-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Nostalgia Gadis Pemilik Gigi Takar (Cerpen Latrino Lele)

Kamis, 25 Juni 2020 | 19:27 WIB Last Updated 2020-06-25T12:34:30Z
Nostalgia Gadis Pemilik Gigi Takar (Cerpen Latrino Lele)
Ilustrasi: google

Oleh: Latrino Lele

Namaku Baron seorang mahasiswa semester akhir di salah satu Universitas di kotaku yang sekarang ini masih berkutat dengan penuh ambisi dalam penyelesaian skripsiku sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana. Aku terlihat begitu lebih sibuk dalam proses pengerjaan skripsi dibandingkan teman seangkatanku. Sejujurnya ini adalah caraku untuk bisa melupakan dan merelakan kepergian Tiara gadis pemilik gigi takar dengan senyuman manis nan ayu untuk dipandang.

Gadis yang pernah dipertemukan Tuhan denganku kala aku sedang berkelana mencari cinta. Belum sempat aku merajut kasih bersama Tiara sampai ke pelaminan. Pada akhirnya ia harus pergi lebih cepat menghadap Sang Khalik empunya kehidupan. Namun begitu sulit untuk aku bisa melupakan Tiara pemilik gigi takar itu.  Dia tampak istimewa bagiku dengan wajah cantiknya, hidung mancungnya, dan senyuman yang disulamkan bibir mungilnya. Sore ini ketika aku sedang asyik menulis cerpen sambil menyeruput kopi hitam khas kampungku yang sungguh aku yakini sebagai perangsang paling mujarab mencairkan pikiran, mengkhayal, berimajinasi, dan akhirnya mampu menerjemahkan rasa menjadi kata-kata romantis dibaluti racikan bumbu filosofis sehingga cerpenku terlihat lebih renyah bagi pembaca.

Ketika aku masih terhanyut dalam keasyikan merangkai kata. Tiba-tiba saja seolah ada angin  yang berusaha membawa semua nostalgia aku dan Tiara entah dari mana secepat kilat ia menghembus sehingga kepalaku penuh sesak akan Wajah cantik Tiara. Dan yang paling aku dambakan senyuman gigi takarnya kini menjalar bak serabut di kepalaku. Selepas deru hantaman nostalgia yang telah memadati kepalaku sekejap membuatku melepaskan pena dan secarik kertas kesayanganku. Aku memutuskan ke taman yang telah menyimpan sejuta kenangan. Seperti dalam mimpi di taman ini aku dikejutkan oleh pancaran bunga melati yang begitu antusias menyambutku. Pohon-pohon seolah merayuku untuk berteduh di bawah naungannya yang syahdu. Seketika itu juga satu per satu kenangan muncul bersama angin sepoi-sepoi basah yang menerpa wajahku. Ini seperti sebuah skenario yang berjalan sesuai yang telah direncanakan. Di taman ini telah padat akan nostalgia aku dan tiara gadis pemilik gigi takar yang harus pergi bersama harapan yang masih menggelantung dalam bingkisan janji.

 Aku dan Tiara telah resmi berpacaran hampir memasuki tiga tahun. Cintaku dan Tiara mungkin telah melebihi luasnya samudra. Berangkat dari latar belakang status sosial yang berbeda bukan menjadi masalah lagi. Tidak diherankan jika telingaku sudah seperti baja menahan cibir dan ocehan orang tua Tiara perihal status sosialku yang sangat tidak layak memiliki Tiara. Terkadang aku merasa bersalah sudah lancang mencintai gadis pemilik gigi takar itu yang aku maksud Tiara. Itulah cinta tidak pernah pandai memandang status sosial kaya atau miskin.

                                                                       ****
Tepat setahun yang lalu ketika hubungan kami baru memasuki tiga tahun resmi berpacaran. Yah... kami begitu bahagia, aku menatap dalam-dalam wajah Tiara yang tengah menebarkan senyum semringah tak kalah manisnya dengan mawar muda kala ia merekah. Kami tidak menyangka masih bertahan sampai saat ini.  Di luar dugaan saat itu juga merupakan awal dari kehancuran hubungan kami. Semua kebahagiaan dan impian-impian yang telah kami lukis bersama harus segera hilang dan lenyap bersama pekatnya malam. Perihal orang tua Tiara yang berikhtiar memindahkan Tiara melanjutkan kuliah di luar negeri dengan intensi agar anak semata wayang mereka harus menjauh dari lelaki sepertiku yang dalam pemahaman mereka tidak memiliki masa depan. Memang aku akui mungkin ini kebodohanku yang telah berani mencintai gadis takar itu tanpa melihat status sosialku yang berasal dari keluarga miskin. Yang membayar uang kuliah saja terpaksa kedua orang tuaku harus pontang-panting mencari pinjaman akhirnya mengutang di koperasi. Hal ini sangat berbeda dengan Tiara gadis pemilik gigi takar yang berasal dari keluarga terpandang dan berada. Tentunya orang tua Tiara sudah memikirkan yang terbaik demi kebahagiaan anaknya.

