-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MBOK IYAH (Renungan Inspiratif Hari Ini)

Rabu, 10 Juni 2020 | 22:12 WIB Last Updated 2020-06-10T15:26:57Z
MBOK IYAH (Renungan Inspiratif Hari Ini)
MBOK IYAH (Renungan Inspiratif Hari Ini)

SENIMAN (Setetes Embun Iman Harian)
Selasa, 10 Juni 2020
Edisi: Kisah Kasih Masa Lalu

Sudara-saudari seperjalanan yang terkasih; dalam permenungan SENIMAN kali ini, saya hendak membagikan secuil kisah kasih pengalaman masa lalu. Saya teringat akan pengalaman menjalani perutusan di salah satu paroki di daerah Hulu Kapuas Kab. Putussibau - Kalimantan Barat. Kalau tidak salah sekitar 10 tahun yang lalu. Paroki tersebut digembalakan oleh para imam-biarawan Montfortan. Saya sungguh bersyukur boleh belajar banyak hal di sana. Belajar dari pengalaman. Pengalaman kecil dan sederhana boleh mengenal alm. Mbok Iyah (biasa aku memanggilnya). Dia adalah salah satu warga yang mendiami kampung transmigran yang berada di wilayah paroki Siut.  Pekerjaan mbok Iyah adalah penjual sayur keliling. Biasanya ia menjajakan dagangannya 3 hari sekali. Itu pun barang dagangannya dibawa dengan cara digendong. Untuk sampai di desa Siut tempat ia biasa menjajakan dagangannya kepada masyarakat suku Dayak Taman ia harus menempuh waktu kurang lebih 4-5 jam. Dengan jalan yang berlumpur, rawa-rawa, dikelilingi hutan yang lebat. Belum lagi kalau hujan turun. Memang sangat jauh karena aku bersama beberapa misdinar (Veni, Meilani, Egi, Masli, Linda, Natalia, Tessa, Angel, Iwan) pernah berkunjung ke kampun transjawa. 

Berdasarkan kesaksiannya, ia beserta para penjaja sayuran yang lain yang juga warga transmigran mulai berjalan dari rumah pukul 02.00 wib. Tiba di desa Sayut pukul 06.00 wib. Belum lagi umur Mbok Iyah sudah tergolong tua (65 tahun). Dilihat secara  fisik, sesungguhnya ia tak lagi mampu untuk menjalani semuanya tetapi itu ia lakukan dengan penuh cinta demi keluarga. Yang saya kagumi pada pribadi beliau adalah semangatnya yang tak pernah pudar, sikapnya yang selalu "nrimo ing pandum" (menerima dan mensyukuri apa yang Tuhan beri), tidak mudah mengeluh, dan selalu berpikir positif. Juga kerendahan hati dan kesederhanaannya. Setiap ia datang dan menjajakan dagangannya di Pastoran tempat aku tinggal betapa mudahnya hatiku tersentuh olehnya. Sedih rasanya. Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu. Melihat dia mengingatkan aku pada  Simbokku yang ada dikampung. Yang juga memiliki profesi yang sama. Setiap ia datang dan menjajakan dagangannya di pastoran, saya selalu siapkan makanan dan minuman bahkan kami selalu mengajaknya sarapan bersama-sama.  Setiap mau kembali ke rumah trans, kami selalu bawakan bekal untuk perjalanan pulang. Dari pancaran mata dan wajahnya tersirat harapan dan sukacita. Sesekali aku dan Pastor paroki men-candai dia dengan menggunakan bahasa jawa (karena kami sama-sama orang Jawa). Ia pun tersenyum bahagia. tidak hanya dia yang bahagia, kamipun merasa bahagia boleh menyapa, mengenal dan Tuhan menghadirkan beliau bagaikan malaikat yang tak bersayap yang selalu mengajari kami tentang arti dan makna kehidupan.  Kehadirannya kurang lebih satu tahun membuatku semakin mengerti bahwa hidup ini TUHAN yang mengatur dan menyelenggarakannya.

