-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menyesuaikan Diri dengan Dunia Tanpa Melihat Senyum

Minggu, 28 Juni 2020 | 00:03 WIB Last Updated 2020-06-27T17:03:23Z
Menyesuaikan Diri dengan Dunia Tanpa Melihat Senyum
Ilustrasi: timesindonesia

Saya tahu ini terkesan melodramatik. Mengatakan bahwa kita hidup di "dunia tanpa senyum." Semoga, kita semua masih tersenyum. Setiap senyuman, betapa pun halusnya, adalah tanda penerimaan sosial. Senyum menciptakan kepercayaan dan menunjukkan kesediaan untuk bekerja sama. Senyum menjadi aset yang kuat ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Senyum merupakan salah satu sumber informasi emosional terkaya.

Namun posisi senyum kita sekarang mengalami apa yang disebut SHIFT atau pergesaran. Senyum harus rela berpindah tempat untuk berdamai dengan si Covid 19. Ajaib. Senyum kembali terdegradasi ke ruang privat. Senyum zaman Covid 19 diproduksi di balik lapisan kain atau di balik pintu tertutup.
Dua hari yang lalu saya berjalan menyusuri lorong-lorong toko di Caloocan, Filipina untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi. Saya tidak bisa menunjukkan senyum manis kendati saya menyapa dengan sopan sembari mengatakan,“Hai" atau "Hello" kepada orang yang saya kenal. Jawabannya pasti sudah bisa ditebak. Covid 19 menyuruh saya dan kita semua tersenyum di balik masker wajah.
Kita tidak lagi melihat bibir ketat orang yang menunggu di belakang kita saat antri. Kita tidak melihat "O" terkejut dari seseorang di dekat kita. Dan tentu saja tidak melihat senyum itu sendiri. Padahal emosi itu dibaca dari seluruh wajah, khususnya pada mulut, terutama ketika menyangkut emosi positif.

Kita harus akui Covid 19 mampu mendobrak sejarah senyum yang tadinya dari PRIVAT menuju PUBLIK. Sebab sejarah pernah mencatat, tersenyum adalah perilaku kelas bawah yang tidak sopan.
Kebaktian lama ini berubah di Eropa selama abad ke-18 yang memuncak dalam apa yang oleh sejarawan Colin Jones disebut sebagai "Revolusi Senyum." Saat ini kita harus puas dengan keputusan bahwa Covid 19 memaksa menduduki senyum kembali ke ruang PRIVATnya. Semoga kita puas.

Oleh: Garsa Bambang, MSF
×
Berita Terbaru Update