 Namun bagaimana kalian mempersoalkan perasaan yang tumbuh begitu saja tanpa melihat status sosial kaya atau miskin seperti yang dibanggakan oleh kedua orang tua Tiara. Itu sebuah pertanyaan yang belum aku dapati jejak jawabannya.

“Konyol, bukan? Apakah harta yang mereka dibanggakan itu akan abadi bersamanya, apakah dengan harta yang berlimpah akan menjamin kebahagiaan. Huh kenapa aku jadi sibuk dengan orang lain yang selalu membanggakan hartanya, gerutuku penuh protes”.  Sebenarnya bukan sok sibuk tetapi hanya bentuk ekspresiku terhadap perlakuan dari orang tua Tiara calon mantuku yang mungkin mustahil untuk dapat restu.

Keputusan kedua orang tua Tiara untuk memindahkannya keluar negeri sudah bulat.  Sungguh ini menyiksa hati Tiara karena ia sudah terlanjur mencintaiku. Tiara tidak mau jauh dariku, Ia selalu ingin agar hari-harinya selalu bersamaku seperti kenangan 3 tahun yang kami lewati bersama dengan sabar dan tetap tegar menerima celaan dan hinaan dari orang tua Tiara terhadap hubungan kami. Dan aku tidak pernah menyerah untuk tetap mencintainya. Sampai akhirnya kedua orang tuanya memutuskan Tiara untuk pindah ke luar negeri.

 Sepikiran denganku bagi Tiara kekayaan semata tidak akan menjamin kebahagiaan dan bahkan Ia sangat tidak memedulikannya karena baginya jika kita bisa bahagia dan merasa cocok dengan pasangan kita mengapa tidak melanjutkannya. Perbedaan status sosial aku dan tiara yang boleh dikatakan antara langit dan bumi, tetapi itu bukan menjadi penghalang untuk kami tetap saling mencintai. Namun kehendak orang tuanya tak dapat dibantah lagi olehnya dengan terpaksa Tiara harus mengikuti kemauan orang tuanya untuk pindah ke luar negeri.

Begitu pun dengan aku sebagai lelaki yang sangat mencintai Tiara tentunya aku sangat merasa kehilangan seperti yang dirasakan Tiara, tetapi apalah daya kami tak dapat melawan kehendak orang tuanya. Suatu sore yang cerah seperti biasa aku pergi ke taman yang sudah menjadi kebiasaan aku dan tiara menghabiskan waktu senggang bersama menikmati keindahan di taman. Menikmati kupu-kupu beterbangan bahagia bersama kekasihnya. Menatap para pengunjung yang datang dengan varian ekspresi ada yang tertawa bahagia, ada yang senyum paksa kala blist cannon menyergah wajahnya mungkin biar kelihatan sedang gembira sehingga tidak mengurangi reputasinya di dunia maya seperti facebook, whatsapp, atau instagram yang selalu setia menampung momen-momen manis tuannya, dan bahkan yang mahal senyum pun ada di taman itu. Kadang aku dan Tiara sambil menikmati segala keunikan yang terjadi di taman itu. Kami sembari bercerita perihal hubungan rumit yang sudah dianggap menjadi masalah biasa itu membuat kami tidak terlalu peduli karena kami percaya saling mencintai membuat kami tetap kuat dalam menjalani hubungan. Meskipun hantaman badai penolakan dari orang tua Tiara yang datang bertubi-tubi tidak dapat kami mungkiri.

Namun kali ini aku harus pergi sendirian menyusuri lorong tanpa wajahnya cantik tiara, tanpa senyum khas gigi takarnya yang membuatku tampak istimewa memilikinya. Di taman ini masih tercium aroma kenangan akan kisah-kisah indah yang kami lalui bersama yang mungkin masih melekat pada ranting-ranting pohon di keindahan taman itu. Seminggu sudah tak pernah berjumpa dengan tiara dan kabarnya pun tak kuketahui, rindu yang bercokol dalam benak dan hatiku tampak terlalu berat untukku pendam, hanya di tempat inilah yang dapat aku gapai untuk melunaskan semua hutang riduku pada Tiara. Hari ini suasana di taman itu tampak sepi tidak seperti biasanya banyak pengunjung yang datang seolah-olah tidak mau ketinggalan momen foto-foto kala senja tiba. Dan memang taman ini sangat indah apa lagi di waktu senja tiba kiranya dapat menghipnotis kita untuk selalu kunjungi tempat ini.

“Ah... Mungkin saat ini mereka mengerti tentang tersiksanya hati ini yang akan ditinggal kekasih yang sangat dicintai. Mungkin mereka tidak mau mengganggu dan membiarkan aku untuk sendiri dulu merasakan hangatnya kisah nostalgia, betapa pengertian yah orang-orang di kotaku ini, batinku menduga”.

