-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PASTI ADA PELANGI SETELAH BADAI BERLALU

Selasa, 30 Juni 2020 | 23:23 WIB Last Updated 2020-06-30T16:23:11Z
PASTI ADA PELANGI SETELAH BADAI BERLALU
Eugen Sardono

Ketika nalar dan hati berpadu untuk merenungkan persoalan Pandemi covid-19 yang menggempur kehidupan manusia, maka akan muncul keinginan, hidup seribu tahun lagi, meminjam ungkapan Chairil Anwar. Pandemi Covid-19 menciptakan badai dalam segala sektor kehidupan; baik politik, ekonomi pendidikan dan sektor lainnya. "Akan ada pelangi setelah badai berlalu," harapan penulis untuk menggambarkan "resesi ekononi, lockdown (PSBB), new normal dan hilangnya pandemi". Dalam kondisi seperti ini, penulis menganut paham optimisme akan harapan. Selagi kita masih bernapas, kita harus tetap berharap. Berharaplah selagi kita masih diberi waktu.

Dari data yang telah dirilis, Pada 9 Juni, World Bank mengoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi 0% dari sebelumnya 2,1% dan 5,1% (9/1/2020). Menteri Keuangan sendiri, setelah merilis data realisasi APBN 2020 per Mei 2020, memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020 akan minus 3,1%. (Bdk. DDTCNews, 17 Juni 2020).

Dari media yang sama, dilaporkan dengan laju pertumbuhan ekonomi kuartal I/2020 yang hanya 2,97%, kalau prediksi Menkeu itu terbukti, berarti pada kuartal II/2020 pertumbuhan ekonomi kita sudah berada pada teritori negatif. Lantas, bagaimana dengan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020? Kalau laju pertumbuhan ekonomi kuartal III negatif, dan ekonomi kita terkontraksi dua kuartal berturut-turut, berarti perekonomian kita masuk ke dalam resesi. Namun, jika berbalik positif, kita selamat dari resesi. Mana lebih besar peluangnya, masuk resesi atau selamat? Badai resesi yang menghantam ekonomi global pun nasional membuat ‘kapal negara Indonesia’ hampir karam, syukur tidak tenggelam.

Masa lockdown merupakan sebuah masa di mana ekonomi Indonesia mengalami resesi (kemerosotan ekonomi) besar-besaran. Roda kehidupan ekonomi tak bisa berjalan normal. Segala aktivitas banyak yang dibekukan. Semua orang harus menerima keadaan untuk tinggal di dalam rumah. Karena semuanya pada pilihan, mau mati atau hidup. Ini agak kesulitan, karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah petani, guru, swasta dan pengusaha. Semua aktivitas dijalankan dari luar rumah. Ketika ada seruan untuk tinggal di dalam rumah akan menjadi asing bagi masyarakat. Setelah lockdown dilanjutkan dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Waktu-waktu sebelum dibuka new normal, orang harus lebih diawasi terus. Hidup dalam koridor atau aturan yang telah disepakati bersama.

Lalu, kembali ke masa new normal. Masa new normal memberi kesempatan bagi masyarakat untuk bekerja dan kembali beraktivitas. Hanya seolah-olah, masyarakat beranggapan bahwa new normal berarti semuanya biasa-biasa saja, padahal harus disadari bahwa tren virus semakin meningkat. Di waktu new normal, saya bersama seorang teman, baru pertama kali setelah sekian bulan tidak pernah minum kopi di Kafe, tepatnya, 29 Juni 2020. Saya dan teman saya menikmati kopi di kafe dan sempat mampir di Indomaret terdekat. Lalu, dalam nada guyon, teman saya berkomentar, “tahukah kamu, bro. Secara tidak sadar kita sudah membantu negara. Saat roda ekonomi dijalankan, di sana kita sebagai masyarakat kecil memberikan sumbangan pajak bagi negara. Di saat toko-toko dan warung-warung kecil dibuka, saat itu juga kita bergotong-royong untuk memberikan pajak”.

Roda Ekonomi dan Pajak

Setiap manusia Indonesia sudah bergotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sadar atau tidak membeli minuman di indomaret saja, seperti kata teman saya, sudah ada pajaknya tersendiri. Di mana ada aktivitas ekonomi dilangsungkan, di sana ada pajak yang diberikan kepada negara. Ekonomi Indonesia yang sebelumnya ‘mati suri’, kini sudah bisa bangkit lagi. Dan, kita mengharapkan saat pandemi berlalu, roda ekonomi kembali normal dan neraca ekonomi negara kembali meningkat.

