-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pejuang Negeri, Seorang Pendosa, Penyesalan, Ibu,

Jumat, 26 Juni 2020 | 08:31 WIB Last Updated 2020-06-26T01:31:42Z
Pejuang Negeri, Seorang Pendosa, Penyesalan, Ibu,
Ilustrasi: google

Pejuang Negeri

Tanah meluas menyimpan sejuta sendu
Sejarah menyakitkan dititip para pendiri
Mengenang luka dalam putaran waktu
Dan mengalir darah dalam bait puisi

Ketika teriakan mengguncang dunia
Meroboh semua ilusi-ilusi penindas
Kata merdeka mengalir dari mulut mereka
Membenamkan dengki diatas nada kata

Pejuang mati di telan peluru kerucut
Menyeret semua kehidupan bernaunsa sesat
Air mengalir dari pelopak mata pejuang
Namun sayangnya nyawa mereka melayang

Akankah jasa mereka lukis diatas batu
Menyandar dalam setiap doa-doa kita
Menyebut satu persatu kalimat-kalimat mereka
Secepat mungkin membendung air mata

Seorang Pendosa

Kedipan mata nampak sudah melemah
Mulut di pukul oleh kebisuan
Dan air mata menawarkan untuk jatuh
Ayat sucipun mulai dimaklumkan

Melihat seberkas cahaya dari pancaran surya
Nampak benih- benih dosa mulai menua
Dalam pelukan waktu telah bercabang
Hingga penantian untuk doa telah hilang

Seorang pendosa nampak menitih kerinduan
Memeluk dingin tanpa doa yang menghangatkan
Kata-kata mulai ropos dalam sebuah kitab
Akankah sepulangnya doa membawa kebahagian?

Sorot matanya mulai memudar
Dahang-dahang kasih mulai mati
Cintanya kini di pulang berputar
Setiap siurnya angin membawa dengki

Bolekah Aku Meminjam Rindu?

Bolekah aku meminjam rindu?
Pada segerombolan angin yang menerpa
Melayang dalam jiwa dan menusuk dalam dada
Hingga sepotong kasih mulai melaju

Ada lukisan beralamatkan nama-mu
Mencerai beraikan sesat dalam kasih-mu
Ingin aku meminjam sekali lagi rindu
Menoreh dalam pekatnya malam

Bintang gemintang menyanyi atas cinta
Menepis dosa dalam kalbu
Kata-kata tobat mulai terbaca
Akan ada saatnya semua menua

Bolekah aku meminjam waktumu
Dalam bait kumpulan aksara rindu
Ku baca sekali lagi doa
Melayang dalam putaran senja

Ku Titipkan Sesal

Pada jinganya senja ada murka
Pada petang tunaslah rindu
Namun malam telah datangkan luka
Luka yang kian mengadu

Lambaian angan mengalami kerindangan
Menggantong pada lantunan melodi
Akan ada seberkas cahaya rembulan
Yang datang dari semar-semarnya awan

Ingin aku menarik kembali kata di ucap
Yang nampak mulai ropos dan kusam
Ingin aku belajar namun pikirku belun siap
Dan kini mulutku di lumuri oleh biusnya malam

Penantian amat panjang mulai ku akhiri
Memungut sesal yang tersisia
Aku berlari kecil menghampiri hati
Mengatakan sekali lagi maaf lalu pergi

Ibu

Di matamu tunaslah kasih iba
Rembulan dan cahayanya hinggap dalam jiwamu
Dan ayat suci melambai dan mengutarakan janjinya
Doa cinta hinggap dalam perkataanmu

Setiap ucapan dan langkahmu terterah juang
Hingga saat usiamu semakin petang
Kulit keriput menyelimuti seluruh tubuh yang kaku
Menanda dirimu sudah letih mengoyah waktu

Jemari tangganmu mulai enggan menguncang angin
Sorot matamu nampak bosan memandang angka
Namun ucapan kasihmu tak luntur dalam air mata
Kini ibu nampak tua dalam setiap kelompak  mata

Ibu seribu rindu menggepu dalam puisiku
Tentang janji yang kau rentang begitu jauh
Tentang pesan tak beralamat surga
Hingga engkau menonton angin yang sempat kau guncang

Penulis: Yuan Hadi Setiawan
×
Berita Terbaru Update