarai Barat (Mabar)'. Matius Hamsi bertekat 'membaktikan segenap kapasitas politiknya' melaui 'ruang pemerintahan (eksekutif). Kontestasi Pilkada Mabar 9 Desember 2020 mungkin kesempatan terakhir baginya untuk menuntaskan 'impian politik' yang belum kesampaian selama ini.

Nonton juga SFN Channel: https://www.youtube.com/watch?v=cuaNWmIVCoY (Tolong Like, SUbscribe dan Share ya)

Riwayat perjalanan politiknya, seolah masih ada ruang kosong, sebelum asa merebut jabatan bupati itu terealisasi. Ada semacam 'beban politik yang menggantung di pundak' jika niat untuk mengabdi kepada publik melalui jalur eksekutif, belum termanifestasi. Mantan ketua DPRD Mabar tiga periode itu, seakan ingin 'melunasi utang politiknya' kepada publik Mabar.

Ruang parlemen lokal, tempat di mana Matius merakit cerita soal kiprah dan debut politik yang fenomenal selama 15 tahun, tentu saja masih terbatas untuk mengaktualisasikan kecakapan politiknya dalam mengubah wajah Kabupaten ini. Beliau selalu 'terpanggil' dan tertantang untuk membawa biduk kabupaten ini ke pantai idaman, kemaslahatan publik yang lebih baik.

Nama Matius Hamsi (MH) dalam jagat politik lokal begitu masyhur dan melegenda. Rasanya tak berlebihan jika MH menjadi salah satu 'legenda politik' yang masih hidup dan aktif melakoni aktivitas politik di level lokal. Tak sedikit politisi muda yang entah disadari atau tidak, menjadikan MH sebagai 'guru politik'.

Menjadi ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Golkar sejak Mabar menjadi kabupaten otonom hingga saat ini dan pernah menjadi Ketua DPRD Mabar selama tiga periode, tentu bukan sebuah prestasi yang diukir oleh pribadi yang biasa-biasa saja. Hanya sosok sekelas MH yang bisa mengukur narasi politik yang semenawan itu. Saya kira, rekor politik yang ditorehkan MH itu sulit ditandingi atau dipatahkan oleh politisi lain di Mabar ini.

Namun, capaian politik individual itu, tak selalu berbanding lurus dengan tingkat perubahan dan perbaikan ruang politik secara keseluruhan. MH menilai bahwa mengabdi lewat partai dan ranah legislatif saja, tidak cukup untuk mewujudkan segenap proyek kesejahteraan publik di sini. MH butuh 'legitimasi politik' dan ruang kewenangan politik yang lebih luas untuk menjabarkan gagasan politiknya. Karena itu, bertarung memperebutkan 'jabatan bupati' merupakan opsi yang realistis dan rasional.

Sebetulnya, dambaan untuk jadi bupati itu, bukan baru bersemi kali ini. Dalam dua edisi Pilkada Mabar sebelumnya, kerinduan itu sudah terlihat. MH menjadi salah satu kontestan yang aktif. Tetapi, rupanya dewi fortuna politik masih belum berpihak padanya.

Pada momentum kontestasi Pilkada Mabar 2020 ini, lagi-lagi MH mengumandangkan 'niat baiknya' kepada seluruh publik Mabar. Sejumlah keputusan politik krusial telah dieksekusi untuk memuluskan 'perwujudan kerinduan' itu. Dengan sangat hati-hati, MH membidik figur yang tepat untuk berjuang bersamanya dalam kompetisi politik lokal itu. Demikian pun, negoisasi dan lobi politik dengan sejumlah partai dibuat dengan sepenuh hati.

Dari pemberitaan media kita tahu bahwa MH akan berduet dengan Tobias Wanus, seorang politisi dengan reputasi yang bagus. Pasangan ini dibaptis dengan nama politik: 'Paket Hati'. Tagline 'Hati' itu tentu saja lebih dari sekadar akronim dari nama keduanya (Hamsi-Tobi). Nama itu menyiratkan sebuah 'roh politik' yang dihembuskan dalam kontestasi ini yang bisa menjiwai segenap perjuangan dari paket ini selama musim politik berlangsung dan juga ketika kursi kuasa itu berhasil direbut.

Paket Hati, sejauh ini, diusung dan didukung oleh Partai Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Syarat 6 kursi sebagai batas minimal dalam proses pencalonan, dengan demikian,  sudah terpenuhi. Itu berarti, saya kira, jika tidak ada kendala yang berarti, bisa dipastikan Paket Hati menjadi salah satu kontestan yang berlaga dalam ajang Pilkada Mabar itu.

Kembali ke soal nama paket ini. Mungkin ada yang bertanya apa dan mengapa MH dan para pendukungnya lebih memilih kata 'Hati' ketimbang kata-kata lain sebagai perpaduan dari nama keduanya. Dalam sebuah obrolan informal dengan penulis, MH pernah mengungkapkan secara jujur 'alasan' di balik pemilihan nama 'Hati' itu.  Nama itu, demikian MH merupakan 'buah dari sebuah permenungan yang panjang'. MH sendiri yang menawarkan nama itu untuk disetujui oleh seluruh tim sebagai 'nama politik' untuk paket itu. Mengapa Hati?

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa nama 'Hati' tidak hanya perkara akronim belaka. 'Hati', bagi MH menjadi semacam 'kunci politis' untuk menghadirkan kesejahteraan bagi publik. Praksis politik yang didesain dan dieksekusi dengan 'hati yang tulus', menjadi modal untuk mempercepat terwujudnya perubahan mutu kehidupan publik di Mabar.

MH dan rekan duet politiknya, Tobias Wanus  tentu siap 'mendonasikan hati politik' untuk menata dan membawa Kabupaten ini ke arah yang lebih bermartabat. Mereka ingin 'mengorbankan dan membagi hati' dalam menjalankan amanat politik dari rakyat Mabar.

Tumpukan problematika politik tidak bisa diselesaikan dengan menggunakan 'logika politik instrumental-pragmatis semata', tetapi juga dengan mengoptimalkan 'logika hati' dalam berpolitik. Logika hati, demikian MH, mempunyai 'keunggulan tersendiri' yang tidak dipunyai oleh jenis logika yang lain. Hanya saja, logika hati ini, sering 'dipinggirkan' dalam lapangan politik kita. Padahal, logika hati, jika kelola secara arif dan kreatif, akan membawa keuntungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pelbagai skema pembangunan politik.

Atas dasar itulah, MH kembali masuk ke pentas politik kekuasaan lokal dengan 'mengusung filosofi hati' sebagai panduan dalam berpolitik. Kerinduan politik MH untuk menghantar Mabar ke lanskap politik yang bermutu, coba ditopang dan dipandu oleh spirit 'hati yang mengabdi' itu. Politik, sebetulnya bukan ajang pamer otak dan ambisi (nafsu) semata-mata, tetapi juga 'seni memberi hati', kepada sesama. Paket Hati coba merajut kisah politik pada episode kali ini di atas penguatan kapasitas logika hati itu. Hanya 'hati yang jernih' yang bisa mengontrol dan menetralisir kerja otak yang manipulatif dan syahwat politik yang ambisius dan distortif.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update