-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MINANGKABAU HARI-HARI INI: Antara Keelokan Berbudaya dan Kekasaran dalam Beragama

Rabu, 10 Juni 2020 | 11:17 WIB Last Updated 2020-06-10T04:17:34Z
MINANGKABAU HARI-HARI INI: Antara Keelokan Berbudaya dan Kekasaran dalam Beragama
Gubernur Sumbar Irwan Prayitno

Sebelumnya aku sudah siap jika nanti karena tulisanku ini, aku malah dituduh rasis dan didebat oleh orang-orang minang. Intinya aku hanya ingin menuliskan tentang kekagumanku dan secuil kekecewaanku atas Minangkabau hari-hari ini.

Sebagai Non Minang, aku begitu mengagumi keelokan permainan silek (silat) yang dimiliki oleh suku Minang di Padang, Sumatera Barat, terlebih-lebih dengan permainan senjata kerambitnya yang begitu memukau dan mematikan. Dan entah aku secara pribadi juga serasa punya ikatan batin yang kuat dengan sosok pandeka (pendekar) minang abad 19-an yang bernama "Datuk Rajo Batuah", yang merupakan guru dari Eyang Suro/Ki Ngabehi Surodwiryo, pencipta aliran silat Setia-Hati.

Sedang dari sisi intelektual, aku pun juga mengagumi para intelektualis dan sastrawan asal minang, seperti Tan Malaka, H Agus Salim, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Sutan Takdir Ali Syahbana, Amir Hamzah, Chairil Anwar (mereka semua adalah sosok-sosok jenius yang dikagumi dunia, yang menggunakan segala kejeniusannya untuk kemanusiaan dan bukan untuk egoisme kekuasaan).

Bahkan secara umum aku pun juga menyukai segala pernak-pernik kebudayaan minang, seperti keindahan baju, musik, dan tarian tradisionalnya, masakan-masakan khasnya, keramahan orangnya, jiwa perantau yang adaptif dan ulet, serta sistem kebudayaan matrilineal yang cenderung memberi penghormatan yang tinggi pada perempuan. Tapi entah kenapa ada satu hal, satu hal mencolok yang membuat pandangan mataku tentang minang seketika menjadi begitu buram dan perih.

Berkaitan dengan toleransi dan kerukunan beragama, para anak turun dari umat agama sinkretik “Syiwa Buddha” di bekas kerajaan Dharmasraya ini, seakan terputus dan amnesia total dari sejarah tentang kearifan para leluhurnya. 

Dua tahun terakhir ini saja, sudah berapa kali viralnya kasus tak sedap berkaitan dengan intoleransi beragama dari ranah minang? Kenapa orang-orang terhormat disana yang dipercaya sebagai pengampu kebijakan, kok malah bisa seringkali tidak bijak sama sekali dalam melontarkan dan mengesahkan kebijakan? Sudah berapa kali atas nama kekuasaan dan tameng mayoritas mereka menindas minoritas-minoritas keagamaan yang ringkih? Sudah berapa kali atas alibi kepongahah menjaga iman, gereja-gereja ditutup dan ibadah-ibadah umat Kristiani dihalang-halangi?
Dan tentunya yang paling menggelikan adalah berita yang santer akhir-akhir ini, tentang kediktatoran yang maha tidak waras dari gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, yang memerintahkan penghapusan aplikasi injil berbahasa Minang.

Sampai saat ini aku masih terheran-heran dan tidak habis pikir, kenapa orang dengan mental sekanak-kanak dan setidakwaras ini bisa memimpin daerah yang penuh dengan keindahan cakrawala budayanya. Juga dari situ ada pertanyaan besar yang menggelantung dalam pikiranku, jika orang pongah ini dulu bisa berhasil memenangkan pilgub Sumbar, apakah berarti mayoritas yang memilihnya (orang-orang minang saat ini) pun juga bermental sama, sama-sama pongah terhadap perbedaan? Apakah benar kini Padang, Sumatera Barat, tanah para pandeka silek yang kukagumi itu, sudah tidak ramah lagi bagi orang-orang dengan identitas yang berbeda?

Kenapa sikap puritan dan kekolotannya dalam beragama seakan-seakan malah melebihi kepuritan dan kekolotan negeri wahabi Arab Saudi? Sampai-sampai terlontar kepicikan pedas yang berbunyi "Urang Minang ba Agamo Islam, Ndak Ba Agamo Islam lah Tabuang di Adat Minang Kabau" (Orang Minang beragama Islam, Tidak beragama Islam terbuang dari adat Minangkabau).

Untuk orang waras yang hidup di negeri bersemboyan bhinneka tunggal ika, bukankah hal itu jelas terbaca sangat maha jumawa dan begitu angkuh menolak pluralitas yang sudah menjadi kehendak dari Yang Maha Agung yang memberi warna pada pelangi?

Sewahabi-wahabinya orang Arab Saudi saja tidak pernah klaim dan penyerobotan sepihak atas kebudayaan Arab, tidak pernah sekalipun mereka mencabut status keARABan seseorang karena beragama selain Islam, karena tentunya mereka sadar akan akar historisnya, bahwa arab itu lebih dulu ada daripada agama Islam, dan Islam itu sendiri juga suatu entitas yang berbeda dengan Arab.

Lalu, di tanah Nusantara ini, apakah sebagian orang-orang minang itu malah tidak melek akan akar historisnya, bahwa Minangkabau dengan segala pernak-pernik budayanya (termasuk bahasa) itu sudah ada terlebih dahulu sebelum agama Islam masuk ke tanah minang (meski tentu dalam bentuk yang tidak sama persis).

Lalu, bagaimana bisa mereka klaim dan menyerobot dengan sepihak kebudayaan minang dengan mengastasnamakan Islam?

Bahkan jika dicermati dengan seksama, apakah benar sikap keagamaan sebagian orang-orang minang yang begitu congkak dan diskriminatif pada yang berbeda, seperti yang tampak pada gubernurnya itu, benar telah merefleksikan ajaran Islam?

Kukira kita semua bisa menjawab dengan lugas, bahwasanya itu sama sekali tidak merefleksikan ajaran Islam, Sama sekali TIDAK !

Bukankah jauh-jauh abad sebelum Pramoedya Ananta Toer, sastrawan keren dari blora itu mengatakan "seseorang yang terpelajar hendaknya sudah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan".

Ajaran Islam juga sudah lama menandaskan;
"Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena hal itu lebih mendekatkan pada ketakwaan" (Quran Surat Al Ma’idah: 8).

Oleh: Alvian Fachrurrozi Ar-Rumi
×
Berita Terbaru Update