-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

'Nama Impor' dan Kompleks Inferioritas Budaya

Selasa, 09 Juni 2020 | 17:25 WIB Last Updated 2020-06-09T10:25:59Z
'Nama Impor' dan Kompleks Inferioritas Budaya
'Nama Impor' dan Kompleks Inferioritas Budaya - gambar ini hanya sebagai ilustrasi: google

Oleh: Sil Joni*

Bukit mungil nan permai yang terletak di sekitar Kampung Lemes, Desa Macang Tanggar, Manggarai Barat (Mabar), mendadak tenar hari-hari ini. Ketenaran itu tidak hanya berkaitan dengan 'aura estetis dan eksotis' yang menghiasi tubuhnya, tetapi juga keanekaan nama yang diberikan oleh para 'pemujanya'. 

Pembaptisan nama yang variatif itu, menuai polemik yang seru dalam pelbagai kanal diskusi publik baik di jagat maya  maupun dalam dunia kenyataan. Masing-masing pihak coba membentangkan argumentasi untuk sekedar menjustifikasi kelogisan di balik pemberian nama kesukaannya. 

Alhasil, sampai detik ini, setidaknya kita mengantongi beberapa nama yang direkomendasikan untuk dijadikan semacam 'label menarik' bagi tempat itu. Pertama, 'Bukit Teletubbies'. Belum ada penjelasan yang komprehensif soal alasan menggunakan nama itu. Tetapi, kuat dugaan bahwa para pengagumnya coba berimajinasi secara kreatif antara latar panorama bukit itu dengan latar tempat dan suasana dari sebuah serial film kartun tahun 1990-an berjudul 'Teletubbies' yang begitu melegenda saat itu. Bahwa ada kemiripan warna pemandangan di antara keduanya. Kita tahu bahwa serial itu berfokus pada kisah empat makluk yang berbeda warna: Thinky winky,   Dipsy, Paa paa, dan Po.

Ternyata, pemandangan yang begitu memesona tersebab oleh kombinasi empat warna elegan yang sebelumnya hanya ada dalam 'layar kaca/lebar', seolah menjelma nyata kini. 'Teletubbies itu hadir dalam wujudnya yang konkret. Kampung Lemes menjadi 'lokus jelmaan' dari keindahan Teletubis yang masih hidup dalam layar memori publik. 

Kedua, 'Bukit Lemes'. Saya kira penjelasannya sangat simpel yaitu karena bukit itu terletak di seputaran Kampung Lemes. Ketiga, 'Bukit Muhammadyah'. Penjelasannya pun sangat sederhana. Bukit itu sudah menjadi 'aset privat' dari sebuah organisasi/perserikatan keagamaan Muhammadyah. Sebagian publik tertarik untuk memakai nama ini dalam usaha 'mempromosikan' keindahan bukit itu di ruang publik.

Tetapi, jauh sebelum 'tiga nama baru itu' dipamerkan di ruang publik, bukit itu sebetulnya bagian yang tak terpisahkan dalam denyut sejarah dan budaya dari masyarakat Lemes khususnya dan Manggarai Barat umumnya. Konon,  warga sekitar lokasi itu menyebutnya 'Golo Buleng' dengan segala kisah mitologis dan legenda di baliknya.

Analisis semantik terhadap 'frase Golo Buleng' sebetulnya,  tidak kalah memukau untuk dijadikan 'branding' ketika dipasarkan ke publik luas. Secara literal, golo berarti gunung atau bukit. Sementara 'buleng' berarti ketiadaan pigmen (albino).    Menurut cerita, 'tondong' atau bukit itu dulu menjadi 'habitat kerbau liar' (Kaba lambar) yang kemungkinan dalam tafsiran saya kebanyakan berwarna 'Buleng' alias tidak berwarna (nggera). Kata 'Buleng' pada nama 'Golo Buleng' boleh jadi dilatari oleh kisah semacam itu. Tentu, hipotesis ini membutuhkan kajian yang lebih mendalam.

Tetapi, sayang sekali 'nama asli' yang sarat dengan nuansa local wisdom itu, tenggelam di tengah kegandrungan kita berkiblat pada 'dunia imajiner' yang dianggap trendy dan mengglobal. Atas nama 'branding, pencitraan dan sejenisnya yang biasa diperagakan dalam pasar pariwisata, kita rela 'menguburkan warisan kelokalan dan lebih menghamba kepada produk impor. Selain itu, atas nama 'kebebasan' sebagai pemilik aset, kita mengamini 'penghilangan nama asli yang sarat dengan nilai historis dan kultural' dan lebih memilih nama yang sesuai 'selera pemilik'.

Maraknya 'penggunaan nama-nama yang rada asing di Labuan Bajo' pada satu sisi, bisa dibaca sebagai ekspresi adaptasi kreatif atas keterhubungan kita dengan dunia global. Tetapi pada sisi yang lain, bisa juga dinilai sebagai sebuah 'ketakberdayaan' menghadapi gempuran budaya asing. Kita terjebak dalam mentalitas 'rendah diri budaya '(kompleks inferioritas budaya) yang begitu akut. Kita kurang percaya diri untuk 'memasarkan' apa yang menjadi khazanah tradisi lokal kita.

Bayangkan, untuk urusan penamaan tempat saja, kita kalah, apalagi untuk menguasai pelbagai aset vital dan strategis dalam kancah industri pariwisata. Kita semakin teralienasi dari lingkungan budaya sendiri. Saya kira, cepat atau lambat kita menjadi manusia yang kehilangan pijakan (disorientasi). Kita begitu gampang 'didikte' oleh orang asing.

Padahal, sebetulnya ada semacam 'titik balik' soal keterpikatan wisatawan pada 'yang bernuansa lokalitas'. Tetapi, entah mengapa justru kita, sebagai 'pemilik warisan kultural itu' mengidap semacam kompleks rendah diri itu. Mengapa tidak berani untuk 'mempromosikan warisan budaya kita kepada dunia? Apakah cerita rakyat dalam bentuk legenda berupa sejarah asal-usul nama sebuah tempat, seperti Golo Buleng tidak punya nilai jual?

Bukit Silvia, Bukit Amelia, Bukit Cinta, dan Bukit Teletubbies memang kedengarannya mewah dan modern. Tetapi, roh kebudayaan kita 'lenyap' dalam nama-nama asing seperti itu. Dominasi 'nama-nama impor untuk tempat-tempat strategis di Mabar, memperlihatkan posisi kita yang kian terdepak ke pinggir. Tragisnya, kita tidak melihat itu sebagai 'bencana budaya lokal' yang mengerikan. Sebaliknya, kita justru merayakan fenomen 'kekalahan diplomasi budaya' itu secara antusias.

Saya kira, sebelum semuanya 'raib', Pemerintah Daerah perlu merespons fenomena ini melalui intervensi  kebijakan yang kreatif. Kita mendorong Pemda untuk menggunakan 'kewenangan politiknya' dalam menyelamatkan warisan budaya lokal dari kepungan industri pariwisata yang berjalan di bawah spirit kapitalisme-neoliberalisme.

*Penulis adalah pemerhati masalah sosial dan politik.
×
Berita Terbaru Update