-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menggugat Tuhan

Selasa, 30 Juni 2020 | 20:08 WIB Last Updated 2020-06-30T13:08:46Z
Menggugat Tuhan
Menggugat Tuhan - Ilustrasi: jateng.tribunnews

"Pikka!" Seru Ganna sambil menyentuh bahu Pikka dari belakang. Dalam kekagetan, Pikka menoleh. Ia sangat hafal suara itu, tapi agak ragu dengan wajah pria separuh baya yang menyapanya. "Sudah lupa?" Lanjut Ganna  melihat keheranan Pikka. Ganna tersenyum. Agak lama Pikka menatapnya lalu dia berkata, "Kalau tidak salah ini Ganna ya?". Ganna tertawa sembil meraih tangam Pikka dan berkata, "Apa kareba sangmane?"*  Senyuman lebar tersinggung di bibir Pikka. Mereka berdua berpelukan. Ganna mengajak Pikka ke lantangnya**.

Perjumpaan di Upacara Rambu Solo** Nek Mase, nenek mertuanya Ganna, adalah perjumpaan yang pertama setelah keduanya terpisah sejak tamat SMP. Mereka berdua mengobrol ke sana kemari saling tanya kabar, keluarga, kesibukan harian sambil menikmati kopi Robusta Toraja dan deppa tori serta bade kadong*. 

"Anakku sudah tiga orang, yang pertama kelas 6 SD, kedua kelas 3 SD dan yang bungsu baru selesai TK" kata Pikka menceritakan anak-anaknya. "Tapi sayang hidup mereka tidak sebahagia anak-anak lainnya", lanjutnya. "Memang ada apa?", tanya Ganna penasaran. Sambil menarik napas dalam-dalam Pikka menjawab dengan nada berat,  "Ceritanya panjang". Pikka seperti menerawang jauh. Ganna yang menemukan kegalauan pada wajah Pikka berusaha mengalihkan perhatian,

"Ayo diminum kopinya sebelum dingin". Pikka menyeruput kopinya dengan wajah datar. Ganna merasa tidak enak, ia merasa bersalah seolah-olah telah membangkitkan sesuatu yang tampaknya sangat memilukan dalam hidup Pikka. Ia ingin mendengar cerita Pikka tapi di sisi yang lain ia tidak tega kalau Pikka membongkar kepedihan seperti yang ia duga dari raut wajahnya. Tiba-tiba Pikka melanjutkan, "Ganna...sewaktu kita tamat SMP saya lanjut SMA di Makassar. Prestasi akademikku yang cukup baik menjadi modal bagiku tuk meraih beasiswa kuliah di salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal di Jogjakarta. Aku tidak butuh waktu lama menyelesaikan kuliahku. Bahkan semasa kuliah aku sudah kerja part time di sebuah supermarket". Mengisahkan ini tampak perubahan besar di wajah Pikka. Ia lebih ceria dan bersemangat. Ganna menanggapinya dengan kagum berkata, "Kau hebat Sangmane". Lanjut Pikka, "Itu belum seberapa. Tamat kuliah, saya mengadu nasib di Jakarta. Mula-mula saya kerja di sebuah jasa konsultasi pajak. Penghasilan saya lebih dari cukup. Saya lalu berpikir ada baiknya kalau saya mencoba membuat usaha sendiri, saya bisa mengatur hidup saya sendiri. Saya mencoba membuat usaha ekspedisi antar kota. Usaha ini berjalan mulus. Saya bahkan mempekerjakan beberapa anak-anak putus sekolah di kampung ini. Dari hasil kerja bersama saya mereka bisa membangun rumah orang tua mereka dan membiayai sekolah adik-adik mereka. Tiga tahun saya bermain antar kota. Relasi kerja saya makin luas. Banyak yang tertarik kerja sama dengan saya.

Seorang pengusaha keturunan India bahkan mengajak saya untuk bermain lebih luas. Eksport-import. Setelah mempertimbangkan matang-matang, saya menerima usulannya. Kami mengembangkan sayap, tidak lagi hanya bermain dalam negeri tapi sudah mulai merambah luar negeri. Awalnya agak berat bersaing dengan pemain lama, tapi lama-lama kami juga bisa. Pekerjaan ini menuntut saya harus sering bepergian ke luar negeri ". Mendengar kisah ini, Ganna sangat kagum. Dia angguk-angguk dan tidak sabar mendengar kisah selanjutnya. Pikka mengambil sebiji kue tori'. Sangat menikmatinya. "Jadi ceritanya sekarang kamu ini pengusaha sukses sangmane". Setelah selesai menikmati kue kecil itu, Pikka melanjutkan kisahnya, "Keadaan ini menempatkan saya sebagai salah seorang yang cukup dikagumi di antara sesama pengusaha muda. Saya sadar sudah waktunya saya harus berkeluarga dan akhirnya saya menikah". Mendengar yang terakhir itu, Ganna langsung menimpali, "Mamanya anak-anak dari mana?" Jawab Pikka, "Dari kampung sebelah. Dari pernikahan inilah kami dikaruniai tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan". "Trus bagaimana usahamu sekarang?" tanya Ganna. "Nah itu dia yang akan saya ceritakan selanjutnya" jawab Pikka. "Setahun setelah menikah saya mulai bergaul dengan beberapa pengusaha atau mungkin lebih tepat saya katakan mafia tambang. Mereka membujuk saya untuk terjun ke dunia tambang. Perhitungan di atas kertas jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan usaha ekspor-imporku. Aku tergiur. Mereka mengajak saya ke beberapa lokasi tambang di Kalimantan dan Sulawesi Tenggara. Memperkenalkan saya dengan pengusaha di lokasi dan para pejabat yang berpengaruh di sana. Sangat menggiurkan. Saya perlahan-lahan meninggalkan usaha lamaku. Tanpa ragu-ragu aku menggelontorkan banyak uang untuk penguasaan lahan dan pengurusan izin".