Ketika aku sedang di alam lamunanku membayangkan kisah indah bersama Tiara orang yang sangat kucintai itu tiba-tiba lamunanku terusik oleh suara parau nan sendu memanggil namaku “ka, panggilnya”, dengan segera aku mencoba membalikkan tubuhku berusaha mencari sosok yang memanggil namaku barusan tak aku sangka ternyata itu Tiara, gadis pemilik gigi takar yang sedang terbayang dalam angan-anganku tadi, gadis yang sedang aku rindukan. Tuhan memang sungguh baik mengetahui isi hatiku saat ini sehingga Dia masih memperkenankan aku untuk bertemu Tiara. Tidak sempat aku berdiri menyambutnya Tiara langsung lari dan memelukku dengan erat seakan tak dapat terpisahkan lagi dan air matanya yang tak dapat dibendung lagi pun berderai membasahi pipinya bak hujan yang sangat merindukan bumi tidak tahu kapan redanya. Ia memampukkan membuka mulutnya yang seolah sudah terkunci oleh sandi karena kerinduan yang semakin menggebu-gebu di dada untuk berbicara “ka aku sangat mencintaimu dan akan tetap mencintaimu meskipun kita jauh nantinya”, nada parau nan sendu itu membuat aku tak kuasa menahan air mata yang telah membendung di pelupuk mataku hendak jatuh tanpa pamit kepada tuannya, tetapi sebagai laki-laki aku berusaha untuk kuat meskipun harus menyangkal kerapuhan hati ini. Aku biarkan ia menangis sejadi-jadinya dalam dekapanku. Aku bisa merasakan denyut jantungnya yang berdegup kencang seolah hendak berbisik  “ka aku tak bisa berpisah denganmu”.

Aku biarkan ia melepaskan segala kerinduannya dan rasa sakit hatinya untuk berpisah begitu pun dengan aku, karena Tiara hendak berangkat besok ke luar negeri. Ini merupakan kesempatan terakhir aku bersamanya menatap matanya, wajahnya yang ayu dan paling istimewa lagi senyuman khas gigi takarnya. Aku tetap mencoba meyakinkannya bahwa aku juga akan tetap mencintainya “Ra.. Aku juga akan tetap mencintaimu walaupun kedua orang tuamu melarang dan juga jarak yang memisahkankah kita nantinya kiranya bukan penghalang, percayalah hatiku akan tetap untukmu, karena bagiku hubungan 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk dijalani. Dengan terus aku membelai rambutnya yang panjang dibiarkan terurai itu. Ia mencoba untuk kuat dengan melepaskan pelukannya yang erat di tubuhku dan berbicara lagi kali ini Ia mencoba mengingatkanku lagi akan kata-kata yang selalu Ia ucap di setiap kali kami menghadapi persoalan, dengan nada serak-serak halus kedengarannya “sayang masih ingatkan dengan apa yang selalu aku katakan ketika kita bertemu yah...masih di sini tempatnya (ia mencoba mengingat-ingat) belum ada sahutan dariku ia pun berbicara “hubungan cinta yang rumit akan memberikan kedalaman rasa cinta yang tak ada batasnya, yakinlah kita mampu melewatinya jika Tuhan berkehendak kita untuk bersatu. Dengan perasaan terharu aku menatap wajah dari perempuan yang aku cintai yang mencoba terlihat kuat meskipun hatinya hancur bak gelas pecah berkeping-keping, karena harus pergi melepaskan orang yang dicintainya. Beberapa jam kemudian setelah menikmati kebersamaan Tiara gadis pemilik gigi takar itu terpaksa harus pergi. Meninggalkan aku sendiri dalam kesunyian yang panjang tanpanya dan begitu pun dengan engkau yang akan pergi dengan hati yang tersiksa. Dalam lubuk hati kita masih menyimpan harapan  besar untuk dapat bertemu lagi untuk memenuhi segala keinginan dan harapan yang telah kita impikan bersama. Yah... kita tampak sangat optimis kala itu.

Tak terasa sudah sebulan aku menjalani hari-hariku hampa tanpamu semenjak senja kala itu engkau menghampiri aku di taman yang masih meringis kesepian. Aku masih teringat jelas wajahmu yang cantik itu penuh dengan air mata tak kuat harus berpisah dengan orang yang dicintai. Dalam hari-hari kesibukanku menjalani hidup tanpamu membuatku semakin rindu akan dirimu. Meskipun kita tidak dapat saling memberi kabar sebagai pelepas rindu, tetapi yang pasti kita tetap percaya akan harapan-harapan yang kita janjikan bersama untuk bisa bersatu lagi nantinya. Namun di luar dugaanku bahwa aku harus menerima kenyataan pahit perihal kita tidak dapat bersatu selamanya setelah mendengar berita duka dari kerabatmu. Tiara gadis cantik pemilik gigi takar itu mengalami kecelakaan maut yang merenggut nyawanya beserta harapan-harapan kita.

Penulis lahir di Bokogo, 09 November 1999. Asal Bokogo, Wolowea Timur. Mahasiswa STFK Ledalero. Sekarang menetap di biara Scalabrinian, Maumere.
×
Berita Terbaru Update