-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menghargai Keanekaragaman Budaya Bangsa Indonesia; Beda Pendapat itu Sebuah Potensi

Senin, 22 Juni 2020 | 13:53 WIB Last Updated 2020-06-22T06:53:02Z
Menghargai Keanekaragaman Budaya Bangsa Indonesia; Beda Pendapat itu Sebuah Potensi
Menghargai Keanekaragaman Budaya Bangsa Indonesia; Beda Pendapat itu Sebuah Potensi

Menghargai Keanekaragaman Budaya Bangsa Indonesia (2)
(Merespon Ajakan  untuk Menulis Buku Bertajuk :"Merayakan Keragaman" yang diminta oleh koa gaku Syamsudin Kadir)
Oleh Usman D.Ganggang*)
*** Beda Pendapat itu Sebuah Potensi***

Masalah di sekitar kita, kian hari kian bertambah banyak, jumlahnya, hingga tak dapat dihitung dengan jari. Sayang sekali, dalam menuntaskan masalah, terutama dalam forum diskusi atau dalam artikel opini, baik di media cetak maupun di media elektornik, saling kecam mewarnai situasi, dan penyebabnya, dominan, lantaran beda pendapat. Akaibatnya, menghadirkan jarak di antara kita. Dampak lanjutannya, dusta pun hadir di antara para penyampai pendapat.

Boleh jadi, ini berawal dari penyampaian pendapat yang kurang sehat. Artinya, premis [pernyataan yang mendasari sebuah pendapat] kurang objektif, bahkan lebih lanjut hadirkan ‘hoax’ [kabar bohong] diangkat dalam sebuah forum diskusi atau dalam sebuah artikel opini. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa pendapat kita bisa diterima jika didukung oleh sejumlah data atau fakta. Nah, jika terjadi pendapat jangan langsung memberikan kritik pedas. Telitilah, apakah tidak didukungnya premis kita karena sejumlah data atau fakta belum cukup untuk diakui. Iya, fakta riil, membuktikan bahwa, dengan mengantongi berita hoax[berita bohong] dengan serta merta beri kritik. Mestinya, harus menyodorkan sejumlah data objektif, sahih, dan akurat, sehingga premis yang kita angkat dapat dipertanggungjawabkan.

Terkadang juga, meski data yang diangkat dapat dipertanggungjawabkan,tapi malah tidak diterima lawan bicara. Ini, tentu didasarkan pada salah satu sifat dasar manusia yang selalu ingin berkompetisi dengan sesamanya. Iya, ini sebagai salah satu anugerah dari Allah swt, agar manusia bisa selalu survive dan diakui keeksistensiannya oleh sesamanya.

Namun begitu, kata teman penulis, dalam semangat berkompetisi tersebut kerap terjadi, di pengaruhi oleh nafsu , untuk mendapatkan ‘lebih’ dari yang dibutuhkannya. Dengan mengutip teori Maslow, teman penulis berujar lebih lanjut, salah satu kebutuhan manusia adalah kebutuhan akan 'aktualisasi diri", di mana kebutuhan ini biasanya timbul apablia manusia telah mampu memenuhi kebutuhan dasarnya terlebih dahulu. “Jadi hubungannya antara ‘nafsu’ dan ‘aktualisasi diri ini yang membuat manusia acap lupa dengan hakikat hubungan dengan manusia lain berupa kasih sayang dan saling melindungi”, urainya sambil menambahkan,”Maka kecam mengecamlah yang selalu hadir dalam sebuah diskusi atau dalam media lainnya”.

Pertanyaan mengganjal,”Mengapa selalu ada perbedaan pendapat dalam keseharian hidup kita?” Dan pertanyaan penting ini perlu diangkat untuk mengetahui akar masalahnya. Haruslah diakui bahwa berbeda pendapat itu sebuah keniscayaan. Semua bisa saja terjadi, sebab setiap orang melihat satu masalah dari sudut pandangnya masing-masing. Sejatinya setiap pendapat yang ada bisa untuk saling melengkapi, sehingga membuat kita dapat melihat secara keseluruhan terhadap satu hal. Dengan demikian, kata teman penulis, akan membuat pandangan dan wawasan kita semakin luas. Itu kalau kita memiliki keluasan hati untuk menerima semua pandangan yang ada dari orang-orang yang berbeda tanpa diskriminasi.

