-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENANG TANPA UANG (Menjaring Figur 'Berbobot' dalam Sebuah Kontestasi Politik)

Selasa, 02 Juni 2020 | 17:32 WIB Last Updated 2020-06-02T10:33:52Z
MENANG TANPA UANG (Menjaring Figur 'Berbobot' dalam Sebuah Kontestasi Politik)
MENANG TANPA UANG (Menjaring Figur 'Berbobot' dalam Sebuah Kontestasi Politik) -Ilustrasi: google

Oleh: Sil Joni*

Politik, di tangan para pemburu kekuasaan politik, mengalami pereduksian makna yang serius. Ideal yang digagas Aristoteles bahwa politik merupakan 'sarana membahagiakan publik', rasanya sebuah barang mewah saat ini. Mimpi semacam itu semakin sulit terwujud di tengah menguatnya arus pragmatisme saat ini. Politik tidak lebih sebagai instrumen untuk mendapat kuasa dan demi mendapat untung semata. Kontestasi demokrasi di semua level, dengan demikian, menjadi momentum pengejawantahan 'nafsu mengeruk keuntungan sebesar-besarnya'.

Keterlibatan seorang politisi oportunis dalam arena politik, dilatari oleh pola pikir kalkulatif semacam itu. Semua sumberdaya dan kapital dikerahkan untuk merebut 'tiket politik' yang diyakini sebagai pintu gerbang menuju terrealisasinya keuntungan yang lebih besar tersebut. Investasi di musim kontestasi 'harus dibayar tunai' ketika kuasa politik digenggam. Bahkan, dalam banyak kasus, ongkos yang dikeluarkan untuk membiayai kompetisi politik itu terkesan tak seberapa dibandingkan dengan 'rejeki politik' yang dipanen ketika menduduki takhta kekuasaan. 

Wabah pragmatisme politik itu, tidak hanya menular dalam tubuh politisi, tetapi juga kini sudah merambat ke pikiran konstituen. Sudah tertanam anggapan bahwa seseorang yang terjun ke gelanggang politik, pasti dibekali dengan setumpuk kapital finansial yang menggiurkan. Karena itu, kontestasi di mata publik, dimaknai sebagai peluang untuk 'mengeruk saku' dari para kandidat tersebut.

Dalam demokrasi elektoral, tak bisa dielak' kuatnya kecenderungan untuk memilih calon pemimpin yang memiliki banyak uang. Sistem demokrasi kita didesain untuk 'beradu uang' dalam sebuah kompetisi politik. Hanya dan melalui uang, seseorang bisa dipercaya untuk memegang jabatan politik seperti DPR(D) dan bupati.

Jika uang yang dipertandingkan dalam sebuah panggung kompetisi, maka sebenarnya kita tidak perlu bangga apalagi membuat acara syukuran atas kemenangan itu. Mengapa? Ternyata, publik tidak percaya pada pribadi manusia yang berbobot, tetapi lebih terpikat pada uang. Jadi, kita hanya bisa berbangga dan membuat syukuran terhadap 'uang' sebab hanya dan melalui uang kita bisa meraih jabatan prestisius itu.

Kita bisa membuat semacam penelitian ringan terhadap caleg yang terpilih menjadi anggota DPRD Mabar dalam kontestasi pileg kemarin. Apakah kemenangan yang mereka raih tanpa mengeluarkan ongkos politik yang besar? Jika hasilnya adalah semua mengandalkan uang dalam kompetisi itu, maka kita tidak bisa menyimpulkan bahwa merekalah pemimpin politik berbobot sesuai dengan harapan publik.

Idealnya, menurut hemat saya, seseorang dipercayakan menjadi wakil publik, bukan karena faktor uang, tetapi semata-mata karena kapasitas dan kompetensi politis yang dimilikinya. Karena itu, mekanisme dan sistem kompetisi kita mesti direvisi secara total, di mana unsur penggunaan uang ditekan seminimal mungkin, bahkan bila perlu ditiadakan. Dengan itu, kita bisa mendapatkan figur politik yang benar-benar bermutu. Peluang lahir dan tampilnya 'wakil publik' yang lebih kualifikatif, semakin besar, sebab publik hanya mengarahkan perhatian pada kualitas figur, bukan terpesona dengan uangnya.

Demokrasi kita mengalami pembusukan dan kerusakan pada semua level, salah satunya disebabkan oleh maraknya "penggunaan uang" dalam perekruitan para elit. Para pemimpin yang terjaring, umumnya adalah mereka yang secara finansial cukup berkelimpahan. 

Karena itu, tidak terlalu mengejutkan jika banyak pemimpin politik di republik ini harus mendekam dalam jeruji tahanan sebab mereka "menggunakan" kekuasaan itu untuk menggantikan modal yang sudah terkuras selama mengikuti kontestasi.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.

Artikel ini sudah dimuat di Floresnews.net
×
Berita Terbaru Update