-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENULIS DI AKUN FACEBOOK LAGI

Jumat, 05 Juni 2020 | 11:33 WIB Last Updated 2020-06-05T04:33:33Z
MENULIS DI AKUN FACEBOOK LAGI
Ilustrasi: google

Sudah agak lama saya tak menggauli akun ini secara intim dan intensif. Grup facebook Guru Mabar, Menulislah (GMM) menjadi 'wadah pengaktualisasian potensi menulis' saya dalam dua bulan terakhir. Hasil permenungan intelektual itu disebarkan dalam wacana yang lebih luas oleh beberapa media daring. Sebagian dari tulisan itu, memang dikirim juga di dinding facebook pribadi ini.

Tetapi, saya merasa 'ada yang hilang' dalam derap perjalanan aktivitas menulis yang berciri 'komunikatif-dialogis'. Pelbagai tulisan yang dikemas dalam sejumlah kanal media daring itu, terkesan kurang hidup sebab dinamika diskursus dialektis tak terlalu nampak.

Selain itu, pilihan tema atau isu yang ditulis dalam grup itu, relatif terbatas pada hal-hal yang bersentuhan dengan profesionalisme sebagai seorang guru. Sesuai dengan nama grup itu, sedapat mungkin para anggotanya berkontribusi dalam meracik tulisan yang bisa menambah horison berpikir dalam mendesain dan mengeksekusi pelbagai skema praksis pendidikan di era digital saat ini.

Sebagian besar energi literasi kami, terkonsentrasi untuk berpartisipasi menghidupkan dinamika dan dialektika literasi dalam kanal virtual itu. Efeknya, saya agak abai dengan sekian banyak isu sosial-politik yang melayang dalam jagat politik lokal kita.

Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan 'pilihan menekuni aktivitas menulis di ruang eksklusif' semacam itu. Hanya saja, saya selalu 'tertantang' untuk coba mengambil bagian dalam setiap diskusi publik di tingkat lokal ini. Tantangan semacam ini bisa menjadi 'suplemen' soal hadirnya inspirasi dalam meracik sebuah tulisan. Jika kita terlibat dalam mendiskusikan aneka problematika itu, tentu kita tidak kekurangan stok ilham atau inspirasi dalam menulis.

Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa 'kompetensi membaca realitas' juga menjadi elemen kunci memproduksi gagasan bermutu dalam sebuah artikel opini. Tulisan yang 'berisi' itu adalah tulisan yang dirangkai berdasarkan pembacaan yang akurat dan komprehensif akan kontur realitas yang digumuli. Jadi, tulisan itu tidak bisa dikonstruksi berdasarkan pengaktifan daya bayang dan fakultas mental semata.

Oleh sebab itu, tradisi 'merangkai status di dinding facebook pribadi' coba dihidupkan kembali. Dinding ini tetap menjadi 'wadah yang spesial' bagi saya. Tetap disadari bahwa saya bisa 'tampil seperti sekarang ini', tentu saja tidak terlepas dari 'jasa akun ini' yang setia mengundang saya untuk mencumbuinya secara lebih mesrah. Kemesrahan yang sempat hilang itu, coba dirajut kembali.

Oleh: Silvester Joni
×
Berita Terbaru Update