Sayangnya yang terjadi di lapangan, kita cenderung merasa bahwa pendapat atau pandangan kitalah yang paling benar dan baik. Tidak salah. Ini juga merupakan keniscayaan bahwa manusia oleh keegoannya akan merasa dirinya yang paling baik. Yang menjadi salah dan masalah itu adalah karena keegoan diri itu, kita menutupi diri rapat-rapat untuk mau menerima pandangan orang lain.
Bukan itu saja, ungkap teman penulis dalam artikelnya, ujung-jungnya dari perbedaan pendapat itu akhirnya kita akan meremehkan sampai taraf menghina pandangan yang berbeda dengan kita. Timbul arogansi. Pokoknya pendapat saya ini yang paling benar. Saya ini lebih pintar dan berpengalaman. Kamu itu tahu apa? Kamu itu bodoh dan belum ada pengalaman sebanyak saya. Saya sudah kenyang makan asam garam. Kamu tidak usah sok tahu mengajari saya. Apalagi pendapat yang kita kemukakan sudah terkontaminasi oleh kepentingan tertentu. “Akibatnya kita menjadi gelap mata bermain-,main dengan logika pembenaran untuk menjelaskan bahwa pendapat kita pasti benar”, urai teman penulis dalam artikelnya.

Nah, ketika beda pendapat itu, muncul, mestikah kita tidak menerima pendapat orang lain? Tentu jawabannya, bergantung pada situasi dan kondisi. Pasalnya, fakta riil juga, yang kita temui di lapangan, ada yang menerima kritik, tapi banyak pula orang gemar mengkritik tapi jarang ada yang rela mau dikritik. Mengapa kita mengikuti gaya kepiting, menggigit orang boleh, tetapi ketika orang lain menggigit kita, malah kita lari.

Konkretnya, perlu dicermati lagi, bagaimana enaknya berpendapat dalam suatu forum atau dalam sebuah artikel opini. Padahal kalau dicermati saksama, beda itu sebuah potensi yang mengagumkan. Sayang sekali, makna beda itu ditafsirkan salah baik oleh komunikator maupun oleh komunikan.Iya, mengapa dipersoalkan? Bukankah beda itu, terkait dengan cara pandang terhadap sebuah masalah?
Tentulah, ada yang memandang masalah dari atas ke bawah, ada pula yang melihatnya dari bawah ke atas. Atau ada yang mencermatinya dari depan ke belakang dan dari belakang ke depan. Bahkan dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri, dsbg-nya. Sementara potensi, merupakan kemampuan terpendam yang masih perlu untuk dikembangkan. Maka kembangkanlah potensi terpendam yang ada seperti potensi berpikir dan potensi fisik yang ada pada setiap individu untuk menuntaskan masalah yang ada.

Bagaimanapun sasaran kita sama, agar masalah yang ada dipecahkan tanpa ada masalah dalam menuju sebuah kesepakatan.Artinya, kesepakatan yang ada, merupakan kesepakatan bersama. Untuk itu pulalah, dibutuhkan pencermatan dalam kebersamaan ini. Pasalnya, ada kebersamaan semu dan ada pula kebersamaan sejati.

Tentu, kita tidak berharap hadirnya kebersamaan semu dalam menuntaskan masalah. Pasalnya, ujungnya nanti ada pengkhianatan terjadi. Karena itu, kebersamaan yang diharapkan adalah kebersamaan sejati. Mengapa? Kebersamaan sejati merupakan nyanian harmonis antara fakta dan tanggung jawab.Fakta yang diharapkan adalah fakta yang objetif, sahih, dan akurat.Sementara tanggung jawab, sebuah kerja keras untuk tidak mengkhianati sesama.

Oleh karena itu, dalam menuntaskan masalah, mari kita berpikir positif dan berhentilah menimbun kebencian! Berbagai blunder yang dilakukan oleh oknum-oknum belakangan ini setidaknya berdampak negatif, karena ujungnya akan menimbun sejumlah kebencian yang mendalam. Iya mengapa kita tidak saling mendukung? Mengapa kita tidak menjaga stabilitas dan harmoni Nasional? Bukankah kita sebagai anak bangsa, sejatinya, saling mendukung dan mendoakan?

Menghadirkan kebenian dan dendam kesumat,dalam memecahkan masalah malah menambah masalah. Itu artinya menggali kubur bagi diri sendiri. Apalagi kalau dicermati seperti di kota-kota besar, saat ini, sudah tidak pernah berpikir lagi untuk membangun areal pekuburan. Orang-orang hanya mau membangun toko besar dan kantor perusahaan. Dan ini dia, membangun kerja sama, dijauhkan, ibarat tungku jauh dari api. Kalau pun ada api tapi apinya adalah "API NAFSU BERSAKWASANGKA".

Sebagai warga Negara yang baik, , tentulah kita harus saling membahu dalam membangun sesuatu. Bukan malah menghadirkan blunder yang ujungnya bakal menimbun kebencian dan dendam kesumat. Berhati-hatilah dengan jebakan yang dibangun oleh oknum-oknum yang berusaha menenggelamkan kita. Mari kita membangun negeri ini dengan rasa persaudaraan dan berhentilah menimbun kebencian!***]

*) Penulis kelahiran Bambor -Kempo Kab.Manggarai Barat-NTT dan kini sdh berdomisili di Kota Kesultanan Bima NTB.
×
Berita Terbaru Update