Dari data yang dilaporkan oleh media DDTCNews baru-baru ini, reli penguatan rupiah berlaku terhadap ringgit Malaysia. Nilai kurs pajak untuk satu pekan ke depan ditetapkan senilai Rp3.323,29 per ringgit Malaysia. Posisi kurs pajak tersebut lebih rendah dari pekan lalu yang berada di level Rp3.398,99 per ringgit Malaysia.

Keperkasaan rupiah juga berlanjut terhadap dolar Singapura. Nilai kurs pajak terhadap mata uang Negeri Merlion ditetapkan senilai Rp10.162,68 per dolar Singapura. Posisi kurs pajak tersebut turun dari minggu lalu yang barada di angka Rp10.430,12 per dolar Singapura. (Bdk. DDTCNews, 10 Juni 2020).

Penulis melihat kenaikan nilai rupiah merupakan sebuh usaha dari pemerintah dengan dibuka kembali aktivitas ekonomi. “Saya pertaruhkan reputasi politik saya,” demikian Presiden Jokowi menyampaikan pidato dalam sidang kabinet Paripurna “kita harus bertanggungjawab terhadap 260 juta penduduk Indonesia”.

Ada bebeapa poin penting yang menjadi tugas ditjen pajak setelah pandemi berlalu
Pertama, aktivitas ekonomi kembali normal. Kiranya resesi ekonomi menjadi sebuah "batu pijakan" bagi pemerintah untuk meningkatkan lagi pendapatan negara. “Suasana dalam tiga bulan ke belakang dan ke depan,” mengutip pernyataan Joko Widodo “ada dalam suasan krisis, kita harus punya sense of crisis”. Satu-satunya cara agar pajak negara kita berjalan lancar dengan membuka kembali roda perekonomian. Dalam satu jam pendapatan negara dari pajak itu sudah berapa? Jika itu diperhitungkan. Bayangkan, ketika semua perusahan, toko-toko besar banyak ditutup. Betapa kehidupan kita menjadi karut-marut.

Kedua, dirjen pajak memberi peringatan keras kepada wajib pajak yang lalai. Hemat penulis, semua orang sepakat dengan apa yang tengah menimpa kita. Ini adalah persoalan besar - yang perlu - ditanggung bersama. Setelah ini, Ditjen pajak perlu mendata ulang siapa-siapa yang sudah memiliki hak untuk membayar pajak. “Sense of crisis”, untuk meminjam ungkapan Presiden Joko Widodo, Ditjen pajak perlu membaca situasi. Situasi ini adalah sebuah pekerjaan rumah pemerintah untuk memulihkan Resesi. Pemerintah (Menteri Keuangan dan Ditjen pajak) tentu perlu bekerja lebih keras lagi, memikirkan untuk memulihkan keadaan yang terpuruk ini. Perlu ada sebuah keberanian untuk membuka banyak lahan perekonomian yang menghasilkan uang.

Kelima, setelah badai berlalu. Rasanya memang memulihkan sesuatu dr sakit yamg hampir mati diperlukan kurun waktu yang lama dan usaha keras. Dunia secara umum, dan Indonesia secara khusus ibarat seseorang yang baru saja bangkit dari sakit-keterpurukan. Badai resesi sedang memukul-remuk kemapanan ekonomi.

Keenam, Ditjen pajak perlu mendata ulang wajib pajak. Selama pandemi, satu-satunya sarana yang digunakan masyarakat adalah melalui online. Pajak paling besar diembankan kepada perusahaan digital. Dalam transaksi jual-beli online marketplace, mencakupi semua lapisan. Sebagian dari pelaku usaha belum tentu memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPNW). Hal ini menjadi tantangan bagi Ditjen pajak agar bisa mendata semua pelaku transaksi. Ditjen pajak perlu bekerja keras. Mendata semua pelaku usaha online marketplace agar bisa menjadi peserta wajib pajak. Begitu banyak hal perlu dilakukan, misalnya pajak reklame. Contoh; reklame kendaraan perlu didata ulang.

Kita sudah dihantam badai. Roda ekonomi juga sudah bisa berfungsi kembali. Sekarang, saatnya semua orang akan bekerja dan memikirkan secara bersama untuk bisa memulihkan kembali keadaan. Negara ini bukan seperti anggur tua dalam kantong baru. Negara ini adalah milik kita bersama. Dengan menerapkan strategi-strategi yang ditelorkan ditjen pajak, maka semoga pajak menjadi gotong royong untuk ke-indonesia-an.

Oleh: Eugen Sardono
Mahasiswa STF Widya Sasana, Malang
(Penulis Buku “Sajak dari Atas Speda”, “Seni Membuka Hikmat dari Lembaran Pengalaman” dan “The Wings of Heart”)
×
Berita Terbaru Update