-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

NARASI KEHIDUPAN : Bakisah Dengan Padre Garin Singan MSF

Jumat, 12 Juni 2020 | 22:42 WIB Last Updated 2020-06-12T15:43:14Z
NARASI KEHIDUPAN : Bakisah Dengan Padre Garin Singan MSF
NARASI KEHIDUPAN : Bakisah Dengan Padre Garin Singan MSF - Ilustrasi: google

Oleh: Pater Tarsy Asmat, MSF

Sore hari ini,  di depan Rumah Musik MSF,  Green House,  kami berkisah tentang kehidupan : Musik menembus sekat keyakinan manusia. 
Bila kehidupan di dunia dibatas sekat-sekat yang diciptakan manusia karena berbagai kepentingannya, musik bisa menembusi dinding-dinding itu.  Musik mengusik orang dan membuat manusia tersentuh oleh nada, melodi dan sair. Orang bisa terurai air mata,  bangkit dari keterpurukan atau tertidur lelap mendengar musik.  

"Suatu hari saya ke pasar,  tiba-tiba seorang anak muslim berteriak diantara kerumunan:  'pastor-pastor!'  Orang-orang merasa heran dan aneh,  bagaimanamungkin anak berkerudung dengan senang dan gembira memanggil pastor?"  Tutur pastor Garin. 

"Demikian juga,  suatu sore,  seorang suami istri muslim,  bersama RT membawa daging kurban ke rumah Green musik. Saya tidak mengenal mereka,  tetapi rupanya keluarga muslim itu memiliki kebiasaan yang unik,  jika mereka memasuki ramadhan atau hari besar islam lainnya seperti Idul Adha,  dengan hati gembira, mereka bernazar atau berniat untuk melakukan tindakan cinta kasih diluar kebiasaan mereka. Berbuat kasih terhadap keluarga itu hal yang wajar dan biasa, tetapi berbuat kasih dengan orang asing itu luar biasa",  cerita Pastor Garin lagi. 

Lukisan-lukisan indah pada dinding Green house yang dilukis sendiri oleh Pater Garin tampak tersenyum menatap kami berkisah kenyataan hidup yang luar biasa.  Seorang Seniman, Yesus berwajah Suku Dayak mengenakan Topi Adat, pada dinding dekat  pintu masuk Green House juga tersenyum, sambil memetik Dawai Sape.  

Saya merasakan sesuatu yang indah. Kalau John Lenon sedang menyanyikan lagu Imagine saya akan mengajaknya ngopi di Green House.  Ia mungkin enggan untuk kembali dan ingin membuat pondok, lalu berkisah dan kemudian ia berkata,  aku tak menyanyikan Imagine lagi.

Ya, hidup dalam kenyataan yang penuh sandiwara ternyata bisa didamaikan dan ditenangkan oleh musik.  Komunikasi yang sulit dan intoleransi yang seringkali membentur dinding kebangsaan dan kehidupan bermasyarakat juga bisa didiamkan dan diteduhkan oleh musik. 
Membenci musik, lagu dan nada berarti kita membenci kedamaian. Sebab hanya musiklah yang mampu menyuarakan dengan baik cinta,  sedih, tertawa,  perbedaan dan berbagai macam peran kehidupan. 

Jika musik tak pernah ada, barangkali kedamaian dan ketenangan juga tak pernah ada dimuka bumi. 
Musik itu tampaknya sederhana, ia akrab dalam kehidupan kita,  ia menyambungkan suaranya dari telinga ke telinga dan dari hati ke hati lalu menentramkan jiwa. 
Rumah musik, Green House, milik kongregasi MSF adalah Rumah Damai dan rumah pemilik cinta dan pewarta kasih di tengah dunia ini.  Green Musik juga sebagai mimbar pewartaan yang universal dan menjangkau banyak kalangan. 

Rumah musik ini dikelola oleh Pastor Garin dan murid beliau tidak hanya katolik, kristen tetapi juga saudara-saudara muslim. Sehingga ia mengalami ternyata dari Green House menjangkau yang tak ia jangkau seperti kata Pendiri MSF : bermisi ke tempat yang jauh.  Jauh bukan hanya geografis dan spaci tetapi jauh barangkali karena sekat yang tebal oleh keyakinan dan sebagainya. 
Itulah kisah kami. Kisah musik dan cintanya yang universal.  Dari Green House,  rumah musik MSF untuk borneo dan untuk yang jauh.  
--------

Sejenak di Rumah Pusat Spiritualitas MSF Kalimantan di Urup, Ampah Kalteng

×
Berita Terbaru Update