Kalau tidak salah bulan Mei 2010, aku dan Mas pastor paroki sudah mulai jarang melihat Mbok Iyah. Ada rasa penasaran karena sudah hampir satu minggu tidak mampir ke pastoran. Mengingat sayur di kulkas pastoran sudah habis. Kami berusaha mencari tahu keberadaannya. Selang beberapa jam mendapatkan kabar dari masyarakat transjawa bahwa Mbok Iyah di temukan meninggal di jalan antara kampung trans dengan desa Sayut. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan dari masyarakat tranjawa bahwa belum lama Mbok Iyah sakit. Dari sinilah diduga bahwa beliau meninggal karena dalam kondisi kurang sehat dan kelelahan. Mendengar hal itu hatiku dan hati kami shock. Tidak pernah menyangka akan terjadi seperti itu. Tidak pernah menduga bahwa perjumpaan minggu lalu adalah perjumpaan terakhir. Sungguh kami (saya pribadi) merasa kehilangan sosok yang luar biasa dalam perjalanan panggilan ini. Kehilangan sosok yang memberikan inspirasi tentang hidup yang perlu dimaknai. Dan Mbok Iyah telah memaknainya.... Aku percaya ia sudah berbahagia di surga. Mbok Iyah terimakasih boleh mengenalmu 10 tahun yang lalu. 

Saudara seperjalanan yang terkasih, pengalaman kecil dan sederhana yang aku alami 10 tahun yang lalu senantiasa terkenang sampai saat ini. Pengalaman yang tidak mungkin akan aku lupakan. Pengalaman itu mengingatkan aku akan sabda Yesus "Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sungguh ia tidak akan kehilangan upahnya" (Mat.10:42). Mbok Iyah terima kasih atas semuanya. Dirimu sudah memberikan "air sejuk secangkir bahkan lebih" kepadaku, kepada kami, dan kepada masyarakat Dayak di Paroki Siut - Melapi. Dan saya yakin dirimu telah mendapatkan upah dari Tuhan yaitu kehidupan kekal. Bahagia di Surga. Jadilah pendoa bagi semua manusia yang sedang beziarah dan berjuang menuju tanah air surgawi.

Saudara-saudari seperjalanan yang terkasih,  kini adalah giliran saya, Anda, dan Kita untuk melanjutkannya. Giliran kita untuk memberi "air sejuk secangkir" kepada orang-orang yang kita jumpai setiap hari dengan cara kita masing-masing. Air sejuk itu dapat berupa: sapaan, perhatian, pengampunan, sikap empati-peduli, berbagi, saling memuji, menghormati, menghargai, bekerjasama, saling mensuport, belas kasih dan lain sebagainya. Mari kita mewujudkan semuanya itu mulai dari lingkungan terkecil dalam kehidupan kita: diri sendiri, keluarga, masyarakat, tempat pekerjaan, Gereja, bangsa dan negara. Apalagi ditengah situasi yang sulit di masa pandemi Covid-19 ini, semoga ada mbok.Iyah-mbok Iyah yang lain. Maka, kita yang adalah murid-murid Yesus harus selalu terbuka terhadap dunia dan pada penderitaan dari saudara-saudari yang lain. Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus (Gaudium et Spes. No.1).

Selamat memperjuangkan kehidupan ini dengan tetap mengandalkan tuhan dalam segala hal. Mari kita temukan tuhan di dalamnya. 

Jangan takut untuk memulai..... 
Kita mulai pelan-pelan....
Percaya kita bisa...
Karena dia ada bersama kita.
Totus tuus ergo sum
Berkah dhalem

Oleh: Fr. Ignasius Wahyudi Paweling (Calon imam diosesan Keuskupan Agung Jakarta)
×
Berita Terbaru Update