-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menangis di Hari Pernikahan (Pater Joseph Pati Mudaj, MSF)

Rabu, 10 Juni 2020 | 13:11 WIB Last Updated 2020-06-10T06:15:17Z
Menangis di Hari Pernikahan (Pater Joseph Pati Mudaj, MSF)
Menangis di Hari Pernikahan

Pernikahan adalah salah satu peristiwa bersejarah dalam hidup yang sarat emosi. Banyak pasangan menangis di hari bersejarah itu, dengan berbagai alasan atau dorongan. Ada tangisan kebahagiaan, syukur, haru, bangga atau ekspresi sukacita. Tetapi ada pula tangisan kesedihan atau ketakutan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Umumnya mempelai perempuan lebih banyak menangis saat mengucapkan janji perkawinan daripada laki-laki. Selain rasa syukur, haru, bahagia, bangga, ada juga beberapa alasan.

Tangisan perempuan bisa jadi merupakan ungkapan kesedihan karena pada saat yang sama ia sadar, harus meninggalkan orang tua, yang selama ini sudah melahirkan dan membentuk seluruh hidupnya. 

Meninggalkan orang tua, keluarga dan segala pengalaman masa lajang adalah momen paling sentimentil. Ada rasa syukur dan terima kasih atas cinta dan pengorbanan orang tua. Tapi ada pula kecemasan akan nasib orang tua ketika ia tidak bisa bersama mereka lagi. Tangisannya sekaligus menjadi doa dan harapan agar orang tua baik-baik selalu.

Perempuan menangis karena sadar bahwa ia sedang melangkah ke awal hidup baru. Banyak pertanyaan dan rasa penasaran berkelebat, membuat pikiran tak menentu, badan panas dingin, dada berdegup kencang. 

Ia bingung bahkan mungkin tidak yakin karena pada saat yang sama kesulitan dan tantangan sedang bergejolak: apakah bisa saling setia, saling membahagiakan, menerima pasangan dengan tulus, bisa masak, bisa punya anak dll.

Tangisan perempuan juga pertanda 'ketakutan akan ketidakpastian'. Ia akan hidup dan tinggal bersama orang baru. Mungkin sudah lama kenal saat pacaran, tapi tetap saja ada ketakutan dan ketidakpastian dalam benaknya. Sementara ia sudah mengizinkan orang baru itu masuk dalam hidupnya. Dirinya bukan sepenuhnya miliknya sendiri lagi.

Ada juga yang menangis saat mengucapkan janji nikah karena merasa perkawinan hanya untuk menyenangkan orang lain atau bisa jadi karena ia dipaksa untuk menikah. Apapun alasannya, tangisan perempuan saat menikah adalah sebuah kerinduan dan harapan untuk menemukan hidup baru yang membahagiakan. 

Sekalipun ada kesedihan karena harus meninggalkan orang tua, kecemasan akan kesulitan dan ketakutan akan masa depan, ia berharap tetap bahagia.

Air mata bisa menjadi sinyal buat suami agar tidak membuat dia menangis lebih parah lagi saat mereka sudah berlayar jauh dalam bahtera perkawinan. Karena suami tidak tahu bagaimana perasaan hati dan gejolak pikiran istri ketika menangis di hari pernikahan.

Oleh: Pater Joseph Pati Mudaj, MSF
×
Berita Terbaru Update