Pikka mencerikan banyak hal-hal teknis di dunia usaha tambang yang sebenarnya tidak dimengerti sepenuhnya oleh Ganna tapi ia tetap antusias mendengar kisah teman sepermainan masa kecilnya itu. "Inilah awal kehancuran saya", kata Pikka. Ia mengisahkan bagaimana para mafia itu telah memperdayanya sampai dia habis total bahkan berutang. Pikka sampai menjual rumah dan mobilnya lalu mengontrak sebuah rumah kecil. Dalam keadaan demikian ia masih saja tergiur dengan janji-janji manis para mafia tambang serta harapan-harapan palsu yang mereka tiupkan. Ia meminjam dari berbagai bank dan rentenir untuk segera pergi ke lokasi bila para mafia itu mengiming-iminginya peluang kosong. Itu terjadi bertahun-tahun.  Ia hancur total.

Ia memutuskan untuk membawa anak istrinya ke Toraja. Menitipkan mereka pada mertuanya. Ia sendiri akhirnya pergi ke Kalimantan menjadi buruh kasar konstruksi jalan raya selama tujuh bulan. Ini sangat berat baginya. Anak-anaknya harus sekolah, ada kebutuhan rumah tangga. Ia merasa gagal total. Hal ini diperparah lagi dengan kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Ia mengidap penyakit dalam yang cukup serius. Ia tidak boleh lagi kerja keras. Harus banyak istirahat.

Menceritakan semua itu, Pikka sampai meneteskan air mata. Ganna sangat terharu mendengar kisah hidup sahabat karibnya itu. Dia tak menyangka kisahnya setragis itu. Pikka kini masih terlilit utang. Pikka dengan lirih berkata, "Kadang saya protes sama Tuhan. Apa salahku Tuhan sampai aku harus menanggung kepahitan ini? Kalau aku yang bersalah, mengapa anak dan istriku juga menderita karenanya? Aku merasa ditinggalkan Tuhan". Ganna yang sebenarnya ada dalam situasi duka balik menghibur kawannya itu, "Sangmane, Tuhan tidak pernah meninggalkan anakNya. Kita saja yang kadang tidak merasakan dan mengakui kehadiranNya". Dengan nada agak tinggi Pikka langsung meninpali, "Apa kau bilang? Gampang sekali mengatakan saya tidak mengakui kehadiranNya. Saya sudah berusaha, saya berbuat baik kepada orang lain, saya rajin beribadah tapi mana hasilnya? Saya malah makin menderita".

Ganna cukup tersentak mendapat tanggapan yang cukup keras dari Pikka tapi ia berusaha menanggapinya lebih santai. "Maaf sangmane, saya tidak bermaksud menyalahkan dan menghakimimu. Saya hanya mengatakan apa yang aku yakini. Coba lihat lagi, bagaimana mungkin Pikka masih bisa bertahan sampai saat ini dalam keadaan yang sesulit itu kalau hanya kekuatan Pikka sendiri? Coba lihat berapa orang yang telah hadir dalam hidupmu hingga saat ini sebagai penolong? Tuhan mungkin belum menghalau badai ini tapi dia tetap menguatkanmu melewatinya". Ganna yang tadinya lebih banyak mendengar kini lebih banyak berbicara sementara Pikka kini menjadi pendengar. Ganna menceritakan pengalaman hidupnya dan bagaimana ia mengalami kehadiran Tuhan yang menguatkannya serta membantunya melewati kesulitannya. Selanjutnya Ganna berkata, "Saat ini saya sedang membuka cabang usaha di Toraja. Saya butuh orang yang berpengalaman untuk menanganinya. Maukah kau menanganinya?" Setelah bertukar pikiran agak lama akhirnya mereka sepakat cabang usaha itu ditangani Pikka.

Perjumpaan itu telah terjadi tujuh tahun lalu. Kini kehidupan ekonomi Pikka telah pulih. Ia tetap ada dalam kerja sama dengan Ganna. Badai telah berlalu, mereka telah melewatinya.

Keterangan:
* sangmane: kawan
**Lantang: pondok2 yang dibuat dalam bentuk petak-petak dalam upacara rambu solo'
***Rambu solo': rangkaian upacara pemakaman, biasanya berlangsung 3-7 hari
**Deppa tori: semacam kue beras yang dicampur dengan gula merah
**Bade kadong: kue kacang yang dicampur gula merah

Oleh: Celestino cmf
×
Berita Terbaru Update